Prihatin


Dengan tertatih-tatih Prihatin menyeret kaki kecilnya. Hari sudah beranjak malam dan rasa lapar melilit perutnya  sejak subuh tadi. Hari ini, dia tak dapat pekerjaan karena banyak orang yang jijik dengan koreng di tangannya yang menimbulkan bau tak sedap.

 Prihatin merogoh saku, disana ada uang 500 perak,tak bakalan cukup untuk membeli nasi buat Simbok. Gadis kecil itu menghela nafas berat. 

“Pak…berilah saya sedikit nasi, untuk Simbok saya” katanya lirih di depan sebuah warung nasi. Wajahnya melas menatap si penjual nasi. Dia membuang rasa malu untuk meminta, karena memikirkan Simboknya yang sedang sakit, sedang makanan tak mereka miliki.


 Byur…..Prihatin terkejut dengan siraman air di sekujur tubuhnya. Badannya menggigil kedinginan. “Cuih….dasar pengemis bau,pergi dari sini! Hardik penjual nasi dengan membawa sapu ijuk di tangannya. Anehnya para pembeli disanapun tak punya rasa empati terhadap gadis  cilik itu. 

Dengan perasaan sedih, Prihatin meninggalkan warung nasi,ditahannya semua rasa pilu dihatinya. “Ya Allah,berilah hambamu ini kekuatan”sambil menyeka bulir bulir airmata yang tergenang di sudut matanya. Kemudian dia pergi ke sebuah Masjid yang tak jauh dari situ.

 “Bismillahirromanirrohim”Ia meneguk air kran puas-puas. sampai rasa laparnya hilang. Lalu dia berwudhu, karena waktu sholat isya’akan segera dimulai.

 “hei pengemis,ngapain kamu disini” bentak laki-laki tambun dengan brewok lebat. Tangannya berkacak pinggang melihat Prihatin dengan mata curiga.

 “Saya mau sholat Pak” 

“Alah, bilangnya mau sholat,padahal kamu mencuri kotak amal itu kan, sudah..jangan sholat disini,jijik kami melihatmu” Usirnya bengis. Melihat itu, Prihatin terdiam, hatinya sungguh perih. Ya Allah, begitu hinakah hamba ini, hingga dirumahMU pun hamba tak ditrima.

 “Biarkan anak itu sholat disini”seorang lelaki berbaju koko putih datang membelanya. Wajahnya berseri dan penuh kedamaian.

 “Eh..tapi Pak Ustad…apa kata para jamaah nanti, bila gadis korengan itu sholat disini. Baunya itu lho pak..bikin mual saja” 

“Romli….ini rumah Allah, siapapun boleh sholat disini,apa hakmu melarang dia” lelaki tambun itu kelihatan kesal dengan ceramah Pak Ustad. 

“Tidak apa-apa Pak…biar saya sholat ditempat lain saja” kata Prihatin, ia menarik langkah pergi. 

“Sholatlah disini nak, setelah itu..tunggulah sebentar,bapak ada perlu denganmu” mendengar penuturan Pak Ustad, Romli melengos, diambilnya mukena dan dilemparkannya didepan Prihatin.

 “Pakai tuh mukena, nggak usah dibalikin lagi” pak Ustad hanya bisa menghela nafas, melihat kelakuan kasar Takmirnya. 

Tanpa membantah, Prihatin mengikuti anjuran Pak Ustad. Dia sholat dan berdoa dengan khusyu’. Selesai berdoa dia menunggu  Pak Ustad di emperan masjid. 

Matanya menatap lalu lalang kendaraan di jalan. Hingga di lihatnya sebuah mobil berhenti didepan tempat sampah. Ia memperhatikan seorang anak laki-laki membuang sebuah bungkusan. Bergegas..Ia menghampiri tempat sampah itu, matanya berbinar ketika dilihatnya ada sisa nasi goreng di dalam bungkusan itu. Dengan langkah riang dibawanya tas kresek itu itu,hatinya senang  bisa membawa makanan buat Simbok.

Di depan Masjid, mata Pak Ustad berkaca-kaca melihat Prihatin. Dia ingat anaknya dirumah……

 *** 
Simbok berkali-kali melihat kearah pintu.Pikirannya kalut memikirkan Prihatin yang belum pulang. “Kemana kamu Tin….?” Uhuk…uhuk batuknya semakin parah, sudah dua kali dia memuntahkan darah. Badan tuanya semakin menggigil,nafasnya tersengal-sengal. Tenggorokannya kering, diraihnya gelas yang ada disamping tempat tidurnya. Namun…..tangannya tak sampai. Ia mencoba bangun, dan ….Brukkkkk…badan kurusnya jatuh menimpa meja. 

Dengan senyum ceria, Prihatin menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Tangannya penuh dengan kantong plastic. Pak Ustad tadi membelikannya banyak hadiah termasuk obat dan bubur ayam buat Simbok. Sampai dia lupa, Pak Ustad ikut bersamanya. 

Akan tetapi…langkahnya terhenti,saat melihat banyak orang berkumpul di depan pondok Simbok. Bu Wakidi kala melihat Prihatin,langsung memeluk anak itu.

“Simbokmu nduk” Prihatin berlari, ia tercekat ketika melihat simbok sudah terbujur kaku di  pondok. “Bangun Mbok, Prihatin bawakan bubur ayam buat Simbok”diguncangnya tubuh simboknya, namun simboknya tetap tak bergeming. 

“Istighfar nak, relakan simbokmu pergi” hibur Pak Ustad. Gadis kecil itu tergugu…dunianya hampa.

 *** 

Prihatin, masih terpekur dimakam simbok, airmatanya masih berlinang. Dia masih tak percaya Simbok meninggalkan dia selama-lamanya. Simbok yang selama ini dianggapnya sebagai ibu,neneknya. Konon ayah Prihatin tak suka memiliki anak perempuan, sehingga Prihatin dibuang keselokan. Beruntung simboknya mengetahui. Akhirnya anak itu selamat.

 Sayangnya Bapaknya tahu, dan mengusir mertuanya itu dari rumah. Ibunya yang masih kesakitan karena baru melahirnya hanya bisa menangis tak bisa berbuat apa-apa.

 Menurut kabar, setelah pengusiran Simbok, Ibu Prihatin menuntut cerai, dia lalu pergi menjadi TKW di Malaysia, Hanya sekali ibu datang mengunjungi mereka saat Prihatin berumur 1 tahun setelah itu tak pernah ada kabar  sedang bapaknya kawin lagi dengan pelacur. 

Gadis cilik itu masih bingung, nasibnya sebatang kara sekarang. Akankah dia menerima ajakan Pak Ustad untuk tinggal dirumahnya? Ataukah dia bertahan di pondok kecilnya sendirian.Ditariknya nafas berat.

 *** 

Sepuluh tahun kemudian….. Prihatin tumbuh menjadi seorang gadis cantik,tangguh dan mandiri. Dulu dia menolak ajakan Pak Ustad untuk tinggal dirumahnya. Dengan alasan dia menunggu ibunya pulang. Sebagai gantinya  Pak Ustad mengajak Prihatin membantunya bekerja dirumah makannya setelah pulang sekolah.

 Ditempa kehidupan yang keras, Prihatin bekerja dengan ulet selain otaknyapun cemerlang. Ada saja ide yang dicetusnya, sehingga rumah makan Pak Ustad bertambah ramai. Semua orang senang. Disisi lain Prihatin memiliki keinginan. Dia ingin mandiri, selama ini dia giat menabung supaya bisa membangun warung miliknya sendiri. Pak Ustad tahu,keinginan dia, dengan berat hati ia melepas Prihatin.

 Kini, Prihatin memiliki warung sendiri, namanya “Warung Simbok” sebagai wujud cintanya kepada sang nenek. Bangunannya sederhana tapi memiliki design dan taman yang unik, hingga banyak orang tertarik untuk datang.

Semakin hari pelanggannya bertambah banyak, karena makanan disana enak berikut pelayanan bak restorant bintang lima. Prihatin pintar mengolah rasa masakan, apalagi dia suka membaca. Makanan sederhanapun ditangannya bisa jadi amat menarik. Hari-harinya semakin sibuk.Prihatin keteteran dan belakangan Bu Wakidi dan anaknya ikut membantu Prihatin.

 Tiap hari Jum’at Warungnya  tutup, sebab dia menyediakan makanan gratis  buat kaum lansia,anak-anak jalanan dan yatim piatu. Ternyata pengalaman pahit dulu teramat membekas di hatinya.

 *“Tak lelo lelo lelo ledung,Cep meneng ojo pijer nangis,Anakku sing ayu rupane,Yen nangis ndak ilang ayune.Tak gadang biso urip mulyo,Dadiyo wanito utomo,Ngluhurake asmane wong tuwo,Dadiyo pandekare bongso” nyanyian itu menghentak ingatan Prihatin yang sedang asyik memasak.

 Lantaran penasaran dicarinya suara merdu itu. “Ciluk ba..kekok, hihihi prihatin sudah bangun ya nduk? Ayo sini ibu gendong” perempuan setengah baya itu mengambil boneka bayi,lalu dia menciumnya dengan sayang. Seperti ada ikatan bathin, Ia mendekati perempuan itu. Sayang dia  acuh tak acuh dengan kehadiran Prihatin karena sibuk bermain dengan bonekanya. Kadang ia tertawa, lalu menangis.

 Tiba-tiba perempuan itu memegang tubuh Prihatin kuat-kuat. Ia berteriak teriak. “Simbok….aku pulang, mana Prihatin mbok” hue hue hue…ia menangis keras-keras. Prihatin masih tegang. Dia hanya diam membisu. Orang orang yang sedang makan diwarung membantunya melepaskan diri dari cengkraman perempuan itu.

 *“Oalah Surti..kok jadi ngene kamu nduk,” “Tin….ini Surti nduk….ibu kandungmu”Kata-kata Bu Wakidi membuat bulu kuduk Prihatin merinding. Orang-orang disanapun terkejut.

 “lihat Tin, dia memiliki kalung sama seperti milikmu” Prihatin membuka kalungnya, dalam liontinnya terdapat foto seorang perempuan dan foto bayi. Iapun shock….dan berlalu pergi, meninggalkan perempuan itu yang masih berceloteh tentang bayinya. Ia perlu menenangkan diri. 

Yach..perempuan itu adalah Surti, ibu kandung Prihatin. Yang bekerja sebagai TKW. Ia dipulangkan karena gila setelah diperkosa majikannya. 

  Note: *tak lelo lelo ledung adalah tembang jawa untuk meninabobokan anak. * oalah surti kok ngene kamu nduk (bhs jawa): oalah surti kenapa jadi begini kamu nak ( untuk anak perempuan)

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/fidiawati/prihatin_56cffd37f19673ea0e767404

Comments

Tulisan Beken