Sang Penghamba Kuasa



Tangan tangan kekar membuka paksa kertas surat suara. Suara suara lantang memecah keheningan menyebut satu persatu angka yang tertera. 

Degup jantung lelaki itu terguncang hebat.Ketika satu persatu nomor dibacakan.  Ada sorot mata bahagia,ada sorot mata sedih,ada sorot mata harapan.”Please tolong sebut namaku” pinta lelaki itu.

 Bulir bulir keringat dingin membasahi bajunya.Kakinya bergetar,sorot matanya tajam menatap nanar Papan putih didepannya. Namanya sudah ketinggalan jauh. Gerakan lelaki itu semakin tak nyaman, hingga kursi yang didudukinya berteriak  bernada protes.

 “hei…tenang sedikit bro, tahu tidak aku sudah kepayahan menopang bobot beratmu!” 


Senyumnya yang tadi cerah, dalam sekejap berubah menjadi murka. Matanya merah, Gigi-giginya gemeretak menahan murka. Antek-antek bergincu merangsek ke depan memprotes kekalahan tuannya. Bukannya menghibur tuannya,malah menyulutkan api yang kian lama makin membara. Membuat  lelaki itu semakin berang. 

Kemudian mulut lelaki itu komat-kamit merapal segala mantra yang diberikan oleh Ki Suki, paranormal kondang. Dia berharap Jin Tomang datang mengambil alih keadaan. Sayang seribu sayang Jin Tomang tak mau datang, meskipun mulut lelaki itu sudah benyot kekiri. Lelaki itu melenguh kecewa…

 Lelaki itu semakin pusing tujuh keliling. Dia masih berpikir keras, tak terima dengan kekalahannya. Padahal mahar tinggi sudah diberikan kepada Ki Suki. Kemenyan dan Kembang tujuh rupa juga sudah ditebar, Antek-anteknyapun telah bekerja keras mengedarkan propaganda dan serangan fajar. Dan kenapa sekarang dia kalah??????????????

 “Sudahlah, terimalah kekalahanmu ini dengan legowo” teriak pengunjung di ujung tenda. “kami mau perubahan!!”

 “Woi….apa mau kalian,kami sudah muak dengan drama yang kalian pertontonkan” Teriak pengunjung yang lain.

Mata-mata penuh kegemasan menatap lelaki itu. Tangan lelaki itu mengepal,matanya semakin merah menyala, gemuruh didadanya semakin tak terbendung menahan murka dan rasa kesal.

 Hu hu hu hu….piye to pak….kenapa kita kalah. Malu aku pak nanti sama tetangga. Padahal tenda dan pesta sudah kusiapkan untuk menyambut kemenanganmu. Pecah tangis sang istri. Lelaki itu hanya diam membisu.

 Dia berjalan gontai menuju rumahnya. Diikuti oleh istri dan antek-anteknya. Sepanjang perjalanan mereka tertunduk malu. Suara memabukkan penyanyi organ tunggal terdengar nyaring menghantam dadanya. 

Diedarkannya matanya ke seluruh penjuru rumah. Kursi kursi sudah ditata rapi. Makanan tumpah ruah menunggu sabar untuk dihidangkan.  Lelaki itu terduduk lesu. “ Bune, bubarkan saja pesta ini!” ucapnya kasar sambil membanting pintu kamar. Perempuan gembul itu terdiam, matanya masih sembab karena tangis. 

“ Dasar tak adil, harusnya tak begini” diluar antek-anteknya masih menggerutu. Lelaki itu hanya diam didalam kamar. Merenung, akalnya masih buntu tuk mengurai semuanya. Hanya dari bibirnya terus melafalkan kata“kenapa aku kalah”. 

Ha..ha…ha….lelaki itu lupa pada Sang Pemberi Hidup. Sekuat apapun dia memegang kekuasaan bila Sang Pemberi Hidup tak merestui. Kekuasaan itu akan lepas. Dia tak bisa menggapainya kekalipun keringat darah sudah dia keluarkan. Sayangnya mata hatinya sudah tertutup nafsu dan ego yang tinggi ntah sampai kapan….dia akan menyadari itu.

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/fidiawati/sang-penghamba-kuasa_56c15e2f1bafbdff119387d9

Comments

Tulisan Beken