Harga Diri Seorang Pencari Rongsokan

"Mba..apakah ada barang rongsokan yang mau dijual?"

Pertanyaan lelaki itu membuyarkan konsentrasiku. Lelaki kurus dengan wajah sumringah menatap ke arahku. Aku tersenyum menggeleng.

Tiba-tiba hujan deras sekali, melihat setumpuk kardus diatas sepedanya,kupersilahkan lelaki itu berteduh di Warnet kami.  Sambil menunggu hujan reda, kubuatkan dia segelas teh hangat. Ternyata aku baru tahu, dia masih sedesa denganku. Kemudian meluncurlah cerita yang bagiku sangat menarik sekali sebagai penambah ilmuku.

Pencari rongsokan tangguh


Lelaki itu mulai bercerita, kalau dia menjadi pencari rongsokan sejak tahun 1999. Hebatnya dia tak pernah mencari rongsokan dengan mencari disetiap tong sampah. Dia berkeliling dengan sepeda motor dari rumah ke rumah, menanyakan apakah ada barang rongsokan, kemudian dia membelinya. Karena dia merasa lebih berharga daripada dia berkeliling, mengais di setiap tong sampah.


Sebelum, menjadi pencari rongsokan, lelaki itu pernah merantau ke Lampung dan menjadi Tukang Gigi bersama seorang temannya. Sayangnya dia tak berhasil. Sedangkan temannya menjadi tukang gigi yang berhasil.Dia menjadi orang kaya di desanya. Meskipun begitu lelaki ini tak iri,karena lelaki itu tahu, temannya melakukan pekerjaan yang tak sesuai dengan nurani lelaki itu.

Akhirnya lelaki tersebut pulang ke kampung halaman dan memutuskan tuk menjadi pencari rongsokan serta membiarkan cemoohan temannya.

Dia sadar, dia adalah seoarang bapak dari dua anak perempuan. Dia ingin sekali memberikan rezeki halal buat keluarganya.

"Hidup ini sudah sulit mbak, untuk apa anak saya sekolahin dan diajarin mengaji, bila toh saya memberikan mereka makan dengan uang yang tidak halal.Saya ikhlas dengan pekerjaan saya.Dan syukur alhamdulillah keluarga kami baik-baik saja.Kami cukup makan, istri dan anak saya juga sehat. Sedangkan teman saya, memang dia kaya,tiap lima hari sekali bisa beli seekor sapi. Tetapi ..keluarganya nggak ada yang sehat."

Saya tersenyum menatap wajahnya.

"Ada juga teman yang mengajak saya, berkongsi dengan setan. Dengan cara uang balen. Karena melihat saya masih menjadi seorang pencari rongsokan."

Saya terkejut mendengarnya,mungkin lelaki itu tahu, saya tidak mengerti.

"Apakah mbak tahu apa itu uang balen" tanyanya lagi.
 Saya menggeleng. Lelaki itu menyeruput teh lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Uang balen itu adalah, sejenis pesugihan. Bila kita membelanjakan uang ke warung. Misalnya 100.000 ribu, lantas kita belikan beras dua kilo. Lalu kita dapat uang kembalian 80.000 ribu. Selain itu uang 100.000 ribu tadi akan kembali kepada kita . Kita bisa membelanjakannya lagi sesuka kita, selain kita mendapatkan barang kita juga mendapat uang kembalian alias balen. Begitu seterusnya.

"lantas, bagaimana reaksi bapak? tanya saya hati hati khawatir menyinggung perasaanya.

"Tentu saja saya menolak mba, karena saya takut hidup saya tidak berkah. Kasihan anak dan cucu saya nanti mba" jawabnya lugas.

Penjelasan panjang lebar lelaki itu, membuat saya kaget. Dewasa ini,ketika masyarakat semakin terjepit dengan lemahnya ekonomi. Sedangkan tuntutan hidup semakin tinggi dan pekerjaan masih begitu saja. Tak pelak lagi menjadi seorang rentenir dan bermitra dengan setan adalah jalan pintas menuju kesuksesan yang mulai dilirik orang. Naudzubillah mindzalik!

Semoga kita dilindungi OLEHNYA. Semoga kita tetap di beri jalan petunjuk, kuat iman dan sabar dan menjalani hidup. 

Hujan sudah mulai reda. Lelaki itu pamit kepadaku untuk meneruskan perjalanannya mencari rongsokan. Berkali-kali aku meminta dia berhati hati membawa motornya, melihat barangnya banyak sekali.Lelaki itu menjawab dengan senyum.

"Tenang mba, ini mah sudah biasa"

Yach...ala bisa karena biasa, setenang dia menjalani beratnya hidup di pundaknya. Bathinku. Hatiku di penuhi rasa bahagia,karena aku tahu Allah menggerakkan tukang rongsokan tuk mengajariku apa itu IKHLAS.

Motor lelaki itu melaju pelan, dan hei aku lupa menanyakan siapa namanya. Gludakkkk!!! dasar emak.........


Februari rain
01022016








Comments

Tulisan Beken