Rumput Tetangga Memang Hijau

Selamat pagi sobat Fidia, apa kabarmu hari ini.

Hmm...pagi-pagi tiba tiba saya kok pingin nulis tentang rumput. Apakah gegara saya memberikan hadiah rumput kepada Bobo, kucing saya. Wuidih dia senang sekali lho. hehheheh. Etapi saya nggak mau bicara soal itu, tetapi tentang rumput tetangga yang konon katanya lebih hijau dari rumput kita.

don't compare

Sebenarnya sih, saya pernah menulis soal ini sebelumnya, di blog lama yang sudah saya delete. Namun, sepertinya kali ngomongin soal itu lagi rasanya masih asyik dan amasih bisa dijadikan topik yang panjang lebar,sampai kaki pegel berdiri....hihihiihihih.

Begini nih, Yang namanya hidup berumah tangga dan bertetangga tak seru namanya bila tak ada cerita didalamnya. Karena ada suka dan duka tuk membuat diri kita bertumbuh bijaksana. Seperti ilustrasi dibawah ini.

Si A adalah seorang ibu yang modis, wajahnya cantik.Suaminya pekerjaanya biasa saja. Menariknya si ibu ini suka gonta ganti mobil, belum setahun udah ganti.Pun begitu melihat penampilannya, beuh...hebat tenang euy. Really high maintanance. Pakaiannya bagus bagus,belum lagi bedak dan perawatan kulitnya. Pun mereka sering keluar kota, sambil jepretin makanan yang mereka santap.Secara logika pendapatan suaminya nggak bakalan bisa menuhin semua kebutuhan si ibu ini.


Tetangga kiri kanannya tentulah heran, timbul beragam pertanyaan di benak mereka. Kok bisa ya? gimana mereka atur duitnya? sibapak kerjanya ya begitu, bisnis juga kagak ada. 

Dan ternyata oh ternyata, lambat laun berhembuslah kabar bahwa selama ini kehidupan pasangan tersebut disokong oleh sang Ibu mertua. Sampai sekolah anak, dan les pun si nenek yang bayarin. Oalah gludak!!!!!


Yang namanya wanita, secara nggak sadar acapkali kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. orang lain punya mobil baru iri, orang lain beli rumah baru iri, orang lain bisa beli ini itu iri, orang lain punya suami brondong iri..ups!!!!sono ngikut dah! halah.

Ngomongin soal iri, nggak bakalan habis, semakin iri, rasa itu semakin mencengkeram. Ibarat rasa haus yang tak pernah hilang, terus saja haus padahal sudah minum bergalon galon air. Yang akhirnya membuat diri kita kepayahan.

Rumput tetangga memang lebih hijau, karena kita hanya melihatnya dari jauh. Yang tampak hanya luarnya saja.

Kita tak tahu apakah rumput itu sehat dan subur, atau penuh dengan ulat dan gulma yang menggerogoti rumput itu pelan-pelan.

So...Jalan apa yang bakalan kita tempuh supaya kita tak melihat rumput tetangga lebih hijau?

  1. Pake kaca mata kuda, kalo bisa yang segede gaban biar muka kita ketutup sekalian. Biar sekalian nggak bisa lihat tetangga beli ini itu.
  2. bila cara satu tak berhasil, pake cara dua dengan cara bertemanlah dengan mereka. Sambil mempelajari bagaimana mereka bisa " lebih" menurut pandangan kita. Ambilah bila baik dan tinggalkan bila tak sesuai dengan nurani. Ojo sampe rek, kita menggadaikan harga diri biar sama hebat seperti mereka. 
  3. Bila cara dua tak berhasil. Kita pakai jurus pamungkas yaitu dengan cara , MENSYUKURI SEMUA YANG KITA MILIKI. Punya bibir dhower, Aamiin, punya rumah mewah (mepet sawah) Aamiin, tabungan 200 ribu Aamin. Semua diaminin. 
  4. Setelah langkah ketiga dijalani, kemudian kita cari kesibukan ntah itu menulis, berkebun atau menekuni hobby kalian. Hal ini dapat mengalihkan pikiran untuk "membandingkan"diri kita dengan orang lain.
Hasilnya,bila kita terus bersyukur dengan apa yang kita miliki. Hidup ini jauh lebih tenang. Pekerjaan kita juga akan lebih fokus. Karena kita tak membiarkan otak kita untuk memikirkan hal-hal lain yang tak bermanfaat.

So..tunggu apa lagi.Do it now...oke deh.

Have a nice day then....









Comments

Tulisan Beken