Sekedar catatan

www.pulks.com



Siang itu, mendung tebal masih menggelantung dilangit. Suasana semakin syahdu takkala rinai mulai membasahi tanah. Pepohonan,bunga dan rumput liar bersorak menyambutnya.


Sama sepertiku,Aku suka sekali melihat hujan. Kadangala aku masih membayangkan menari dibawah derasnya air hujan.Seperti  dejavu pada suatu masa. Ah......



Mataku masih terpusat pada burung pipit yang terbang kesana kemari. Sampai aku tak tahu ada tetangga jauh menyapa.


"Bengong aja nih mba" ledeknya
aku hanya tersenyum dan mempersilakan dia duduk. Lama kami tak bersua. 

"Ada yang berubah nih mba"
"sudah lama jadi muallafnya?"
"kapan jadi muallafnya mba, waduh saya senang sekali, apalagi mba sekarang berhijab"
waks...dia memberondongku dengan banyak pertanyaan. Aku hanya tersenyum.

"Saya muslim sejak lahir mba?" jawabku
"masak sih mba, saya pikir mba agamanya Hindu atau Nasrani" katanya lagi.
Gubrakkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!


"Beneran nih mba, waktu saya kesini dulu dan melihat ada hiasan surah Al-waqiah didinding, Saya pikir itu hanya hiasan saja. Karena saya kira mba sekeluarga non muslim". Sekali lagi saya bengong dibuatnya.


Why?????????????????????????????????????????????????????????

Apakah bisa dinalar secara logika bila ada non muslim yang dengan senang hati memajang simbol islam atau bacaan surah yang ada dalam Alquran? Entahlah...karena saya belum pernah melihatnya.

Atau ....

Mungkinkah karena saya tak pernah ke pengajian atau aktif mengikuti kegiatan islam. Lalu, Ibu ini menyangka saya seorang non muslim? ataukah karena kelakuan saya yang begajulan? tiba-tiba saya mikir daleeeeemmmm banget.


Dulu saya rajin kepengajian,tapi saya tak menemukan kedamaian disana. Pengajian dipakai ajang ngrumpi,pilah pilih bila si empunya suka ngasih makanan yang enak banyaklah yang datang, bila nggak,cuma segelintir orang yang datang. Kasihan nggak seh tuan rumahnya, sudah capek siapin tetek bengeknya.



Lalu saya punya ide. Gimana bila diatur. Saat pengajian cukuplah diberi camilan dan minum. Maksudnya biar sikaya dan si miskin sama, dan tak ada ajang "pamer makanan". Dan yang paling penting, saat giliran dapet mereka mau dengan sukarela. Karena selama ini,disaat pertengahan bulan susah banget, jarang ada yang mau rumahnya ketempatan pengajian. Meskipun itu giliran mereka. Ada aja alasan yang dipakai. dari suami lembur,meeting sampai mau kondangan. Tapi kok ya berjamaah dan terus terusan. Saya berpositif thingking, meskipun dalam hati ada question mark.



Ada pro dan kontra. Saya trima itu, namun saya tak trima ketika ada kasak kusuk dibelakang, omongan jadi ditambah-tambahin, jadi santapan orang. Akhirnya Saya lebih memilih mengundurkan diri, karena menurut saya,esensi pengajian sudah bergeser. Bukannya berkumpul untuk mengaji dan belajar ilmu agama, tapi malah ngeributin soal makanan!Hadeh...


Soal pertemanan, saya tak pernah pilah pilih suku, ras ,agama,kaya maupun miskin. Bila sudah klik pasti saya mau berteman dengannya.


Hmm...





Comments

Tulisan Beken