La Donna




Plak!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jamilah membuat badannya terhuyun. Kepalanya mendadak pening. Ada darah disudut bibirnya. Perempuan itu masih mencoba berdiri , memandang lelaki didepannya dengan muak.Ingin rasanya ia memuntahkan semua isi perutnya kekepalanya yang klimis. Namun ia masih bisa menahan diri.


 “Dasar perempuan kampungan, melayani suami saja tak becus. Mana sambalnya! Kamu tahu kan aku tak bisa makan tanpa sambal!” 


Ia Melempar gelas kearah perempuan itu. Untung saja gelas plastik! Selalu saja begini tiap hari,ada saja hal kecil yang tak berkenan dihatinya. Kemarin dibuatkan sambal salah.Katanya dia ingin membuat suaminya diare. Lalu dibuatkan lagi sambal yang tak pedas,eh cobeknya dilempar. Menurut dia sambalnya nggak nendang bila nggak pedas. 

Jamilah diam seribu bahasa.Menjawabpun percuma saja. Ia sudah lelah….lelaki itu tak pernah perduli dengan dirinya dan anak yang ada dalam kandungannya sekarang.  Ternyata sikap diamnya membuat  amarah lelaki itu semakin menjadi. 

Kali ini bukan hanya tamparan saja tetapi juga tendangan yang ia dapatkan. OUGHH!! Iapun jatuh tersungkur sembari memegangi perutnya yang mulai membuncit. Bukannya berhenti lelaki itu makin kalap menghajar Jamilah. Ia sudah pasrah…..apabila ini adalah hari terakhirnya. Pandangannya mulai kabur…dan bruk….ia jatuh tergeletak tak sadarkan diri. Dari balik pintu, putrinya terisak ketakutan melihat ayahnya membabi buta memukul ibunya.

 *** 

“Bangunbu"

sayup sayup terdengar suara anak kecil memanggilnya berulangkali. Pelan-pelan ia membuka mata,tenyata suara anak kecil itu adalah Ambar,putrinya.Gadis cilik itu menangis memeluknya. 

 Ibu tak apa-apa sayang,kamu jangan sedih nak”dikecupnya kening putrinya itu,ia kasihan padanya. Melihat wajah putrinya,semangat Jamilah tumbuh. Ia tak boleh mati oleh keganasan suaminya. Dan membuat anaknya trauma karena sering melihat perlakuan buruk ayahnya. Ambar memberinya segelas air. Lalu ia meneguknya pelan-pelan.

 “Ibu….kita kerumah Mbah Uti saja ya, Ambar nggak mau ayah memukuli ibu lagi,kasihan adek yang didalam” gadis cilik itu mengusap perutnya pelan-pelan. Jamilah terenyuh. Otaknya berpikir keras mencari akal bagaimana melarikan diri. Ia bangkit mencari sesuatu didapur. 

Ia tersenyum ketika membuka bekas kaleng biscuit yang sengaja ia sembunyikan diantara barang-barang dapur untuk mengelabui suaminya. Itu adalah barang rahasianya, disana ia menyembunyikan perhiasan hasil dari tabungan uang sisa belanja. 

Selain perhiasan disitu juga ada fotocopy surat-surat penting, kunci duplikat rumah dan pintu gerbang. Akhir-akhir ini suaminya sering mengunci mereka dari luar. Dengan alasan keamanan. Bah!!!! Keamanan siapa??? 

Cepat-cepak ia memasukkan beberapa baju miliknya dan ambar ke tas kecil. Mereka segera lari keluar sebelum suaminya datang. 

Beruntung mereka mendapatkan Taxi. 

“Tolong antarkan kami Keterminal ya pak” sopir taxi itu mengangguk. Diam-diam sopir itu mengamati wajah Jamilah dari kaca spion didepannya. Pipinya membiru bekas tangan,sedangkan mata kirinya merah. Ia takut untuk bertanya.Instingnya mengatakan dia harus menolong ibu ini. Maka ia melaju Taxinya dengan kencang menembus jalanan ibukota yang padat.

 Jamilah merebahkan kepalanya kekaca mobil. Memperhatikan lalu lalang kendaraan. Ia ingin tidur tapi tak bisa. Ia terus berdoa semoga perjalanan dimudahkan sampai diSurabaya dan berada ditengah –tengah keluarganya. 

Sungguh ia sudah muak dengan segala kebohongannya.Pura-pura hidupnya bahagia. Menutupi kebejatan suaminya yang pandai berakting. Memperlakukan istri dan anaknya bak putri dihadapan orang-orang. 

Sehingga banyak wanita yang takluk dengan rayuan manisnya,karena ingin diperlakukan sama seperti istrinya. Wkwkwkwwkw dasar mereka perempuan dungu. Andai saja mereka tahu. *** Jamilah dan Ambar duduk lesu dibangku didepangku warung nasi. Mereka berdua kecapean setelah perjalanan panjang Jakarta - Surabaya.

 Orang-orang menatap aneh pada mereka.Jamilah memegang perutnya yang semakin melilit,beberapa kali ia merintih kesakitan. 

“Ya Allah…tolong selamatkan bayiku” Ia mengkhawatirkan bayi dalam kandungannya.Ambar kasihan melihat ibunya yang kesakitan. 

 “Ibu yang kuat please”Jamilah menatap lemah…ia merasakan sesuatu menetes dari sela-sela kakinya. Ternyata itu darah! Makin lama makin banyak. Kepala Jamilah pusing..ia sudah tak ingat apa-apa lagi.

 “Eh…tolong..tolong,ada pere hamidah sekong nih” 

teriakan seorang banci menghebohkan orang-orang diterminal. Ambar menangis melihat ibunya digotong beberapa laki-laki ke mobil untuk dibawa kerumah sakit. 

Jamilah masih belum sadar disalah satu ruang rumah sakit Kasih Ibu. Beberapa jam lalu bayinya terpaksa dikeluarkan,sebab ia mengalami pendarahan hebat.

 Sisca,banci yang menolongnya tadi,masih sabar menunggu Jamilah siuman. Ia bersama Ambar. Rupanya gadis kecil itu tertidur dipangkuannya.Wajahnya cantik seperti ibunya. Tak tega  dia meninggalkan mereka berdua tanpa sanak saudara dirumah sakit sendirian. 

Biarlah hari ini dia libur kerja. Tadi Sisca menelpon Dewi, sahabatnya. Supaya membelikan mereka makanan. Mulai tadi dia sibuk mengurus administrasi Jamilah sampai lupa makan.

 *** 

Jamilah…kamu kenapa begini nduk,lihat anakmu ini pak…coba tak kau jodohkan dia dengan Mukti,dia tak bakalan babak belur begini” 

perempuan matang yang wajahnya mirip Jamilah menangis sesenggukan disisi ranjang Jamilah. Sedangkan kedua lelaki yang bersamanya tak bisa menyembunyikan kemarahan. Tangan mereka mengepal dan giginya gemeretak menahan murka. 

Mendengar suara percakapan orang,Ambar terbangun dari tidurnya. Mata gadis cilik berumur 6 tahun itu lucu. Senyumnya ceria ketika tahu siapa yang datang. 

“Mbah Uti, Mbah kung, Om Seno..kapan datang? Ambar kangen”. Melihat Ambar mereka langsung memeluk dan menciuminya. Ambar gelagapan. “Sudah-sudah Mbah, Ambar tak bisa nafas nih”rajuknya

 “Ini siapa sayang”Tanya Mbah Uti matanya melirik kearah Sisca. 

Oh..ini Om….eh tante Sisca. Dia yang menolong Ibu dan Ambar. Tante Sisca juga yang tadi siang menelpon Mbah Uti” 

“Makasih banyak ya nak Sisca sudah menolong anak dan cucu saya,ntah bagaimana nasib mereka bila tak ada nak Sisca”

 Mbah Uti tanpa sungkan memeluk Sisca. Lagi-lagi dia menangis.Sisca tersenyum. 

“Lelaki brengsek!Bu…ijinkan saya ke Jakarta mencari mas Mukti, dia harus bertanggung jawab dengan semua ini!” 

Jangan emosi dulu le,lebih baik kita focus pada kesehatan mbakyumu dulu. Setelah tenang baru kita berpikir selanjutnya”.

 Mbah Kung berusaha menenangkan Seno. 

“Mbah Kung…Ambar tak mau lagi bertemu Ayah. Ambar takut ayah mukulin ibu lagi. Ambar dan ibu tinggal sama mbah kung dan mbah uti saja ya….boleh ya mbah” 

semua tertunduk mendengar kata-kata Ambar. Mbah Kungnya yang dari tadi berusaha tegar, kali ini tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Malu-malu ia menyeka airmatanya. 

Tak ada orangtua yang akan tega melihat anak apalagi cucunya menderita. Melihat itu, Sisca jadi tak enak hati. Dia mencairkan suasana dengan mengajak Ambar jalan jalan dan membeli boneka dibawah. Anak itu menolak, ia ingin menunggu ibunya sadar

 *** 

Kesehatan Jamilah berangsur pulih. Mukti dan keluarganya beberapa kali datang menjenguk dirumah sakit dan kerumahnya. Sayangnya dia tak mau menemui suaminya itu. Wanita itu masih merinding bila mengingat saat dia ditendang dan akhirnya harus kehilangan calon  adik Ambar. 

Cukup sudah derita yang ia rasakan. Ia dan Ambar ingin bebas tanpa perasaan takut lagi. Mukti tak terima dengan keputusan Jamilah yang menuntut cerai. Ia dan keluarganya berusaha keras memakai segala cara agar perceraian itu tak jadi. Tapi dengan adanya bukti-bukti  kuat KDRT pada Jamilah. Membuat Mukti tak bisa berkutik.

Jamilah akhirnya bisa bernafas lega. Tiga bulan setelah perceraiannya. Jamilah ditrima bekerja disebuah Lembaga bantuan hukum. Ia masih tinggal bersama Mbah Kung dan Mbah Uti. Ambar juga senang dengan sekolah barunya. Anak itu lebih ceria sekarang. 

Om Sakuntala, alias Tante Sisca tak lagi jadi banci. Sejak pertemuannya dengan Jamilah dan Ambar membuatnya insyaf dan kembali ke fitrahnya sebagai lelaki. Perubahan ini membuat orangtuanya bahagia. Maklum dia adalah anak satu-satunya. Dengan kelihaiannya Om sakuntala mendirikan wedding organizer berikut catering. Kantor Jamilah sering memesan catering mereka saat mereka ada acara. Pelayanan mereka bagus, alhasil bisnis Om Sakuntala berkembang pesat.

 *** 

Sakuntala jatuh cinta dengan Jamilah pada pandangan pertama. Ia ingin melindungi perempuan dan anaknya itu. Seperti sore ini, dia membawa bunga lili kesukaan Jamilah, Coklat Hersey untuk Ambar dan Martabak manis buat Mbah kung dan Mbah Uti. Semalam dia tak dapat tidur, tak kuat menahan perasan cinta yang dua tahun ini dipendamnya. Akhirnya setelah diskusi dengan ibunya, dia memberanikan diri akan mengutarakan perasaannya pada Jamilah,ditrima atau tidak. Ih daripada dipendam ntar bisulan itu menurut Dewi sahabatnya. 

Ditaman depan, mereka duduk. Jamilah tersenyum geli melihat sikap Om Sakuntala yang tak seperti biasanya. Ia terlihat gugup dan kaku. Gelas minumannya sudah habis sejak tadi. Beberapa kali ia mencoba bicara tapi yang keluar hanya ah..uh..ah..uh saja. Membuat Jamilah tertawa. 

“Ada apa sih mas Kun, kok jadi gugup begitu” Tanya Jamilah geli. Yang ditanya hanya mesem saja

Begini Jum, ehm...ehm..Jamilah".Keronkongan Sakuntala seperti tercekik. Jamilah gemes melihatnya

 "Aku punya kedondong mau nggak? tanya Jamilah jahil. "eh...buat apa" jawab Sakuntala tak mengerti. 

"Buat ngerokin tenggorokan mas" Mereka tertawa terkekeh. Suasana yang tadi kaku, akhirnya mencair.

 "Aku ingin menjadi papanya Ambar” Sakuntala menatap wajah Jamilah lembut. Jamilah tertunduk. Kata-kata Sakuntala membuat dia gugup dan terkejut meskipun dia tahu sejak lama, Sakuntala ada hati dengannya. Tapi..untuk menikah lagi,ah....nyalinya ciut.Trauma itu masih ada. 

“Maafkan aku mas..berikan aku waktu untuk berpikir” 

Sakuntala mengerti.Ia tahu Jamilah menolaknya secara halus. Dibawah sinar rembulan bulan maret…mereka duduk saling diam….dengan pikirannya masing-masing. Biarlah mereka seperti ini,mengikuti apa maunya Tuhan. 


Jember,15 maret 2015 Note 

Pere :Perempuan 

Hamidah: hamil 

Sekong :Sakit

 Nduk:panggilan untuk anak perempuan

Tulisan ini di tulis juga di kompasiana 
http://fiksiana.kompasiana.com/fidiawati/la-donna_56ea3639b89373940a264c14


Comments

Tulisan Beken