Ayahku Seorang Pecandu


Add caption

Lucky menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat. Tadi pagi, dia berjanji akan mengajak Lirih, adik bungsunya membeli tas baru.

Setelah berpamitan pada bosnya, Luckypun mengayuh sepeda ontel tuanya pulang ke pondok. Wajahnya sumringah membayangkan pipi tembem Lirih  memamerkan tas baru padanya.

Tapi..hatinya mendadak gundah, tak ada siapa-siapa di pondok. Bik Sulis,Laras, maupun Lirih.



“Kemanakah mereka gerangan?” keningnya mengeryit mencari jawaban. Lalu Ia menyandarkan kepalanya diatas amben. Semilir angin sore, berhembus sejuk menerpa wajah ganteng Lucky dan membuainya ke alam mimpi.


“Cup” Lucky terkesiap bangun, ketika sebuah kecupan mendarat dipipinya. Ia tersenyum ketika melihat Lirih disampingnya.

“Mas Lucky, Lilih punya tas balu” 

anak perempuan tambun itu berjalan megal megol di depan Lucky bak seorang model.Membuat seisi rumah tertawa terbahak-bahak.
“Tadi..Bu Lurah kesini mas, ngasih sembako, uang 50 ribu dan tas baru buat Lirih”

“Ia mas Lucky, tuh sembakonya masih diatas meja”

 Bik Sulis menimpali. Ia takut, majikannya mengira mereka meminta belas kasihan pada orang lain. Meskipun keadaan mereka boleh dibilang tak mampu.

Lucky mengambil tas kresek warna merah, didalamnya ada beras, gula dan minyak goreng dan sebuah sticker. Lelaki itu terkekeh setelah membaca isinya.

Pilih saya kembali atau anda akan menyesal.


***
Keluarga Lucky

Lucky anak sulung dari keluarga Armand. Dia memiliki 2 adik perempuan. Namanya Laras, masih duduk di bangku SMP kelas 2 dan Lirih yangmasih balita
.
Armand, orangtua Lucky dulunya orang kaya,mereka memiliki perusahaan Tekstil. Namun perusahaan mereka bangkrut setelah ditipu oleh saudara kandungnya.

Tak terbiasa hidup miskin, membuat mereka berontak pada Tuhan. Kemudian iseng mencicipi serbuk putih pemberian seorang kolega di sebuah Klub malam. Akhirnya keterusan, istrinyapun ikut terpengaruh.

Tiap malam mereka berdua kongkow bersama teman-teman baru,dan fly sampai pagi,supaya mereka bisa melupakan semua kerumitan hidup.

Narkoba semakin menjerat mereka berdua.

Kehidupan mereka berjaya lagi, setelah keduanya menjadi bandar narkoba. Tapi…itu tak bertahan lama. Gerak-gerik Armand dan istrinya sudah lama di endus polisi sebagai jaringan narkoba Internasional. Merekapun ditangkap ketika sedang berpesta narkoba disebuah Villa di Puncak.

Lucky dan saudara-saudaranya kembali meneguk duka.

Untungnya Bik Sulis setia mendampingi keluarga itu.


***

Lucky

Hari itu, Aku pulang sekolah dengan hati riang. Ditanganku ada amplop putih dari Kepala Sekolah yang akan kuberikan pada Ayah.

Ku ketuk kamar ayah, tak ada jawaban. Aku lari ke tempat kerja Ibu. Jantungku terkesiap, tubuhku mati rasa,saat melihat Ibu dan Ayah mengiris pergelangan tangannya. Mereka berdua seperti Vampire, mengisap tiap tetes darah ditangannya dengan rakus.
Badan mereka menggigil.

Mereka pemakai dan sekarang lagi sakaw berat.

Aku berlari mencari Bik Sulis. Lirih, adikku badannya gemetar, dan keringat membasahi badannya. Bayi mungil itu menangis kesakitan dalam gendongan Bik Sulis yang hanya bisa menghiburnya. Tangisan Lirih membuatku sedih.


“Ya Allah,apakah Lirih sama seperti ibu sekarang?” Hati Lucky menjerit.

 Ia tahu dari buku yang ia baca, bahwasannya bayi yang ibunya pecandu narboka selama kehamilan turut gelisah ketika harus putus obat.

Kemudian…aku pergi ke kamar Laras. Gadis pintar berkerudung itu sedang curhat dengan Allah. Duduk diatas sajadah. Dipangkuannya ada Alquran yang masih terbuka. Tanggannya sesekali menghapus bulir bulir air mata dipipinya.

Melihat Laras, memberiku kekuatan. Aku harus bisa menjaga dan membahagiakan kedua orangtuaku serta adikku.


***

Laras


Aku menggendong Lirih. Ia tertidur pulas.

Mas Lucky dan Bik Sulis disampingku membaca surah yasin. Kami bertiga menangis di depan pusara Ayah dan Ibu yang mati di depan regu tembak.

Alam ikut menangisi kesedihan kami.

Hidupku hancur. Apalagi Paman dan Bibi kami tak ada yang mau menampung kami bertiga.
Kami seperti pesakitan. Untungnya ada Bik Sulis. Pembantu setia kami,mengajak kami pindah ke pondoknya, di pinggir kota. Rumah sederhana, berdinding bambu dan berlantai tanah. Di situ tak ada listrik,komputer,kulkas apalagi internet.


Aku ingat..sorot mata Mas Lucky terlihat tegar menggandeng tangan kami berdua memasuki rumah Bik Sulis.


“Sabar ya dik, kita bertiga harus kuat dengan ujian ini” katanya terbata-bata.


Aku kasihan melihat Mas Lucky. Badannya semakin kurus. Ia pontang panting bekerja serabutan disela-sela kuliahnya demi menyambung hidup dan sekolah kami.

Donat jualanku dan Bik Sulis hanya cukup untuk makan. Sesekali kami mendapat uang lebih apabila ada yang pesan kue. Uangnya kata Mas Lucky buat ditabung saja buat biaya sekolah.

Lirih,semakin besar dan ceriwis. Dialah penghibur kami. Ketakutan kami dia akan menyandang cacat akibat ibu pecandu narkoba. Akhirnya luruh. Tubuhnya semakin bongsor untuk ukuran anak seusianya.Padahal makannya hanya berlauk krupuk sambel kadang tempe tahu.


Kemiskinan ternyata tak membuat keimanan kami makin memudar. Justru jiwa kami semakin tersadarkan Allah selalu bersama kami.


Aku juga tak peduli lagi dengan keberadaan Paman dan Bibi. Biarlah mereka dengan kehidupan dan kesibukan mereka sendiri. Mas Lucky mengajarkan kami supaya tak dendam, meskipun aku belum bisa melupakan kejadian buruk itu.

***

Bik Sulis

Aku tak mungkin meninggalkan Mas Lucky, Non Laras dan Non Lirih. Bahkan setelah kedua orangtua mereka meninggal.
Aku ikut membesarkan mereka bertiga seperti darah dagingku sendiri. Meskipun aku bukan ibu kandungnya.
Setelah ditinggal kawin oleh pacarku. Hidupku jadi tak berarti. Aku berniat bunuh diri dengan menabrakkan badan ke mobil yang lewat di jalan. Aku tertabrak mobil Pak Armand yang kebetulan melintas.
Sayangnya kematian belum berpihak kepadaku. Justru Pak Armand dan Bu Armand merawatku dengan baik sekali. Dan menawariku untuk tinggal dirumahnya.
Kegagalan masa lalu, membuatku malas untuk menikah.  Meskipun Bu Armand berusaha menjodohkanku dengan karyawannya, tapi aku menolak secara halus. Aku takut kecewa.
Biarlah kuabdikan hidupku pada Pak Armand sekeluarga.

Epilog

Enam tahun kemudian.

Di sebuah cafeteria, seorang lelaki dengan pakaian perlente memesan nasi uduk kesukaannya. Didepannya ada seorang gadis cantik dan anak perempuan berumur 10 tahunan yang sedang menikmati ice cream coklat.

Mereka rupanya menunggu seseorang disana.

Lelaki perlente itu adalah Lucky. Dia salah satu anak negeri dan menjadi arsitek termahal di negeri Jepang. Kemudian gadis cantik itu adalah Laras. Ia seorang designer muda di majalah Vogue sekarang. Dan anak perempuan itu adalah Lirih. Mereka akan mengajak Bik Sulis untuk tinggal bersama mereka di Jepang.

















































Comments

Tulisan Beken