Iblis Bertopeng Doraemon

ask-vocalronpas.tumblr.com

Aku kembali mendengar desas desus tentang kami. Dadaku bergemuruh menahan murka. Huh...dasar lelaki lebay. Bisanya menghasut ibu-ibu dungu. Aku nyaris berteriak dan memaki namanya. Namun..aku tak mau gegabah dan membuat semuanya jadi kacau.

"Dia sudah kalah telak bu, tapi tetep saja ngotot tak mau mundur,semuanya jadi kacau sekarang" Kang Tisna masygul seraya menyebut Gusti Allah berkali kali. Dia tak mengerti apa maunya Pak Takur dan anteknya terus mengintimidasi warga dan menjelek-jelekkan nama kami, seolah kami yang bersalah. Aku ikutan gemes.


"Wis talah Kang, ora usah mikir, dia tak tahu bahwasannya warga sekarang sudah pinter-pinter. tahu mana yang baik dan jelek" 

"Tapi bune, bagaimana cara kita supaya dia tak mimpin lagi"

" Embuh Kang ...jujur Aku sudah capek mendengar nama dia. Pemimpin diktator ! apa Kang Tisna mau, dijadikan boneka terus sama dia. Kerja capek, eh..setelah itu ditendang setelah kemauannya terpenuhi. Apakah teman seperti itu yang Akang Tisna maui? sekarang biar Gusti Allah yang bekerja, supaya membuat dia sadar Lelaki itu terdiam mencerna kata-kataku. Matanya menerawang, jauhhhhhh sekali.

Aku menyeruput teh yang tak lagi panas.

***

Cuaca awal maret panas sekali. Kencangnya kipas angin tak mampu menurunkan suhu ruangan tempatku bekerja. Bajuku mulai basah dan meninggalkan bau apek diketiak. huff kecut! Membuatku ingin muntah. Beruntung kantorku dilengkapi dengan kamar mandi bagi karyawannya.

Terpaksa aku mandi lagi untuk yang ketiga kalinya. Kusemprotkan parfum beraroma bunga tunjung banyak-banyak. Kawan-kawanku menoleh curiga,jangan-jangan aku lagi janjian sama seseorang karena melihatku  duduk diberanda sambil membaca koran tentang tewasnya penyanyi dangdut yang digigit ular. 

"Kasihan" desisku. Ami berhenti. 

"Siapa Rat" tanya Ami dengan mulut yang masih penuh dengan gorengan tempe yang baru dibelinya di warung depan. 

"Irma Bule" jawabku setengah hati. Ami menatapku dengan tatapan aneh.Biasanya aku orang yang paling heboh bercerita tentang apa saja dan membahasnya panjang lebar.Tapi kali ini aku tak bersemangat. Mengerti aku ingin sendiri, Ami meninggalkanku sendirian.

***

Kuakui, masalah Tuan Takur membetot seluruh energiku. Apalagi Kang Tisna. Dia lebih pendiam sekarang. Tanpa diberitahupun aku tahu dia sangat marah dan kecewa pada Tuan Takur. Orang yang selama ini dia kagumi. Dia bekerja habis-habisan untuknya. Tapi....tanpa tahu persoalannya Tuan Takur mendepaknya dengan keji dan menyebarkan isu-isu sampah soal kami serta memutar balikkan fakta dilapangan.

Politik lokal murahan, memakai cara devide de impera. Aku mulai muak, dan rasanya ingin merobek topeng miliknya.

Topeng yang selama dipakainya, seolah-olah dia doraemon yang baik hati. Padahal sejatinya dia adalah seorang iblis jahat. Yang bisanya hanya menggertak dan mengisap madu rakyatnya. Hih jijik!















Comments

Tulisan Beken