Bramaseno


“Bram…tahu nggak,kamu lelaki paling aneh yang kutemui” Jenni tersenyum seraya menyesap rokok putihnya dalam-dalam dan menghembuskannya kearah wajahku.

Uhuk-uhuk Aku terbatuk,tanganku mengibas-ngibaskan asap rokok didepan wajahku.
“Sial” rutukku.


Perutku mual melihatnya.

“Kenapa aneh?”tanyaku mengalihkan perhatian.
Hampir tiap malam, kamu membookingku. Tapi…tak sekalipun kamu menyentuh tubuhku, justru kamu asyik sendiri mengerjakan tugas-tugas kantor. Apakah aku terlalu jelek untukmu Bram?”
Bram menggeleng. 


Aku hanya ingin membantu kamu” Bram menjawab datar. Dicomotnya satu keping pringles dihadapannya. Jenni seorang gadis cantik. Wajahnya manis mirip Luna Maya dengan badan tinggi semampai. Sayangnya….aku tak ada nafsu padanya.

“Membantu apa?bukankah itu sudah menjadi pekerjaanku menyenangkan lelaki iseng?” Jenni menyingkapkan rambut didahinya.

“Well, bukankah kamu sudah menyenangkanku sekarang. Asal kamu tahu saja aku hanya ingin kamu menemaniku tanpa melakukan sex, that’s all”.

Mata Jenni mengerling kearahku,mencari sesuatu alasan yang memuaskan keingintahuannya. Kemudian Ia tersenyum manis sekali.

“Oke..terserah kamu. By the way trimakasih Bram, kamu sudah menyelamatku hari ini dari laki laki tengik. Jujur,kadang aku lelah bekerja melayani mereka. Tapi…aku perlu uang untuk menghidupi ibu dan adik-adikku ” 

Aku tersenyum kecut tak menanggapi. Meskipun ingin protes. Tapi..itu bukan ranahku mengurusi urusan dia.
Berkali-kali aku menguap,badanku letih sekali setelah seharian meeting bersama client. Tanpa kusuruh Jenni pamit pulang..dan aku kembali sendirian di apartemen.

***

Sinar mentari pagi hangat menyusup dari balik kaca jendela.Mataku masih enggan untuk diajak kompromi. Semalam ibu menelpon. Beliau akan datang bersama ayah dengan penerbangan paling awal.

Nafasku sesak, membayangkan kehadiran Ibu beberapa hari bersamaku. Diriku seperti seekor anak kucing. Duduk menyendiri,dan ibu sibuk mencarikan jodoh buatku.


Bram….apa kamu ingat Laila. Duh sekarang dia sudah jadi dokter,mana cantic lagi”. Sepertinya kamu cocok sama dia deh” 

Aku melihat foto yang dipegang Ibu. Hah, hidungnya pesek gitu masak di bilang cantik.

“Cantik kan?”Tanya ibu lagi. Ku tutup wajahku dengan bantal

Ibu kesal saat aku mengabaikannya.Kemudian ia mengambil foto yang lain lagi.
“Ini Lisa, kuliah di Amerika. Putrinya Om Jiwa” Kupalingkan wajahku kesel.

 Aku tahu Lisa. Kami beberapa kali bertemu. Gadis tipe high class dan manja. Hobinya mengoleksi Tas hermes. Jujur aku ilfill dengan gadis seperti itu.

“Kalau yang ini bagaimana menurutmu?”

“Bu….tolong, jangan jodohkan Bram lagi. Bram sudah lelah!” suaraku sedikit keras pada Ibu.

“Tapi Bram..ibumu ini pingin cucu darimu! Ingat Bram, umurmu semakin hari semakin tua!tidakkah kau suka ada orang yang mengurusmu.Daripada tiap malam kau habiskan uangmu dengan para lonte!” Ibu menatapku tajam.



Ibu terkejut dengan suara kerasku,sesuatu yang tak pernah kulakukan sebelumnya pada beliau.

“Sudahlah bu, jangan paksa Bram terus untuk menuruti kemauanmu!”bentak ayah membelaku.

Pikiranku kacau, lantas kuambil kunci mobil dan melajunya kencang dijalanan. Meninggalkan Ibu sendirian dengan tangis yang tertahan.

Maafkan anak lanangmu bu….”
Setelah itu,berbulan-bulan kami saling diam.

***

Yayi menelponku, Ibu anfal di kamar mandi. Menurut Ayah, semenjak pertengkaran kami. Ibu lebih banyak diam dan sering melewatkan waktu makan.

Malam ini aku menemani Ibu dirumah sakit,bersama adik bungsuku.



Aku menoleh sebentar padanya, dan kembali meneruskan mengetik email. Ada pekerjaan yang harus kudelegasikan pada asistenku.
“Tadi diparkiran aku bertemu Mba Retno,dia nitip salam buat mas”
Seperti disengat aliran listrik 35000 watt. Hatiku gelisah.
“Mba Retno masih cantik seperti dulu” Pikiranku tak focus lagi,membayangkan wajah Retno yang mengisi mimpi malamku.

Dia adalah cinta pertamaku, dan sampai hari ini cinta itu masih kusimpan erat. Aku terlalu naif tuk bisa melepaskannya pergi,meskipun dia sudah menjadi milik orang lain

“Mas Bram, diajak bicara kok jadi ngelamun sih” Yayi sedikit kesal denganku.
“Sana gih, temuin Mba Retno. Dia janda mas, sekarang anaknya dirawat dikamar Cempaka 7. Daripada bengong melulu,capek liatnya”.

Jueder!!! Janda! Yes!!….aku tak sadar berteriak. Membuat Yayi terkekeh.
Mulanya aku ragu, tapi Yayi terus mendesakku. Baiklah…..ini mungkin kesempatan terakhirku.

***

“Mas Bram” setengah terpekik Retno menyambutku dengan ramah. Kakiku serasa kaku,saat mata kami bersiborok untuk pertama kalinya.

Ya Tuhan, ingin sekali aku memeluk dirinya. Mata dan senyum manisnya takkan pernah kulupa. Dialah perempuan yang kuinginkan dalam hidupku, sederhana dan mandiri.

Dikantin Rumah sakit, kami berceloteh panjang lebar dan tertawa bersama mengenang masa masa SMP dulu.

“Ciee…yang lagi bernostalgia”

Tanpa kami sadari,Yayi sudah berada didepan kami.

Tuh kan, sampai lupa sama adiknya. Aku kelaparan nih mas”katanya manja.

Ups….sampai aku lupa!
Dengan tergopoh-gopoh aku berpamitan pada Retno, setelah sebelumnya meminta no telepon padanya.
Hari-hari  begitu indah rasanya
.
Ibu sudah lebih sehat. Wajahnya tak lagi pucat seperti kemarin. Nafsu makannya juga mulai baik setelah melihatku. Ibu juga lebih manja,maunya bersamaku saja.

“Ibu…lebih enak mana disuapin Yayi apa Mas Bram?”ledek Yayi,ketika melihatku menyuapi Ibu. Ibu hanya tersenyum malu-malu.
“Besok, bawa Retno kemari Bram. Ibu akan masak special buat kalian berdua” Aku dan Yayi terkejut. Kami saling pandang.
Bagaimana Ibu tahu, seminggu ini aku kembali dekat dengan Retno?Kami tak mungkin mengungkap pertemuanku dengan Retno,orang yang dulu teramat dibenci oleh Ibu.

***
Ibu benar-benar berubah. Sikapnya menjadi sangat baik terhadap Retno. Bukan hanya padanya tapi juga pada Gempita,anak Retno. Anak kecil itu menyedot perhatian Ibu dengan segala kelucuannya. Rumah kami yang biasanya sepi,berubah semarak penuh dengan canda dan tawa.

Gempita seperti artis baru dirumah kami. Ibu melimpahinya dengan cinta. Aku sangat bahagia melihat keakraban mereka berdua. Walaupun ada banyak kejanggalan yang kurasakan.

Tumben Ibu jadi lembut,dimana sifat keras kepalanya selama ini. Dulu dia begitu keras menentang hubunganku dengan Retno. Dan sekarang…..berubah 180 derajat. Ada apakah ini? Pertanyaan itu berputar putar terus dikepalaku.

“Bram…..”Aku menghampiri Ibu yang duduk ditaman belakang, memandangi taman mawar miliknya.
Kupeluk Ibu dari belakang,memberinya kecupan. Aku sangat menyayangi Ibu. Perempuan tegar yang kukagumi. Dibalik watak kerasnya. Dia adalah sosok istri dan ibu teladan.

Ibu megusap kepalaku,laiknya seorang anak kecil. 

“Maafkan Ibu Bram, Ibu selama ini egois tak pernah merestui hubunganmu dengan Retno. Ibu merasa menyesal nak membuatmu menderita bertahun-tahun. Menikahlah dengan Retno Bram, Ibu tahu dia wanita pilihanmu yang terbaik” Ada nada sedih yang kutangkap dalam suaranya. Ntahlah,hatiku tiba –tiba terasa begitu berat. Sepertinya Ibu akan pergi jauh sekali.

Tangan ibu yang mulai keriput, kupegang erat. Berkubik-kubik beban dihati lenyap seketika. Senyumku merekah
.
Tetapi……kebahagianku tak berlangsung lama. Ibu terkulai lemah……

***

Diruang ICCU…. Selang bersileweran ditubuh Ibu yang terbaring koma. Selama ini Ibu dan Ayah menutup rapat-rapat rahasia kalau Ibu sedang menderita cancer servik stadium akhir, supaya kami anak-anaknya tak memikirkan penyakitnya. 

Yayi terus menangis didekapan ayah. Paman dan Bibi juga Retno dan Gempita ada disana,melantunkan surah Yasin untuk ibu. 

Nafas Ibu begitu pelan. Tak sanggup kumelihatnya. 

“Bram…..penuhilah permintaan ibumu nak, siapa tahu jalannya lebih mudah setelah melihatmu menikah” Ayah memegang pundakku. Sungguh permintaan yang berat bagiku disaat kondisi Ibu seperti ini.
“Mbak retno….please,kasihan Ibu” Bujuk Yayi…..

“Sekarang semua tergantung padamu Retno, aku memberimu keleluasaan untuk berpikir” Aku tak mau egois mendesak Retno untuk menikah denganku. Dia sudah pernah terluka. 

“Aku setuju pendapat Bapak Mas Bram, marilah kita beri Ibu kebahagiaan. Siapa tahu ada keajaiban untuk Ibu”. Senyum Retno membuat hatiku nyaman melangkah dan membuat keputusan.

Akhirnya….Ibupun pergi dengan tenang setelah aku mengucapkan Ijab kabul.
Selamat jalan Ibu, trimakasih atas restumu.

Jember 07052016


















Comments

Tulisan Beken