Yasmine Dan Perahunya

Deru mesin motor memekikkan telinga. Bunyinya kompreng…preng..preng..preng laksana gantungan ribuan kaleng. Berisik!

Tapi Yasmine tak perduli.

Gadis cilik berambut ikal lebat itu duduk di amben reot sambil memainkan boneka jerami Ia memperhatikan anak –anak sebayanya bermain kelereng di halaman. Kadang Ia tertawa terkekeh sampai ambennya berderit kriet..kriet..kriet.

Yasmine….sini!” Ia menggelengkan kepalanya menolak ajakan Kiki.


Sebenarnya Yasmine pingin bermain kelereng,tapi sebentar lagi Emaknya pulang. Dan Emak akan marah bila melihatnya belum mandi.

Dikejauhan, Emak dan Kakaknya Pandu berjalan beriringan. Mereka baru pulang dari kebun membawa sedikit hasil yang akan Emak jual kepasar esok pagi.

Wajah Emak dan Kakaknya terlihat lelah,ada bekas lumpur di sela sela kaki mereka.

Senyum Jasmine mengembang “ Kak, apakah engkau membawakan sesuatu untukku?”

“Eh..baru datang kok sudah minta oleh-oleh to nduk”Sahut Emak. Lalu Ia membasuh kakinya di sumur.

Kakaknya,Pandu mengeluarkan tas kresek hitam. Mata Yasmine terbelalak ketika membukanya. “Jambu mente!” pekiknya riang. Sudah lama sekali Ia tak memakannya.

Dulu ketika Bapak masih hidup, beliau suka sekali membawakan Yasmine dan Pandu Jambu mente yang banyak tumbuh di sekitar bukit dekat kebun mereka.Rasanya asam bercampur sepat, namun bila beruntung kadang ada yang manis.

Mereka suka memakannya dengan dicocol garam untuk mengurangi rasa asam dan sepatnya. Yang paling Yasmine suka adalah biji Jambu mente. Biji-biji itu akan mereka kumpulkan setelah banyak, baru dibakar. Hmm…rasanya nikmat sekali.

Makan jambu mentenya setelah makan malam ya!” Yasmine menelan ludahnya kembali. Dan menaruh jambu mente yang  sempat digigitnya.


***


Pandu menapaki jalan yang lumayan menanjak.Beberapa kali Ia  berhenti untuk istirahat sejenak untuk minum air yang dibawanya dari rumah.

Cuaca akhir-akhir ini tak bersahabat, panasnya menyengat sekali, dan bisa tiba-tiba turun hujan.membuat orang-orang kewalahan menghadapinya.

Tes

Setitik air menerpa wajah Yasmine,

“Kak…hujan!”

Pegang erat-erat!”perintah Pandu pada Yasmine.

Dia berusaha berlari mencari tempat berteduh,namun kecepatannya tak maksimal karena ada Yasmine yang Ia gendong di punggungnya. Hujan semakin deras, mengaburkan pandangannya.

Bruk!

Kakinya terantuk batu.Pandu tak dapat menyelaraskan keseimbangannya. Iapun terjatuh di jalan berlumpur bersama Yasmine.

“Maafin kecerobohan kakak ya Min”

Bukannya menangis,Yasmine malah tertawa terpingkal-pingkal memperlihatnya gigi kelincinya. “Wkwkwkkwkw…..wajah Kak Pandu lucu!”melihat wajah Pandu penuh lumpur.

Pandu meringis,lututnya luka. Namun rasa sakitnya berangsur lenyap ketika melihat keceriaan adiknya.

“Sakit kak?” Pandu menggeleng.Disekanya lukanya dengan air liurnya. Kata Emak biar lukanya cepat kering.Lalu Ia bangkit dan menggendong Yasmine kembali diatas punggungnya.
Mereka berjalan lambat,meskipun hujan deras mengguyur mereka.

Diam-diam Yasmine menangis,merasa kasihan dengan Kakaknya. Tubuhnya kurus kering tapi kuat membawa Yasmine pulang pergi sekolah diatas punggungnya dan tak pernah mengeluh sedikitpun,meskipun jalan yang mereka lalui teramat buruk.

Ah…andai dia bisa berjalan. Yasmine..melihat kakinya sedih

***

Hari sudah larut..namun mata Yasmine enggan untuk bekerjasama. Pikirannya gelisah mencari tahu bagaimanakah caranya supaya dia bisa berjalan.

Dia menoleh Emak disampingnya. Emak tidur nyenyak sekali.Tangan Yasmine membelai pipi Emak sayang. Ada gurat-gurat halus diwajahnya. Kecantikan Emak tiada memudar walaupun usianya tak lagi muda.

“Yasmine sayang emak” bisiknya halus.

Hhhh…nafasnya berat. Sungguh! Dia tak mungkin selamanya hidup tergantung pada emak dan Pandu,kakaknya. Yasmine ingin mandiri tanpa merepotkan siapapun.

Dia sadar fisiknya cacat, namun tak ingin membuat dirinya terbelenggu oleh rasa tak berdaya dan membuat orang kasihan padanya.

Tidak! Dia tak mau dikasihani!

Emak menggeliat dan terkejut ketika mendapati Yasmine duduk di meja belajarnya.

“Kenapa belum tidur nduk?”

Tanggung  mak”jawabnya halus, lalu Ia melanjutkan menulis sesuatu di bukunya.

Tidurlah dulu nak,esok kamu sekolah kan?”Emak memperhatikan wajah Yasmine. Sepertinya ada yang dirisaukannya.

Yasmine menurut….lalu Emak menggendongnya dan di baringkannya Yasmine disampingnya.

“Ya Allah…Yasmine ingin berjalan” pintanya dalam hati..

***

Tanpa dikomando, teman-teman Yasmine membawa aneka botol bekas yang mereka temukan dijalan. Mereka ingin membantu impian Yasmine.

Yah..sekarang Yasmine membuat kerajinan dari botol bekas lalu disulapnya menjadi mainan anak-anak. Hari-harinya tak lagi sepi.Pandu acapkali membantu Yasmine membuat kerajinan tersebut.

Saat mereka sibuk, sebuah mobil sedan hitam masuk.Suaranya nyaris tak terdengar. Kemudian keluarlah Ibu Ririn bersama dua orang lelaki gagah,pakaian dan rambutnya rapi serta bersepatu pantofel. Seperti Pak Umar, kepala sekolah mereka.

Dari penampilannya mereka seperti orang kota.

“Mak..ada bu Ririn” Pandu mempersilahkan Bu Ririn duduk dan tamunya duduk.Emak yang sedang memasak didapur tergopoh-gopoh menyalami mereka sampai lupa mencuci tangan.
Waduh tangannya bau ikan asin ini bu” Bu Ririn tersenyum geli melihat Emak.

Dari balik korden,Pandu dan Yasmine saling pandang. Tumben sekali Ibu Ririn datang kerumah. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Terdengar isak tangis Emak. Bertambah bingunglah mereka.

Lalu…..

Hidung Yasmine dan Pandu mengendus-endus bau gosong.

“Oalah dalah, permisi dulu pak bu, ikan asin saya gosong”Tanpa memperdulikan tamunya lagi,emak segera kedapur.

Tak berselang lama, Ia kembali menemui tamunya bersama Pandu dan Yasmine.

“Yasmine, Ini Bapak Jaka,beliau yang menemukan suratmu”

Yasmine terperanjat tak percaya.Pak Jaka tersenyum hangat padanya.

 Pandu tak mengerti soal surat. Adiknya tak pernah datang ke kantor. Apalagi kantor posnya jauh di kota. Mana mungkin adiknya bisa datang sendiri kesana untuk mengirim surat.

“Surat apa Min?”tanyanya bingung.

Barulah setelah Bu Rini menjelaskan maksud kedatangan Pak Jaka Ia mengerti. Tak sadar Iapun menangis haru memeluk adiknya. Emak dan bu Rini  juga turut menangis.

“Bapak bawakan Yasmine kaki palsu supaya Yasmine bisa berjalan dan membantu emak dan Pandu” Pak Jaka menggendong Yasmine dan memperlihatkan sepasang kaki palsu untuknya.

Yasmine terisak, Ia masih tak percaya doanya terkabul.

Selain itu pak Jaka membawakannya banyak hadiah untuknya dan  kakaknya.
Semua bersuka cita.

Epilog

Yasmine menunggu emak mencuci disungai,tangannya membawa sebuah mainan perahu dari sabut kelapa. Diatasnya ada botol plastic bekas minuman. Diletakkan sebuah boneka jerami dan surat didalamnya.

Ya Allah…kata emak,  lebih baik aku meminta padamu.
Karena Engkau pasti akan mengabulkan setiap doa hamba-MU
Aku ingin sekali berjalan supaya bisa bantu emak dan kakak.
Tolong kirimlah seorang malaikat buatku….





















Comments

Tulisan Beken