Annisa Dan Bekti # 1






Image result for woman cooking messy kitchen shutterstock
Add caption

Part 1
Masakan Spesial Annisa

Jam tiga sore, Annisa segera menyiapkan makanan untuk berbuka nanti. Tadi, di pasar dia belanja cukup banyak untuk tiga hari kedepan.

“Hari ini, masak cumi asam manis, tempe goreng tepung,krupuk ikan dan oseng buncis,plus es kurut  kelapa.” Dia membaca menu yang sudah disusunnya. Kemudian  menghidupkan computer. Membaca resep cumi asam manis . Annisa ingin memberikan surprise pada Bekti,suaminya tercinta.


 “Alamak….!jahe,daun jeruk dan sereh, lupa kebeli!” Annisa menepok jidatnya. Dan segera berlari kerumah mamanya yang tinggal tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Mamah, punya jahe,daun jeruk dan sereh nggak?” Annisa mengusap keringat di keningnya. Nafasnya ngos-ngosan.

Mamah, memberinya minum.” Coba, diwarung Haji Rosidah,Nis” Annisa segera berlari ke warung Haji Rosidah.

Mata Mamah,bahagia melihat Annisa. Putrinya yang baru sebulan menikah. Sudah mulai berubah. Senyumnya mengembang,membayangkan Annisa antusias belajar memasak. Padahal dia tidak tahu,apa perbedaan merica dan ketumbar,apalagi kencur dan laos.

“Males  Mah! Takut kena minyak”.Jawabnya selalu.”Terus,kapan kamu akan belajar memasak Nis?” tanya Mama,ketika melihat Nisa mencicipi masakannya.

Mamah,tenang saja deh”

Jam 3.30 sore. Annisa sibuk di dapur. Dering suara telepon,menghentikan kesibukannya. Ternyata Eca, sahabatnya yang menelpon.

Annisa-pun lupa dengan acara memasaknya. Dia malah asyik ngerumpi di telepon. Sampai akhirnya…..hidungnya membaui sesuatu.Annisa segera ke dapur dan melihat penggorengan dan tempenya sukses menghitam.

“Oh my gosh, tempe gue gosong Ca!!!” Annisa melempar handphonenya di sofa.

Dia blingsatan,tangannya dilipat sambal memandangi wajan dihapadapnnya. “Hhhhh” desahnya. Tak mungkin dia memakai wajan gosong untuk memasak cumi asam manis. Terpaksa dia meminjam wajan milik Mamahnya.

Fiuh

Annisa kembali menyibukkan dirinya di dapur. Dan mematikan handphone supaya memasaknya tak terganggu.

***
Jam 5 sore tepat,Bekti datang. Dengan senyumnya yang khas. Dia membawa seikat bunga Lili untuk Annisa. Dari carpot, hidungnya membaui sesuatu yang gosong.

Halo Honey, Hmmm…baunya sedap sekali,masak apa sih kamu sayang” Kebohongan pertama. Bekti melihat Annisa di dapur. Wajahnya coreng moreng. Di kecupnya rambut Annisa.”Ku bantuin ya, Honey” Bekti melirik  penggorengan dan tempe gosong di tempat sampah.

 “Kamu pasti capek  sayang,sini biar aku yang siapin. Kamu sebaiknya mandi dulu,ntar lagi magrib lho” Annisa menurut. Badannya memang gerah sekali.

15 menit kemudian, Annisa sudah rapi,rambutnya di ikat ke belakang, dengan sedikit riasan diwajahnya yang ayu. Bekti sudah menunggunya di meja makan.Dia juga sudah membersihkan diri.

Adzan magrib berkumandang.

Annisa teringat sesuatu……Gubrak!!!!!!!!! Colokan nasi,tergeletak lunglai disamping dispenser. Airmatanya seketika meleleh,saat membuka alat penanak nasi dan melihat beras masih utuh didalamnya.

“Honeyyyyyyyyyyyy……magic comnya lupa ku colokin…” Annisa menubruk suaminya. Dan menangis histeris,menumpahkan kekesalannya di dada suaminya yang bidang.

“Ssshhhh…..sudah,jangan menangis,kita makan diluar aja yuk setelah sholat magrib” Bekti menghibur Annisa,istrinya.

“Tapi Honey……aku tadi memasak cumi asam manis kesukaanmu, cobain dulu please?” Annisa menyuapi Bekti. Bekti membuka mulutnya sukacita.
Glek….

Rasanya…oughhhh,campur aduk. Ntah bumbu apa yang dipakai Annisa. Mata Bekti terpejam, kerongkongannya menolak untuk menelan.”Kenapa,Honey,nggak enak ya?”tanya Annisa penasaran.

“Ow…Ehmm..eeeenaaakkkkkk, kok, Honeyyyyyy.” Kebohongan kedua. Bekti mengacungkan dua jempolnya,tak mau menyakiti hati istrinya. Dengan bantuan air, dia mendorong makanannya masuk ke dalam mulutnya.

Annisa mencicipi,”Hoeekkkkkkk”. Dia memuntahkannya.”Honey..bohong” ia mulai menangis sesenggukan.

Bekti merengkuh pundak Annisa.

Karena aku cinta kamu,apapun yang kamu sajikan aku suka” Annisa mesem menatap mata Bekti dengan penuh cinta.

 Annisa baru merasa, ternyata memasak tak semudah yang Ia bayangkan. Dan Bayangan Mamahnya sekelebat melintas di benak Annisa.









Comments

Post a Comment

Tulisan Beken