Balon Terakhir


pixabay.com

Melihat penjual balon, Caca merengek pada Bunga,kakaknya.”Kak,Caca mau balon”.
“Kakak, nggak ada uang dik” jawab Bunga,jujur, menatap hujan deras yang jatuh diatap canopy dimana mereka berteduh. Dengan raut muka kecewa,Caca kembali meneruskan menggambar pada selembar kertas lusuh yang diketemukannya tadi. 


Semenjak kedua orangtua mereka menjadi TKI, dan setelah itu tak pernah ada kabar dari mereka. Bunga dan Caca akhirnya di asuh oleh Kakek dan Nenek. Untuk membantu biaya sekolah. Bunga berinisiatif berjualan gorengan di alun-alun,sepulang sekolah. Caca juga ikut,karena tak mau tinggal dirumah sendirian. Kakek dan Nenek sibuk mengais rezeki di sawah milik Juragan Tohir.

Semestinya,Caca sudah masuk TK,tetapi karena ketidakadaan biaya. Terpaksa ditunda tahun depan. Bunga tak tinggal diam, dia mengajari adiknya belajar huruf dan angka sendiri sesuai kemampuannya. Bunga ingin Caca pintar. 

Tiap hari Caca membawa pensil butut,pemberian kakaknya. Dan dia girang saat menemukan kertas ditempat sampah.Dia menulis apapun yang sudah diajarkan oleh Kakaknya.

“Gorengannya masih banyak, Kak” Bunga mengangguk. Bedug Ashar, sudah lama berlalu. Sebentar lagi Magrib. Ia kemudian mengajak Caca pulang.

Melewati Panti Asuhan Cemara. Bunga berhenti. Ia melihat sekumpulan anak-anak seumuran Caca,sedang membersihkan halaman.

Dik…apa kalian suka gorengan?” Bunga tersenyum,bertanya pada salah seorang anak. Anak lelaki itu mengangguk. Bunga memberikan dua potong tahu isi padanya. 

Kemudian, anak-anak lainnya berebut mengerubungi bunga. Gorengan Bungapun habis dalam sekejap.

Trimakasih,Nak!” Seorang perempuan berumur mendatanginya.matanya berkaca-kaca melihat kebaikan Bunga.

“Kak,kenapa gorengannya dibagi” Caca bertanya setelah mereka jauh dari Panti.

“”Bila di makan sendiri akan mubazir”
 
“Besok,belikan Caca balon ya,Kak?” Bunga mengangguk mengiyakan

***
Suasana Alun-alun meriah. Banyak orang yang datang menyaksikan Festival Drumband anak-anak. Bunga gembira melihat gorengannya sudah tandas dari tadi. Tak jauh di depannya Caca berebut membeli balon dengan anak-anak lainnya. badannya yang kecil terdesak oleh salah satu anak tambun di sampingnya. Iapun terjatuh. Lututnya terantuk batu.

Tinggal satu balon berwarna merah.” Beli balonnya Pak” Caca tak memperdulikan luka dilututnya.” Ye, enak saja! Balonnya buat aku saja,Pak! Kata anak tambun. Penjual Balon, melihat mereka berdua bergantian. Dan akhirnya memberikan balonnya pada Caca.

Tak usah bayar,nak” mata Caca berbinar. Kemarin, dia mendengar pembicaraan Caca dan Kakaknya,saat berteduh di depan Toko.

“Lho…mana balonnya” tanyanya,saat melihat kedua tangan adiknya kosong.” 

“Itu……!”sahut Caca, sembari telunjuknya menunjuk ke atas. Kepala Bunga mendongak, dan melihat sebuah balon merah terbang di atas kerumunan orang-orang. 

“Yaaa..balonnya terbang” ucap Bunga, dengan mimic lucu. Bermaksud menghibur adiknya.
“Caca mengirim surat pada Ibu dan Bapak, Kak! Caca kangen sama mereka” katanya polos. 

Deg

Sama dengan adiknya. Bunga juga rindu pada ibu dan Bapak. Hanya pada Allahlah dia mengadukan segala kerinduannya. Semoga mereka bertemu lagi suatu hari lagi,kelak.

Bunga menggenggam tangan adiknya erat,menatap balon yang semakin jauh dari penglihatan mereka.


Comments

  1. Sungguh cerita yang cukup mengharukan mbak.

    ReplyDelete
  2. jadi pengen nangis abis baca ceritanya

    salam kenal dr blogger ala2

    ReplyDelete
    Replies
    1. hello..salam kenal juga,Budy.makasih yasch singgahnya. Blogmu keren banget.tadi sempet lihat,belum nitip jejak

      Delete
  3. Deg, kisah yang sangat menyentuh...

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken