Cendol Addicted



“Bunda…Kania minta uang Jajan lagi ya?”

Dengan wajah memelas, Kania mendekati Bunda. Bunda tak mengindahkan kehadiran Kania. Ia sibuk memasukkan ikan lele di penggorengan. Setelah itu tangannya sibuk memotong-motong cabe dan tomat untuk sambal peneman Lele.

Kania duduk mengelesot dilantai,tangannya memelintir pakaian Bunda,memainkannya untuk mencari perhatian Bunda.

“Kania,boleh minta uang jajan lagi ya Bun?”


Bunda melihat wajah Kania, ada senyum mengembang diwajahnya saat melihat putrinya cemberut. Wajah Kania bertambah lucu dengan pipinya yang tembem dan matanya yang bulat membuat Bunda gemas ingin menciumnya.

“Mau beli apa sayang.Tadi Bunda buat risol buat Kania” Bunda mengambil sepiring Risol diatas meja. Dan memakannya satu.

“Enak!” guman Bunda,membuat Kania pingin risol..tapi….
.
“Kania pingin beli Es cendol Kang Mamat Bun”.

“Lho..tadi bukannya disekolah sudah beli,masak mau beli lagi sih nak?apa nanti nggak takut sakit gigi”

“Enggak, Kania kan rajin sikat gigi. Sekarang minta uang jajan please..please” rengek Kania setengah menangis.

Bunda menggeleng dan meneruskan acara memasaknya. Dengan wajah sedih, Kania beringsut ke kamar.Tak berapa lama Ia membawa sesuatu dalam dekapannya.

Akhir-akhir ini Kania suka sekali Es Cendolnya Kang Mamat yang mangkal di depan sekolah. Bila dagangannya tidak habis,barulah Kang Mamat berkeliling,kadang sampai ke komplek perumahan yang mereka tempati. Bunda pernah mencicipi,rasanya memang enak apalagi tanpa bahan pengawet.

Suatu hari, Kang Mamat absen berjualan. Kania jadi uring-uringan. Dia tak mau makan seharian. Bunda  khawatir Kania jatuh sakit. Untunglah setelah dibujuk Ayah, Kania mau makan.

Bunda kepikiran untuk mencari tahu.

 ***
“Prang”

Bunda terhenyak secara tak sengaja menyenggol celengan berbentuk ayam milik Kania.Celengan ayam itu hancur berserakan dikamar. Hati Bunda shock,didalamnya tak ada uang sesenpun!

Bunda gemetar menahan rasa murka.

“Ehem, sini Kania duduk dekat Bunda” dengan tangan melipat, Bunda memanggil Kania. Kania bergidik ngeri.

Biasanya kalo Bunda seperti ini, pasti ada sesuatu yang membuat dia marah.Ups…dia teringat celengannya!

“Maafin Kania Bunda!” Meledakkah tangis anak perempuan itu. Ia tahu apa kesalahannya dan sudah siap menerima hukuman apapun dari Bunda
.
“Kania..Bunda tak pernah mengajarimu berbohong nak, sekarang tolong  jelaskan pada Bunda soal uang celenganmu itu!”.

“Uang celengannya,Kania berikan ke Kang Mamat Bun”. Setelah menceritakan semuanya,hati Kania lega

“Oh..begitu ceritanya” Bundapun memeluk Kania haru.

Ah..kenapa aku tak bicara jujur pada Bunda, sesal Kania.

***       

Hari minggu, cuaca sangat cerah. Burung-burung bernyanyi riang dan menari diatas pohong kamboja didepan rumahnya. Suaranya terdengar sangat merdu di telinga Kania
.
“Hai burung, apa kabar?”sapanya pada burung.

“Ayo sayang, kita jalan” Ayah menggandeng Kania dan Bunda masuk ke dalam mobil. Setelah memasukkan beberapa kardus ke dalam bagasi.

Lalu mobilpun melaju dengan tenang. Kemudian berhenti diperkampungan kumuh dimana Kang Mamat tinggal.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” seorang perempuan paruh baya menjawab salam Ayah. Perempuan itu menggendong anak kecil  yang kepalanya terlihat lebih besar dari badannya.Dia menangis merintih. Kania memegang tangan Bunda erat.Tak tega melihat anak Kang Mamat menangis.
Kemudian dari dalam kamar, Kang mamat berjalan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.

“Eh ada Neng Kania,silahkan masuk Neng…”

“Ayah..ini Kang Mamat” Ayah tersenyum kemudian merekapun bertukar cerita. Sedangkan Bunda menggendong Alia anak Kang Mamat yang duduk tenang dalam dekapan Bunda.Tangannya memegang boneka marsha berwarna pink hadiah dari Kania.

Wajah Alia berseri-seri memainkan boneka itu.

“Oalah..cucuku seneng sekali” kata ibu Kang Mamat. Kemudian Ia bercerita. Dulu Ia tinggal di kampung menggarap sawah yang tak seberapa. Setelah istri Kang Mamat meninggal dunia sewaktu melahirkan Alia. Barulah Ia ikut tinggal bersama Kang Mamat bersama-sama merawat Alia.

“Ayah..Bunda…sepertinya ada yang kelupaan deh” Kania memerengkan kepalanya lucu.
“Ya Allah..hampir lupa! Tawa ayah berderai.

“Ayo Kang..tolong bantu saya menurunkan barang-barang di mobil”

Kardus-kardus diturunkan dari dalam mobil. Didalamnya sembako,makanan kecil dan baju untuk Alia. Ayah juga menyelipkan amplop coklat tebal ditangan Kang Mamat.Mata Kang Mamat berkaca-kaca.

“Makasih banyak Pak”

“Makasih Bu”

“Makasih neng Alia”

“Alia…sabar ya naksebentar lagi kamu bisa operasi” tangannya menyeka airmata disudut matanya.













Comments

Tulisan Beken