Hadiah Untuk Emak




Lintang berlari menuruni bukit mengejar Snowy,kambingnya. Snowy tadi kabur mengejar kupu-kupu sewaktu Ia sedang mencari rumput. 


“Snowy..Snowy..berhenti”teriak Lintang. Nafasnya terengah-engah. Snowy berhenti sejenak,lalu ia berlari lagi mengejar kupu-kupu yang semakin tinggi terbang ke puncak pohon untuk menyesap sari bunga. Snowypun berhenti.


“Uh…kamu nakal ya!” seraya mengusap kepala Snowy gemas.


“Embek…embek” Lintang tertawa terbahak-bahak.



***
Setiap hari,sepulang sekolah,Lintang mengembalakan kambing milik Haji Munir tetangganya. Ada 9 ekor kambing yang ia gembalakan. Ada Kliwon,Pahing,Wage,Pon,Legi,Item,Donat yang doyan makan dan Snowy sikecil yang lucu.


Desa Bintang termasuk padat penduduk. Sawah-sawah yang dulu hijau sekarang sudah menjadi perumahan. Akhirnya rumput segar menjadi barang langka disana. Bagi yang memiliki ternak terpaksa mencari rumput di atas bukit yang lumayan terjal diujung desa.


 Meskipun begitu banyak orang yang mengembalakan ternak dan mencari rumput disana,termasuk Lintang karena disana rumputnya hijau dan subur. Bersama teman-temannya Lintang berusaha menjaga kelestarian rumput dengan cara memberinya kompos buatan dari *kohe dan daun-daunan yang sengaja mereka kumpulkan.


Kambing-kambing yangdirawatnya bertambah gemuk, membuat H. Munir semakin sayang pada Lintang. Apalagi 6 kambingnya sedang hamil sekarang. 


Lintang termasuk  anak yang rajin bekarja. Ia telaten merawat kambing kambing itu, Kandannya selalu bersih dan rumput yang  tersedia. Sehingga kambingnya tak pernah kelaparan.


***
Tadi dirumah H. Munir ia disuruh membantu  mencuci perabotan seperti gelas,piring sendok dll.Seminggu lagi beliau akan mantu. Orang-orang sudah mulai sibuk menyiapkannya. 


Sampai dirumah,adzan maghrib berkumandang. Lintang bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi langkahnya terhenti. Dari balik gorden, ia melihat emak sedang memandangi sandal butut yang sangat usang sekali. Wajah emak kelihatan sedih.


“Mak…..”


Emak terkejut dengan kehadiran Lintang dibelakangnya. Iapun tersenyum.


“Kamu baru pulang  le” Lintang mengangguk. Ia masih memandangi wajah emaknya.


Oh ya apa emak jadi ikut pengiring penganten anaknya H. Munir minggu depan?” ragu-ragu ia bertanya pada emak. Emak menarik nafas panjang.


“Entahlah le, sebenarnya emak pingin nolak.Tapi nggak enak,ikut juga gimana ya?” emak memandangi sandal bututnya.


“Sebaiknya emak ikut saja,nggak enak sama H. Munir yang sudah terlalu baik sama kita. Itu menurut Lintang sih mak”. 


“Emak pikir-pikir dulu le”


Tanpa diberitahu emak, Lintang tahu apa yang emak risaukan.


***


Pagi – pagi emak dan bapak sudah berangkat kesawah. Mereka berdua bekerja sebagai buruh tani.


Setelah mereka pergi, Lintang mengambil sesuatu dikamarnya. Ternyata Ia mengambil celengan ayam yang terbuat dari tanah liat. Rencananya setelah terkumpul banyak uang itu akan dia belikan sepatu sepakbola.


Prang….celengan itu pecah berantakan di lantai ubin yang keras. Satu persatu diambilnya uang yang berserakan dilantai.


Hari ini Lintang akan pergi ke kota, mumpung juga hari minggu. Dengan uang celengannya ia membeli sandal dan baju baru buat emak supaya bisa ikut jadi pengiring pengantin.


Hati Lintang bahagia….langkahnya ringan pulang menuju rumahnya.



Comments

Post a Comment

Tulisan Beken