Jangan Panggil Aku Lowbat



Add caption




Bersama Kepala Sekolah, Robert berjalan dengan gelisah di kelas barunya. Ia meremas batu kecil ditangannya.

Krek…..

Pintu kelas terbuka, Ia makin gugup. Matanya tertunduk menatap ubin. “Ayo,perkenalkan namamu” Kata Bu. Susi.

“Naamaaa Sssaaayyyaa, Loobet Loodhiya Lafa Dhianullahman”. Lidah Robert kelu


“Hahahahhaha, namamu lucu! Lobet,jadi ingat baterai nih” Celetuk seorang anak laki-laki berbadan besar. Sambil tertawa dan diikuti oleh semua anak. Kelas menjadi gaduh.

“Anak-anak,tolong jangan berisik!. Nama teman kalian adalah, Robert Rodhiya Rafa Dhianurrahman” Bu Susi menjelaskan.Yang disambut “Oooooooooooooooooo” suara anak-anak seperti nyanyian koor. Robert,menahan rasa malunya.

Ia kadang kesal sama orangtuanya,kenapa mesti memberinya nama dengan banyak huruf “R”. Dan berkali-kali Ia meminta ganti nama, dengan nama yang mudah Ia ucapkan. Sayangnya,Papa mamanya tidak setuju. “Namamu adalah doa kami, nak”. Robertpun mengalah.
***
“Hi,perkenalkan,namaku Putri dan ini,Rozak” Robert menyambut uluran tangan mereka. Dan mempersilahkan mereka mencicipi bekal yang Ia bawa.

“Hmmm,enak sekali kroketnya. Kamu beli dimana?” Tanya putri.

“Ini buatan mamaku” Robert memperbaiki posisi kacamatanya.

“Enak ya,punya mama pintar buat kue” Timpal Rozak, tak mau kalah. Robert tersenyum senang.

“Putri,ngapain kamu bersama lowbet,anak aneh itu!” Anak laki-laki berbadan besar yang tadi mencelanya,berdiri dihadapan mereka dengan berkacak pinggang.Robert,kesal melihatnya.

“Emang salah?”Putri menyahut,cuek. Iapun mengajak Robert dan Rozak ke Perpustakaan.

Tetapi…..

Buk

Sebuah tendangan keras,mendarat di kaki Robert,yang membuatnya jatuh tersungkur. Robert bangkit, mengambil kacamatanya yang jatuh,kemudian tangannya kuat mencengkeram kerah baju anak laki-laki itu,yang membuatnya susah bernafas. Anak-anak mengerumuni mereka.

“Awas, kalau kamu ganggu aku lagi!” Anak itu menggangguk. Robert-pun melepaskan cengkramannya.

“Hebat sekali kamu Robert, bisa mengalahkan Giant,dalam sekali cengkram” Rozak menepuk-nepuk punggungnya.

“Oh,jadi namanya Giant” Robert teringat salah satu kartun Jepang. 

***
“Lalerrrrr,menclok nang dukurrrreeee, rrrrrreeeeellllll” Robert mengucapkan kalimat itu berulang kali di dalam kamarnya. Putri mengajarinya,tadi pagi disekolah. 

Tiba-tiba Ia kangen dengan Simbah.

Waktu kecil,Robert telat bisa bicara. Atas saran teman-teman Simbah,tiap malam Jum’at beliau selalu mengerik lidah Robert dengan batu akik kesayangannya, terkadang menabok mulutnya dengan daun sirih. Konon,cara itu bisa membuatnya lancar berbicara. Mata Simbah berkaca-kaca,saat melihatnya mulai bisa berbicara. 

Namun, ada sedikit yang merisaukan hatinya,ketika Robert mulai masuk SD.“Simbah akan belikan Robert sepeda, dengan catatan Robert bisa mengucapkan huruf R” Sayangnya, Ia tak bisa mengucapkan huruf R,sampai Simbah meninggal. Meskipun Robert menabok mulutnya sendiri diam-diam dengan daun sirih. Robert merasa gagal.

Namun,semangatnya untuk berlatih mengucapkan huruf R kembali,setelah bertemu dengan dua sahabatnya, Putri dan Rozak. Yang selalu menyemangatinya.

Semangat!!!!! Ia berlatih keras.
Lalerrrrr………
Gorrrreeenggggg…
Ular…Rusa..Rumah… 

“Yes..!” Robert semangat pergi ke Sekolah.

Hari itu, Dia tak mau membawa bekal. Pas Jam istirahat. Robert mentraktik Putrid an Rozak di kantin sekolah. Disitu dia bertemu dengan Giant.

“Bang,tolong Es doger dan nasi goring 3” Putri dan Rozak saling bertatapan,takjub mendengar Robert cakap mengucapkan huruf R.

“Apa kamu bilang,aku tidak dengar”  Kata Giant dibelakangnya.
“ Es doger tigaaaaa” jawabnya keras ke telingan Giant.
Robert tertawa,meninggalkan Giant yang masih tak percaya pada pendengarannya.










Comments

Post a Comment

Tulisan Beken