Nasi Aking Istimewa



realita.co

Prang!

Eyang putri sontak terbangun dari tidur siangnya ketika mendengar suara sesuatu yang pecah. Dengan malas Ia bangun dan mendapati Bik Inah sedang membersihkan pecahan piring dan nasi yang berserakan dilantai. Sedangkan Damar,cucu kesayangannya berkacak pinggang didepan Bik Inah.Matanya merah menahan marah.

“Dasar tolol!sudah tahu aku tak suka sayur bening dan bakwan jagung,masih saja memberikan menu itu padaku! Katanya angkuh.

Eyang putri  terkejut dengan perkataan Damar, tak menyangka cucunya akan sekasar itu pada Bik Inah.

“Cepat bawakan aku ayam goreng bik!” teriaknya marah


“Nggak usah bik”larang eyang putri. Matanya menatap Damar. Damar terkejut, Ia mendengus kesal. Tanpa berbicara Bik Inah ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya.

“Eyang!Damar mau ayam goreng!”

Eyang putri bergeming,tak merespon keinginan cucunya. Ia tahu Damar suka sekali ayam goreng.

“ Eyang putri  jahat…Damar mau pulang hu hu hu hu! Damar mulai agresif dan memukul mukul meja, tangisnya meledak!

Eyang putri membiarkan saja, dan melihat Damar dari balik koran yang dibacanya. Ia sungguh prihatin dengan sikap manja Damar. Leila dan menantunya terlalu sibuk bekerja dan memberikan semua yang Damar mau,sebagai konpensasi ketidakhadiran mereka.

Sejam…dua jam Damar masih menangis berdiri didepan jendela yang menghadap ke jalan.

“Apa kamu sudah tenang sayang?” Eyang putri menghampiri Damar. Damar membuang muka. Tangannya memegang teralis jendela kuat kuat.

Kemudian matanya tertumbuk pada sesosok anak laki-laki kerempeng. Ia memakai topi caping butut dan membawa keranjang dari anyaman bambu di puggungnya. Anak itu mengorek-ngorek tempat sampah diseberang rumahnya.

Lalu…sebuah mobil melaju pelan..kemudian kaca mobil terbuka setengah dan seseorang melempar plastik hitam ke trotoar.

Anak itu berlari dan memungut plastik hitam tersebut. Wajahnya cerah ketika membukanya. Didalamnya ada kotak stereofoam. Setelah itu Ia lahap Ia memakan sesuatu didalamnya.
Damar terperangah! Ia terus memperhatikan anak laki itu.
Setelah puas anak itu berlalu.


***
Damar mengayuh sepedanya,pelan-pelam menyusuri jalan perkampungan. Kiri kananya padi menguning terhampar laksana sebuah karpet alam.Suara burung bernyanyi merdu.

 Gemericik suara air sungai menggoda hati Damar. Airnya jernih,ada banyak batu-batu besar disana. Ia menyadarkan sepedanya dibawah pohon jambu. Kemudian ia melompat dari atas bebatuan dan berenang dengan sukacita. Sesuatu hal yang tak bakal ditemukan di kota!.
Seseorang turun kesungai,

“Hei….kamu sedang apa”Tanya Damar mendekati anak lelaki yang sedang mencuci gelas plastic dan botol bekas minuman.

Anak lelaki itu menoleh. Dia ternyata anak lelaki yang dilihatnya kemarin siang.

“Menurutmu aku sedang apa?” jawabnya singkat. Ia kemudian meneruskan mencuci gelas dan botol plastic itu.Tangannya cekatan sekali.

Damar ingin mencoba. “Bolehkah aku membantumu?” tanpa menunggu jawaban Damar mengambil gelas plastic dan membersihkannya dengan sabut kelapa yang dibawa bocah itu.
“Namaku Prasetyo,kamu siapa?” anak itu tersenyum.

Damar”

“Kamu dari kota ya?” Damar menggangguk.

Seperti bertemu dengan kawan lama. Mereka berduapun akrab dalam sekejap.
“Maaf aku harus segera pulang” pamit Prasetyo.

“eh….tunggu,aku ikut denganmu ya? Aku kesepian dirumah nenek!” Damar mengambil sepedanya.

Prasetyo menggaruk-garuk kakinya. “Eng….tapi…..” Damar mengerti dan membiarkan Prasetyo berlalu dari hadapannya. Namun…diam-diam Ia mengikuti Prasetyo dari jauh.

***

“Bang jali,bang jali orang terlanjur kaya, Bang jali Bang jali terkenal sedunia” Suara melengking biduan kampung menghentak siang yang panas. Rupanya disitu ada acara sunatan.Bersama sebagian orang Prasetyo berdiri didepan panggung mengoyang-goyangkan badannya mengikuti irama music.

Kerongkongan Damar kering. Sedari tadi Ia mengikuti Prasetyo. Bisa saja dia langsung pulang kerumah neneknya. Dan menikmati sekotak es cream vanila yang dibawa oleh sopir bunda kemarin. Tapi…Damar penasaran sama Prasetyo.

Prasetyo….jangan dimakan! Damar berdiri disamping Prasetyo dan mengambil nasi kotak ditangannya. Prasetyo terkejut! Ia marah. “Apa urusanmu!”

Ini makanan sisa orang tahu!”

Hahahahahha…peduli amat!kalian orang kaya enak betul membuang makanan sesuka kalian. Coba lihat kami,setengah mati mencari uang hanya untuk sekedar membeli beras!”
Damar tertohok…..wajahnya tertunduk malu,teringat kejadian kemarin. Dan Prasetyopun pergi meninggalkannya.

Pras..tunggu”teriak Damar. Prasetyo tak menghiraukannya.Ia berjalan cepat-cepat. Damar tak putus asa dan kembali mengayuh sepedanya mengejar Prasetyo.

Prasetyo berhenti disebuah gubuk ditengah kebun kelapa. Disana Ia tinggal bersama neneknya yang sudah renta. 

Ajak temanmu masuk Pras” sapanya ramah. Damarpun masuk.Gubuk berukuran 5 X 5 meter itu hanya ada satu kamar tidur,ruang tamu dan dapur yang sempit. Tak ada barang mewah disana.

Pras membantu neneknya memasak nasi aking didapur yang Pras peroleh dari warung-warung yang memberinya secara gratis.

Perut Damar bernyayi kruk…kruk. Terdengar keras sampai Pras menoleh.”makanlah bersama kami”ajaknya ramah. Damar mengangguk meskipun hatinya ragu. Dari kemarin sore Ia tak makan gara-gara ngambek.

Pras mengatur meja. Ditaruhnya sebakul nasi aking.sambal orek yang terbuat dari cabe dan garam serta lalapan daun kenikir yang mereka tanam sendiri.

“Ayo cobain nak” Nenek mengambilkan nasi,sambal dan lalapan untuknya.Damar menerimanya. Dicobanya sedikit,

”Ouh”rasa nasinya aneh dilidahnya. Damar menoleh ke Pras dan nenek yang telihat begitu menikmati makan siangnya.

Sudahlah bro,jangan diteruskan kalau tak suka” Pras mengedipkan matanya mengejek.

“Lumayan rasanya kok” Ia berbohong dan mengunyah makanannya pelan sekali.

Setelah itu….dalam perjalanan pulang Ia merenung.

***

“Eyang..eyang” Damar mencari eyang putrinya yang ternyata sedang menyulam di beranda belakang di temani Bik Inah.

“Bik….Damar lapar” Eyang dan Bik Inah terkejut dengan perubahan sikap Damar yang mendadak manis padanya. Tanpa menunggu perintah dua kali segera ia menyiapkan makan untuk tuan mudanya.

Damar tersenyum,dimeja makan ada ikan wader goring tepung,tempe penyet,sayur asem dan sambel terasi. Dia makan dengan rakus sampai dua piring! Eyang Putri dan Bik Inah sampai ngiler melihat caranya makan. Aneh! Sejak kapan Damar suka sayur asem?Pikir mereka.

Kamu ndak apa-apa kan nak?” eyang meraba keningnya. Eyang khawatir Damar kesambet disuatu tempat.Damar terkekeh melihat eyang putrinya yang bingung dengan dirinya. Lalu Ia meminta eyang putrinya duduk didekatnya.

Eyang putripun tersenyum setelah mendengar cerita Damar dan berjanji akan membawakan sesuatu untuk Pras dan neneknya.

24052016











Comments

  1. Hallo Mbaaaak, aku baru mampir ke rumah Mbak Fid yang baru, keren ih rumahnyaaaa.. ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Beken