Perempuan nggak bisa masak, Malas!

pinterest.com


"Hahahahah emang kamu sudah bisa masak ta?" ledek salah satu sodara,saat kami bercerita soal makanan.

Aku hanya menanggapi dengan senyum.
Sewaktu kecil, sampai lulus SMA, mana pernah aku disuruh memasak didapur. Jangankan memasak,ngebantuin simbah atau bibi saja nggak boleh.

Semua over protektif. "Sana belajar saja!" perintah mbah kakung. Takut cucu wedoknya  terkena cipratan minyak atau teriris pisau.Huh, Abah sama Mamah bisa dimarahin mereka.

Otomatis, pengetahuanku soal masakan nol. Sumpah nol,tanpa embel-embel lagi.

Mungkin, waktu itu aku senang. Tetapi,saat aku harus sekolah dan bekerja di luar pulau. Dan menyadari betapa aku tak bisa memasak. Menurutku, sangat bodoh sekali. Aku kesal kenapa dulu, Simbah, Mamah dan Bibi tak mengajariku memasak.


Apalagi saat aku bekerja di Ubud, dimana lokasi hotelnya di tempat terpencil. Jauh dari mana-mana. Sekelilingnya sawah. penduduknya hanya sedikit. Yang ada disitu warung kecil,yang jual nasi kucing kalo pagi. Terpaksalah ku ganjel perutku dengan roti,mie, atau susu.  Apalagi pas Ramadhan, duh tersiksa banget. 

Lalu, aku memutuskan untuk belajar memasak. Hue..hue..hue, ternyata tak semudah yang kubayangkan. Menanak nasi saja,harus gosong beberapa kali. Kalau nggak gosong,nasinya keras. Belum lagi sayurnya, kalau nggak keasinan ya over cook. Aissshhhhhhh

Sialnya lagi, aku belum bisa mengira-ngira berapa banyak yang harus ku masak. Akhirnya makanannya jadi mubazir. Untungnya Ibu kos melihara babi. Jadi, masih bisa di manfaatin.

Dari banyak kegagalan,membuatku banyak belajar. Semua butuh proses, skill bisa diasah. Asal ada niat, pasti ada jalan. Dan nggak usah malu untuk bertanya. Yakin deh, kita akan banyak masukan. Kalau masih malu, tanya saja sama mbah google, dia pasti menjawab, wkwkwkkwkwkw.

Menurut pendapat saya nih, sebagai perempuan. Kita memang kudu bisa memasak. Meskipun diluar sana banyak bertebaran penjual aneka makanan. Kita tinggal memilih apa yang kita suka.

Tetapi, apa jadinya bila kita terus memilih untuk membeli makanan di luar? belum lagi, kalau kita menikah trus punya anak. Alamak! sebab kita  tak tahu apakah makanan itu di masak secara higiene dan tidak mengandung bahan pengawet. Sedangkan,sekarang ini marak sekali,makanan berpengawet. Hiiiiii seram! Kasihan anak kita nanti,bila dicekoki terus dengan makanan yang tak bagus.

Belum lagi soal membengkaknya pengeluaran. Contoh, makan pagi,menunya bubur ayam,seporsi Rp.10000. Makan siang, nasi gule Rp.25000, trus makan malam nasi goreng mawut Rp.10000. Setelah di total 45000. Sekarang kalikan 30 hari. Belum lagi,pengen camilan, jalan-jalan,traktir teman,nonton,shopping,bayar kontrakan de el el.  Hmmm....nggak cukup deh gaji sebulan.

Sssstttt.... Itu untuk satu orang, trus, bagaimana bila sudah menikah,dan hidup mandiri? trus punya anak. Syukur cuma satu, gimana kalau Allah memberi lebih? masihkah akan bertahan membeli makanan diluar. Sedangkan gaji suami 15 koma, artinya setelah tanggal 15 kebat kebit,gali lubang tutup lubang. Oh No!

Mengharapkan bantuan dan belas kasihan orang tua,sodara dan orang lain. Bukanlah solusi yang bagus. karena, tak mungkin kita terus menggantungkan hidup kita pada orang lain.

Jalan satu-satunya, ya harus belajar memasak! meskipun cuma bisa memasak nasi dan merebus telur! 

Karena,ketika kamu memutuskan memasak sendiri. nggak tahu kenapa, rasa masakannya jauh lebih nikmat,apalagi dimakan bersama -sama keluarga. Melihat mereka menikmati makanan kita. Ada kepuasan tersendiri yang tak bisa dibayar dengan apapun. Dan memotivasi kita untuk menyajikan makanan enak.

Tetapi..bila ada yang masih berpikir, belajar memasak bukan priority! Wassalam deh. Bekerja saja yang giat, supaya gajinya gede, kalau enggak. Tunggulah sampai pangeran ganteng dan kaya raya datang meminang kalian.












Comments

Tulisan Beken