Phobia




Teng..teng..teng
Suara lonceng tanda istirahat berdentang tiga kali. Seperti kawanan lebah. Anak-anak berhamburan keluar kelas menyerbu kantin sekolah.

Disudut sekolah, seorang anak perempuan duduk dibawah pohon beringin dengan rambut panjang yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Dipangkuannya ada sebuah buku cerita anak.Nama anak itu Kedasih yang lebih suka menyendiri.

“Hi….namaku Moni,bolehkah aku duduk disampingmu?” anak perempuan itu mengangguk pelan,tak menoleh dan berharap Moni segera pergi.

Kletek…Moni membuka kotak bekalnya.


Kedasih melirik sekilas. Didalamnya ada nasi,tempura udang,pudding coklat dan sayur buncis orek telur. Tak sadar, Kedasih menelan ludah.

“Kamu mau? Moni menyodorkan tempura udang kepadanya dan tanpa ragu Kedasih menerimanya. Ia memakannya  sangat pelan, seolah-olah esok tak dapat menikmatinya lagi.

Moni tersenyum, diberikannya lagi udang tempura pada Kedasih. “Besok aku bawakan lagi untukmu” katanya sebelum meninggalkan Kedasih.Dari sela-sela rambutnya Kedasih menyadari Moni bukanlah anak yang terlahir sempurna. Tangan kirinya menekuk kedalam sedang kaki kirinya pendek sebelah.

***
Didepan gerbang sekolah, Kedasih melewati gerombolan anak laki-laki yang sedang tertawa terbahak-bahak. “Jangan ambil bukuku” tangis seorang anak perempuan. Kedasih menghentikan langkahnya.

“Moni……”
Kedasih mengambil sebilah kayu yang ditemuinya di belakang sekolah kemudian menghalau gerombolan anak laki laki itu. Mereka lari tunggang langgang.

Kemudian Ia membantu Moni berdiri,lalu tanpa kata Ia membersihkan darah di lutut Moni dengan sapu tangan miliknya.

Terimakasih” Moni menundukkan badannya supaya bisa melihat wajah Kedasih yang tertutupi rambut.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan mereka.
“Bagaimana kalau kamu kami antar pulang,anggaplah sebagai rasa terima kasihku padamu?” kata Moni yang dijawab dengan anggukan kecil Kedasih.

***
“Saat aku berumur 5 tahun, Aku diajak Ibu mengunjungi Tanteku di Jakarta. Disana aku menjadi bahan olok-olok semua orang karena hidungku pesek. Dikeluargaku hanya akulah yang berhidung pesek. Sejak itulah aku sangat membenci cermin dan sebisa mungkin kututupi wajahku dengan rambut” ucap Kedasih suatu hari di kamar Moni.

Moni memeluknya.

“Kamu lebih beruntung dariku Kedasih!tapi aku tidak minder meskipun aku cacat. Justru kekurangan ini memjadi motivasi bagiku supaya aku menggali kelebihanku. Sebab aku percaya Allah tak akan menciptakan seorang hambanya dengan sia-sia” Kedasih diam, Ia mencerna baik-baik perkataan Moni, dan sungguh Ia teramat menyesal telah menyia-nyiakan talentanya.

Moni mengambil sisir dan sebuah jepit berbentuk bunga matahari kecil. Disisirnya rambut Kedasih kemudian Ia sematkan jepit itu di rambutnya. Lalu Ia menuntun Kedasih ke sebuah cermin besar di dekat tempat tidurnya.

“Wow….kamu cantik sekali!” pekik Moni.
 Malu-malu Kedasih menatap ke cermin. Disana Ia melihat seorang anak perempuan berwajah manis.Iapun tersenyum didepan cermin untuk pertama kalinya. Moni bersorak riang.

“Ah….aku tak sabar menunggu datangnya esok pagi” Kata kedasih bahagia.









Comments

Tulisan Beken