Romansa Anak Bawang



“Beb, tunggu”. Arul berusaha mengejar langkah Baby.

Namun Baby seolah tak peduli. Ia mempercepat langkahnya. Hari ini Ia kesal sekali dengan Arul. Surat untuknya dibaca keras-keras oleh Bintang teman sebangku Arul. Sampai terdengar diluar kelas, dan didengar oleh Bu Siti, Kepala Sekolah mereka. Yeng kebetulan lewat. Kelas 6 C-pun gempar.

Duh..malu banget, teman-temannya pada ngeledek. Baby merutuk dalam hati.


***
Fikiran Arul terpecah. Suara Bu Ida seperti kaset rusak. Amat berisik terdengar ditelinganya. Dan Ia terlihat gelisah memainkan bolpoint ditangannya.

“Arul..tolong kerjakan soal 5 di papan”Tanpa Arul sadari. Bu Ida sudah berada tepat disampingnya. Tangannya membawa mistar panjang. Nyali Arul ciut. Ia tak bisa mengelak lagi dan melangkah gontai ke luar kelas.

“ Lho…kamu mau kemana Rul”

“Lari mengitari lapangan basket bu” Arul menjawab setengah hati. Berharap Bu Ida akan mengganti hukuman yang biasa Ia berikan pada anak-anak yang tak bisa mengerjakan tugas yang Ia berikan.

Apa Bu Ida menyuruhmu lari” Bu Ida bertanya heran.

Arul menggeleng…

“Tapi..saya tak bisa mengerjakan soal yang Ibu minta tadi”

“Ooooo..seperti itu, kalau begitu kamu bersihkan toilet saja” Bu Ida tersenyum manis sekali melihat wajah Arul cemberut.
***
Arul menggeliat lemas dikamar tidurnya. Semalam Ia tak bisa tidur, hatinya sakit melihat sikap Baby yang mendadak acuh tak acuh padanya.

Sebelum jam pulang sekolah, mereka berdua dipanggil Bu Siti diruangannya. Disitu sudah ada Bu Ida yang menatap mereka kesal. Ditangannya ada amplop berwarna merah muda dan biru milik baby dan Arul.

Arul dan Baby diam tak berkutik karena ketahuan berkirim surat. Bu Siti memarahi mereka berdua sampai telinga mereka panas mendengar ceramah beliau. Wajah Bu Ida juga merah menahan murka dengan tingkah laku muridnya.

Dia setress,takut Ibu dan Ayahnya dipanggil Kepala Sekolah. Perut Arul jadi eneg……Iapun muntah-muntah dikamar membuat Ibu panik.

“Ayo minum teh jahenya nak, biar perutmu hangat”Pinta Ibu sabar.Tangannya membawa semangkuk bubur ayam buatnya.

Tenggorokannya hangat setelah meneguk teh jahe buatan ibu. Namun Ia menolak saat Ibu mau menyuapinya.

“Aku tidak lapar bu” matanya menatap keluar jendela, melihat Dimas adiknya berangkat sekolah.

Apa ada sesuatu disekolah?” suara Ibu pelan, tapi seperti halilintar disiang bolong bagi Arul. Ia tak menjawab pertanyaan Ibu dan memilih memeluk guling memunggungi Ibu.
***
Tanpa sepengetahuan Arul, Ibu menelpon Ibu Ida untuk mencari tahu tentang desas desus tentang anak yang kepergok saling berkirim surat.

Mulanya Ia shock, ketika tahu anak tersebut itu Arul. Lama Ibu termenung menyadari kesalahannya yang telalu sibuk dengan urusan online shopnya. Sampai Ia lupa memperhatikan anak-anaknya yang sedang bertumbuh.


Ibu berjanji akan lebih memperhatikan Arul dan Dimas.

***
“Mas Arul, ada pesan dari Kak Baby nih”Dimas menyodorkan hape milik Arul.

“Dimas, lancang sekali kamu membaca pesan kakak” Bentak Arul. Ia tak suka Dimas bertindak seenaknya.

“Yee…nggak sengaja, orang aku tadi mau pinjam buat main game kok” elak Dimas.

Jantung Arul berdegup kencang. Dalam hatinya Ia berdoa semoga Baby memaafkan keteledorannya, menyimpan surat cinta darinya di buku pelajaran sekolah. Pesan Baby singkat.

Arul…lebih baik kita putus
Sebentar lagi kita UN
Aku takut dimarahi mama papa
Sebab nilaiku jelek

Diam-diam Dimas memperhatikan Arul yang menghela nafas berat. Wajahnya kusut sekali. Lalu dimas mengambil sapu dan bernyanyi:

Kamu masih anak sekolah, kelas 6 SD.
Belum tepat waktumu untuk begitu begini.

Arul…tertohok!






Comments

Tulisan Beken