Sagar Yang Tak Bisa Diam.

Image result for chicken cartoon shutterstock
Hari minggu pagi,Sisi ikut Bunda ke pasar,membeli sayur mayur,tempe dan daging.

Ciap…ciap…….

Sisi menoleh,dan melihat puluhan anak ayam dengan bulu warna-warni. “Aih…lucu amat” matanya lekat menatap seekor anak ayam berbulu merah jambu.

“Non, suka? Sisi mengangguk.


“Harga 2 ekor anak ayam sepuluh ribu Rupiah”. Kata si penjual ramah. Sisi menatap mata Mama penuh harap.“Boleh ya Mam?” Mama menggeleng.”Ayamnya masih butuh induknya sayang”.

Sisi sedih,padahal dia ingin memiliki anak ayam sebagai binatang peliharaan.
****
“Sisi mau hadiah apa dari kakek?” Tanya Kakek suatu hari.

"Eng…apa Kakek akan menuruti keinginan Sisi?” Kakek tersenyum,dan meminta Sisi duduk dipangkuannya.

“Selama Kakek bisa, akan Kakek kabulkan”

Benarkah Kek?” Jawab Sisi girang. Kemudian Ia membisikkan sesuatu ke telinga Kakeknya. Kakek mengangguk-angguk penuh arti.

“Baiklah! dengan satu syarat, Sisi harus merawatnya dengan baik” Sisi mencium kedua pipi kakeknya. “Makasih Kek!”
***
Mama tak dapat menolak lagi kehadiran Sagar,anak ayam hadiah dari Kakek buat Sisi. Apalagi Kakek sudah membuatkan Sagar kandang dari bamboo,yang di cat warna merah muda sesuai dengan warna kesukaan Sisi.”Anak ayamnya biarkan di kandang saja,biar tak hilang” Sisi ingin membantah,tapi….Ia khawatir nanti tak bakalan boleh memelihara Sagar.

Semenjak kehadiran Sagar. Hari-hari Sisi menjadi sibuk. Sebelum berangkat sekolah Ia harus membersihkan kandang Sagar dan memberinya makan. Begitu juga saat sore hari. “Wah…Sagar makannya banyak” Sisi membelai bulu Sagar. “Kkrkkrrrrrr” sahut Sagar. Pertumbuhannya cepat sekali,sekarang Ia bukan seekor anak ayam lagi.

“Si,main petak umpet yuk!”seru teman-temannya diluar.

Sisi ingin mengajak Sagar bermain petak umpet diluar bersama teman-temannya. Dengan hati hati, dia mengambil Sagar dari dalam kandang,lalu digendongnya seperti seorang bayi.

Ma….Sisi main diluar ya” Mama menoleh sebentar,kemudian sibuk lagi dengan setrikaannya.

Diluar teman-temannya sudah menunggu, ada Dita,Lila,Didit,Mira dan Mayang. “Si, Sagar ntar apa nggak lari?” tanya mayang khawatir.

“Ah…enggak, selama ini dia kalem dikandang” kata Sisi pede,memainkan kalung di leher Sagar.”Jadi main nggak neh” katanya lagi.

Jadi dong”kata mereka serempak.

“Hompipa alaium gambreng! Lila kamu yang jaga!” Anak-anak berhamburan mencari tempat sembunyi yang aman.

Dan akhirnya Sisi sembunyi dibalik semak-semak dekat empang.”Hmmm…Lila tak mungkin menemukanku disini”.
Semenit….lima menit….
Krkrkrkrrkkrkr”Sagar mulai tak nyaman berada dalam dekapan Sisi.
Sssttt..jangan berisik
 Sisi tak menyadari ada seekor ulat hijau bergerak lamban menjelajahi rambutnya.
“Krkrkrkrkrkrk…krkrkrkrkrk…krkrkrkrkrk…plok” Sagar mematuk ulat itu. Tuk..tuk..tuk
Aw…!!!! Sisi terkejut, dia mundur beberapa langkah ke belakang dan byurrrr…….Sisipun jatuh ke dalam empang.
Tolong..tolong”Teriaknya panik.”Empangnya dangkal Si,kamu naik saja” Kata Dita seraya tak dapat menahan gelinya melihat  wajah Sisi penuh lumpur dan ada tanaman enceng gondok di rambutnya.
“Huhhhh!gara-gara Sagar nih!” Tak henti Sisi mengomel. Dan berjalan pulang. Sepertinya Ia melupakan sesuatu.
Si….tunggu!” Mayang,Dita,Didit,Mira dan Lila mengejar Sisi. Nafas mereka terengah-engah.
“Kok kamu tega ninggalin Sagar!” Mayang sewot. Ia dan teman-temannya susah payah menangkap Sagar.

Ambil saja dia” Sisi tak perduli dan mengabaikan Sagar.
***
Di dalam kamar, Sisi menangis. Hari ini benar-benar buruk. Setelah jatuh di empang,dirumahpun Ia dimarahi Mamanya karena bermain sambil membawa Sagar. Ia sadar,terlalu berharap banyak pada Sagar. Sagar bukan Mumu,kucing Persia kakak Sasa atau Ronald, anjing cihuahua tante Ima yang bisa diajak bermain. Sagar tetaplah sagar seekor ayam kecil yang tak bisa diam.









Comments

Post a Comment

Tulisan Beken