Annisa Dan Bekti # 4


Image result for mother in law shutterstock cartoon
Add caption

Desperate Daughter in-law

Dari tadi, Annisa duduk di teras,menunggu Mas,Tukiran,penjual siomay. Kakinya di selonjorkan di bangku panjang,sambil tangannya mengipasi badannya dengan majalah yang tadi Ia baca.

Kruk..kruk..kruk cacing di perutnya mulai membunyikan alarm,tanda lapar. “Aishhhh…lama banget,Mas Tukiran!” gerutu Annisa, kepalanya melongok ke ujung gang. Kemudian, dia menoleh ketika sebuah Taxi berhenti persis di depan gerbangnya. Dan seorang perempuan dengan sanggulnya yang khas,turun dari Taxi.


Mata Annisa mendelik,ketika tahu siapa yang datang. “Eh…Ibu?!!” Ia segera membuka pintu gerbang,menyambut Ibu mertuanya.

“Aduh, Ibu…kenapa tidak telpon dulu, Kami kan bisa jemput Ibu di bandara” Si Ibu mertua tak menjawab,Ia balik menyuruh Annisa membawa kopernya yang segede gaban.

Ugh” tubuh ceking Annisa,tak kuat membawanya. Ntah apa isi koper itu.

“Masak,koper sekecil itu kamu tak kuat membawanya,Nis,kalah dong kamu sama Ibu” sindir Ibu,matanya melihat Annissa dari atas ke bawah. Bak seorang tawanan, Annisa menunduk. Meskipun emosinya mulai naik.

“Siooooooooooooooooooooooomaayyyy Tukiran Enak,Mbak Nisa….siomaynya mba” Mas Tukiran berdiri ddidepan gerbang. Annisa menggeleng, Hasrat makan siomay yang tadi menggebu,buyar ntah kemana.

Srek….srek…..

Dengan segenap tenaganya, Annisa membawa koper mertuanya,masuk ke dalam rumah.Nafasnya terengah-engah. Ia lalu ke dapur,membuka kulkas dan mengambil es minuman dingin. “Oh,enak banget es sirupnya, sampai lupa kalau ada mertua” Celeguk! Es sirup yang tadi segar berubah pahit di lidah Annisa. 

Dia tersenyum masam, dan segera menuangkan es sirup buat ibu mertuanya.”Nggak usah sok baik, Ibu bisa mengambil sendiri kok” katanya ketus,mengambil gelas dihadapan Annisa.

Wajah Annisa memerah menahan rasa kesal yang membuncah.”Sabar..sabar…” Ucapnya dalam hati. Annisa berdiri disamping kulkas, di depan kamar mandi.

Kemudian,Mertuanya duduk di kursi makan,dan membuka tudung saji. Mulutnya mengerucut.”Hanya ini,yang kamu masak?” Annisa mengangguk pelan. Di sana ada dua potong tempe, sayur bening serta sedikit sambal terasi,sisa tadi pagi. Ia memasak lagi untuk makan malam,sebelum Bekti pulang kerja.

Annisa mengambil dompet dan meninggalkan Ibu mertuanya sibuk di dapur.
***
Bekti pulang sedikit terlambat, Ia terkejut ketika melihat wajah kuyu istrinya.”Kamu,capai ya dirumah” ia merangkul pundak istrinya. Annisa menggeleng. Mereka masuk berdua. 

“Oalah..kenapa kamu sekarang tambah kurus,cah ganteng!!” Bekti terkejut melihat Ibunya keluar dari kamar tamu. Dan keduanyapun saling melepas kerinduan.Sedang,Anissa menyiapkan makan malam. Perutnya melilit, Ia lupa makan siang tadi.

Ternyata Ibu mertuanya sudah masak banyak untuk mereka,meskipun Annisa sudah membeli sate kambing dan gule untuk makan malam.

Di meja makan, Annisa lebih banyak diam, Bekti merasa tak enak ibunya terus menyindir Annisa.”Bekti…..kasih tahu istrimu,jangan boros.Lebih baik masak sendiri dirumah. Wajar saja, kamu kurus wong makannya nggak sehat begitu”

Bu…Bekti habis sakit,lagian Annisa jarang kok beli makanan diluar” Bekti membela istrinya.
“Halah……tadi itu opo,beli sate kambing dan gule,apa nggak tahu Ibu ini punya penyakit kolesterol,apa Annisa mau membunuh Ibu pelan-pelan….” Katanya nyinyir,seraya melirik Annisa. 

Annisa tak menjawab, Dia masih menahan dirinya supaya tak marah dengan perkataan ibu mertuanya.

Nisa.. ingin menyenangkan Ibu!” Suara Bekti mulai tak sabar. Annisa memegang lengan Bekti. Mengelusnya pelan. Perang dingin dimulai.

***
Kompryang…….

Annisa masih terlena dalam mimpinya,ketika mendengar suara barang jatuh di dapur. Disampingnya Bekti nyenyak sambal memeluk pinggangnya.

“Yang….bangun, Ssshhhhh..coba lihat,mungkin ada kucing di dapur” Bisik Annisa di telinga Bekti. Bekti membuka matanya enggan, dia masih mengantuk, setelah menonton bola semalam. Jam masih menunjukkan jam lima pagi.

“Hah….Ibu mertua” Annisa memekik kecil,menutup mulutnya. Ia lupa mertuanya kemarin datang. Tergopoh-gopoh Ia merapikan bajunya,dan segera menuju ke dapur. Di lihatnya,Ibu mertuanya sedang sibuk memasak.

“Eh….menantu Ibu sudah bangun, enak banget tidurnya” Tangannya merapikan ikatan rambutnya.
“Maaf…bu, kesiangan” Annisa membantu Ibu mertuanya mencuci piring. Tangannya gemetaran terkena air ledeng.

Kamu itu,jadi istri jangan lamban,toh kamu nggak kerja,kasihan suamimu!!” Mungkin karena PMS,Darah Annisa naik. Sejak kemarin,Ia menahan emosinya.kali ini,Ia tak tahan lagi terus di sindir Ibu mertuanya.

Bu….Annisa dari kecil memang dimanja oleh orangtua,dan sekarang Annisa masih belajar bagaimana menjadi istri yang baik bagi Mas Bekti. Juga, Annisa berhenti bekerja atas permintaan Mas Bekti, lalu kapan…Annisa akan belajar,bila sikap Annisa salah terus dimata Ibu” katanya tersengal,menahan geram.

Mulut mertuanya mengerucut,seperti biasa takkala tak suka.”Oh….seperti itu” jawabnya dingin.Mendengar keributan, Bekti bangun. Ia jadi serba salah. Mana yang harus dibela.Ia tahu, sifat ibunya keras dan tak sabaran. Dia ingin semua orang mengikuti kemauannya. Pun,begitu dengan Annisa,istrinya. Meskipun dia lembut, Dia tak suka orang lain mengatur dirinya.

Nis,tolong buatkan mas, kopi dan roti bakar” Akhirnya Bekti memecah kebekuan diantara mereka. Annisa segera membuatkan suaminya sarapan. Sayangnya,mertuanya melarangnya. Ia masuk kamar, dan menangis puas.

Waktu terasa lebih lamban bergerak, Annisa mafhum,sebagai anak lelaki satu-satunya.Bekti adalah kesayangan ibu mertuanya. Saat berpacaran dulu, berkali-kali Bekti memberitahu, tentang betapa keras sifat ibunya, supaya Annisa tidak kaget saat bertemu dengannya. Waktu itu, Annisa tak berpikiran macam-macam. Namun..sekarang..Ia merasa berat. Kuatkah dia menghadapi mertuanya? Pikirannya menjadi kusut.

Sampai Annisa tak menyadari kehadiran Bekti. Tangannya membawa roti dan segelas coklat hangat kesukaannya. Lalu memberikannya pada Annisa. “Sabar, ya sayang, Ibu takkan lama disini” tangannya lembut mengusap airmata Annisa.Yah..mungkin jalan satu-satunya harus bersabar. ia sudah memilih Bekti menjadi suaminya,dan harus siap menerima paketannya. Annisa membuang nafasnya berat,









Comments

  1. cerita lama....menantu dan mertua mmg selalu abadi...permusuhannya hehehehe

    ReplyDelete
  2. duuh...yang namanya Bekti...emang, baik..gitu orangnyaa..sabar pulaaa

    yuups....bekti yang di cerita itu ternyata , bukan Bekti ..aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bunda juga sabar nih pasti orangnya

      Delete
  3. Semoga besoook aku nggak jadi ibu mertua yang nyinyir gitu... 😁

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. makasih mas surya, btw..blognya apa mas...

      Delete

Post a Comment

Tulisan Beken