Annisa Dan Bekti # 6





Cerita sebelumnya

                                                     Tetangga, Oh My



Annisa tersenyum simpul, membaca kartu ucapan bernuansa biru yang ada di dalam buket bunga mawar merah yang diterimanya barusan. Hati Annisa melted seperti sekotak ice cream. Lumer…..membaca  puisi didalamnya.
I am enjoy being alone,
But, it’s different now
How great this feeling,
when I am look at you

Oh..my God! You are so lovely,
Your eyes, your smile
Make me to run and break the fence
Just want to say hello

Love you always,
Bekti



            Annisa,tak mengerti. Apa yang menyebabkan Bekti,suaminya. Tiba-tiba berubah menjadi sosok romantis? Aneh sekali! Sebab Bekti,bukanlah tipe cowok romantis apalagi  suka memberinya bunga  dengan puisi romantic. Dan sejak kapan dia bisa menulis puisi? Ia jadi penasaran. “Jangan…jangan…” Tubuh Annisa mengejang membayangkannya.

Jeng Nisa….” Annisa segera menyusut airmatanya. Ia melongok keluar, dan melihat Mbak Rahayu berdiri di depan gerbang.

“Aduh,kok lama sih jeng, buka gerbangnya. Kulitku kepanasan nih” Badannya yang besar,menerobos masuk. Lalu, dengan santai,Ia duduk di sofa, dan asyik menikmati kripik pisang,pemberian Mamah Annisa.”Renyah banget nih, Jeng,kripiknya” Annisa tersenyum masam,membiarkan Mbak Rahayu enjoy dengan kripiknya. Meskipun sikapnya semau gue, Annisa suka dengannya,sebab dia orangnya lucu, dan suka menolong.

Selagi asyik menikmati camilannya, mata Rahayu terpesona dengan kartu ucapan yang terjatuh di bawah meja. Ia mengambilnya, dan membacanya pelan.”So sweet….beruntung banget,kamu Jeng,memiliki Bekti. Coba kalau Mas. Imron mau mesra dikiiiiittttttt aja. ” Annisa menoleh, dan cemberut ketika mengetahui apa yang dipegang Mbak Rahayu.

“Eh…Jeng, kapan hari,  Aku ketemu  Mas Sukma di toko bunga. Dia membeli bunga mawar.Mungkin untuk pacarnya kali ya. Waduh…lelaki seperti Mas Cipto termasuk mahluk langka sekarang ini Jeng.Sudah ganteng,baik hati, kaya dan tidak sombong. Tapi kenapa masih sendiri yah? 
 
.Annisa tak begitu memperhatikan apa yang diceritakan Mbak Rahayu. Dia masih berpikir keras,bagaimana caranya bertanya pada suaminya tanpa membuatnya merasa tertuduh.

***

Sore,Mbak Nisa….” Cipto,Lelaki berbadan tegap,dengan memakai atasan putih dan celana pendek warna khaki menyapa Annisa yang sedang menyiram bunga di halaman. Annisa mesem. Bekti yang sedang libur mengajaknya mampir. “Nggak singgah dulu,Mas” Cipto masuk. Annisa lalu membawakan mereka kopi dan pisang goreng,yang masih panas di teras.

 Beruntung sekali,kamu punya istri seperti Annisa,Bekti” Cipto melirik punggung Annisa. Bekti terbahak. Suara tertawanya sampai terdengar di kamar. Mereka, asyik bercengkrama sampai adzan magrib berkumandang.

“Sayank…Mas Cipto lusa,mengajak aku main badminton setelah pulang kerja. Kamu tak keberatan kan?” Annisa tak menjawab pertanyaan Bekti.

“Lho….kok nggak jawab,sih” Bekti,pura-pura cemberut. Mengambil buku yang dibaca Annisa kemudian menaruh kepalanya di pangkuan istrinya.

“Mmmm..tadi,kamu ngomong apa, sayank…?” Bekti mengulanginya lagi. “Jadi, apa boleh?” tanyanya sekali lagi. Annisa bergeming. Bekti heran dengan sikap Annisa yang seperti orang linglung. Ditanya tak menjawab. Diajak bercengkramapun seperti orang sedang mikir berat. 

Kamu….kenapa?kuperhatikan dari tadi,sepertinya ada sesuatu yang kamu fikirkan?” Ia tergagap dengan pertanyaan Bekti.

“Apa..kamu masih cinta aku?” bola mata Bekti membesar merasa aneh dengan pertanyaan Annisa.

“Tentu saja,sayank. Apa yang kamu ragukan lagi?”Annisa membawa tas kain dan memberikannya pada Bekti. Bekti membukanya. Ada banyak coklat dan beberapa kartu didalamnya. Dia mengeryitkan keningnya saat membaca tiap puisi. Kata-katanya disusun dengan indah, dan yang Ia tahu. Ada seseorang yang mengagumi istrinya dan lancang sudah menggunakan namanya untuk memberikan perhatian pada Annisa.

Siapa yang mengirimimu coklat sebanyak ini ,sayank?” Bekti dilanda rasa cemburu.
Lho….,kok nanya sama aku sih,Yank, disitu pengirimnya siapa?”Gantian Annisa yang terperangah saat Bekti bilang bahwa bukan dia pengirimnya. 

Lantas..bunga mawar itu,apakah pemberiannya juga” Annisa mengangguk.Nafas Bekti memburu. Tak menyukai hal ini. Ia lalu membuang coklat-coklat itu ke tong sampah.

“Aduh,jangan dibuang! Itu coklat mahal,sayank….” bujuk Annisa,kaget. Memungut kembali coklat yang dibuang Bekti.
“Ku bilang buang..ya buang!” Bekti mendelik melihat kearah Annisa.Ia menghampiri Bekti,mengelus tangannya lembut.

“Jangan,salahkan coklat.Yang harus kita cari tahu sekarang siapa yang mengirimkan semua ini” Bekti menarik nafas,dan menghempaskan badannya di sofa. Kemudian, Ia teringat dengan percakapannya dengan Mas Cipto. 

“Aku..tahu” Teriak Bekti,membuat kaget Annisa yang sedang menelpon Mbak Rahayu. Bekti mengambil coklat yang dibuangnya tadi. “Mas Cipto,suka coklat merk ini, sama sepertimu” Hmmmm….suatu kebetulan yang menarik,pikir Annisa.Dia semakin,bergairah untuk mencari tahu siapa secret admirernya.

“Yank..kalau kamu tidak sibuk, aku ingin pergi ke Toko bunga, siapa tahu disana,kita menemukan jawaban” Ajak Annisa.

“Siap,komandan” Bekti mengedipkan matanya pada Annisa.

***
Cuaca masih tak bersahabat. Musim hujan,yang semestinya berlalu,masih enggan pergi.Sama seperti kemaren,hujan mewarnai sepanjang hari,membuat Annisa malas kemana-mana. Ia seharian duduk bermalas-malasan duduk di depan computer,menonton film online disana.”Ping” ada notifikasi email masuk. Di bukanya email itu.Dari Mas Cipto.Ntah..darimana dia tahu alamat emailnya.Dia membacanya sekilas,potongan lirik lagu milik Band ungu,
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa dicintai
mengapa bagiku asal kau pun bahagia
             Dalam hidupmu, dalam hidupmu

Annisa langsung mendeletnya.
 




           














           

           


           



           

           


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken