Annisa Dan Bekti # Part 3

Image result for telephone call shutterstock

Telephone Nyasar
Bekti memandang Annisa tanpa kedip. Dengan berbalut dress sederhana bercorak biru tua dengan lipstick warna nude diatas bibirnya yang mungil. Annisa terlihat elegan,pagi ini. Kesederhanaan Annisa, yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan meyakini, dialah wanita sempurna untuk melahirkan anak-anaknya.

Pagi-pagi sudah melamun”sapa Annisa manja, membawa dua piring nasi goreng untuk sarapan mereka berdua.


Kring

Telepon Bekti berdering 2 kali. Bekti malas menjawab,apalagi dari nomor yang tak dikenalnya.
“Kenapa,nggak dijawab Yank” Annisa tak suka mendengar dering telepon berkali-kali. “Siapa tahu,ada yang penting” katanya lagi,sembari membereskan piring di meja.

“Biarin saja” Bekti berjalan ke teras,membaca koran.

Kring….

Telepon berbunyi untuk yang ketiga kalinya. Annisa mengangkatnya. “Halo……,kamu jadi datang kan?” keronkongan Annisa tercekat mendengar suara halus, perempuan!

Seketika,wajahnya pucat,pikiran negative menyerangnya. Mungkinkah wanita itu selingkuhan suaminya? Hihhhh…membayangkan saja,membuat perutnya mual.
“Nisa,sayang,kopi pahitnya mana?” pinta Bekti,dari teras depan.

Annisa tak menyahut, dia tenggelam dengan pikirannya sendiri. “Oke..tenang-tenang” dia menarik nafas dalam-dalam. Hasilnya gagal. Amarah sudah menguasai pikiran Annisa,membuatnya tenggelam dalam tangis  di pojok dapur memeluk kedua lututnya.

Di teras, Bekti menunggu kopi pahit. Dia menoleh ke jendela dapur, yang bersisian dengan teras. Annisa tak ada disana,komporpun dalam kondiri tak menyala. “Nisa….?! Tak ada sahutan dari dalam rumah. Bekti mencari tahu.

“Sayang,kenapa menangis” Bekti mengecup kening Annisa lembut. Tangis Annisa makin pecah,membuat kedua alis Bekti bertaut. Dia bingung dengan sikap Annisa yang tiba-tiba berubah.

“Ayang,tahu kan, Nisa nggak suka dibohongi” Jawab Nisa sesenggukan. Bekti mengangguk.
Tapi,kenapa Ayang,bohong!” matanya resah menatap Bekti.

Bohong dalam hal apa,selama ini aku jujur padamu” Sahut Bekti tak mengerti.

“Halah,buktinya apa?! Suara Nisa,mulai meninggi. Ia tak sanggup mengontrol emosinya. Annisa,berlari kekamarnya,mengambil dompet dan keluar rumah tanpa pamit ke Bekti.

Bekti,bengong menatap taxi yang ditumpangi istrinya,menjauh dari hadapannya.

Kepala Bekti mendadak pusing memikirkan Annisa. Otaknya mencari tahu,gerangan apakah yang menyebabkan Annisa tiba-tiba berubah?

Kemudian, dia teringat telephonenya.
“Halo….”
***
“Check, dulu dong Nis,jangan asal tuduh. Bekti tuh setia dan cinta banget sama kamu” Kata Riris, seraya menyantap cheese cake nya. Annisa,tak menggubris. Hatinya di liputi oleh rasa cemburu.

“Darimana,kamu tahu? Katanya sewot.

Gini yeeee,meskipun aku jomblo. Setidaknya aku suka baca,ciri-ciri pria yang berselingkuh, salah satunya, lelaki akan protektif sekali dengan handphone.Kemana-mana dibawa,trus dikasih password”

Nisa,manggut-manggut. “Ah….kenapa dia jadi parno begini”.

“Massage, aja yuk” Annisa menggangguk. Kedua sahabat itu,kemudian berjalan menuju Spa yang tak jauh dari situ.

Dirumah, Bekti gelisah. Berulangkali, dia mencoba menghubungi Annisa, namun handphonenya tak aktif. Muka Bekti kusut. Takut terjadi apa-apa dengannya. Maunya dia,menelpon ibu mertuanya. Tapi….khawatir menambah keruwetan. Akhirnya yang bisa Bekti lakukan,hanyalah menunggu Annisa pulang.

Badan Bekti  pegel,dia ketiduran di sofa. Dan dia lupa menutup pintu,setelah Arman pulang tadi. Di meja, gelas dan kulit kacang berserakan. Bekti,melihat jam dinding.”Kemanakah Annisa?” pikirnya gelisah.

Kring

Bekti meloncat kegirangan,”Dimana kamu, sayang?oke....tunggu disana,aku segera datang!Bekti segera mengambil kunci mobil dan segera menancapkan gas, dia meluncur,membelah kemacetan kota.

Di depan Spa, Annisa menunggu.Setelah melakukan massage,tubuhnya relax. Otaknya sudah berpikir jernih kembali. Merunut kejadian-demi kejadian.

Sebuah mobil,berhenti didepannya. Annisa melambaikan tangannya.Dia masuk ke mobil tanpa banyak kata.

“Sayang….sepertinya ada kesalahpaham” Bekti memulai percakapan. Tangannya menggenggam jemari Annisa.

Percayalah, aku tak pernah bohong padamu

“Benarkah? Apakah aku satu-satunya wanita yang kamu cintai” tanya Annisa pasrah.
“Iya…”

“Tolong,jangan berpikir aku punya wanita lain. Hanya,kamu wanita yang kusayang.Dan telepon yang kamu jawab tadi,hanyalah telpon nyasar. Aku sudah menelpon balik orangnya. Kalau kamu tak percaya. Kita telepon sekarang, dan kita akan menemui orang itu bersama” Annisa menyimak penjelasan Bekti. Itu,juga ada dalam pikiran Annisa. 

Senyum Annisa mengembang. Menyadari,ketololannya. Sungguh pendek,pemikirannya menuduh suaminya tanpa bukti jelas.

“Maafkan,aku yank” ucapnya malu-malu.











Comments

Post a Comment

Tulisan Beken