Gelas-Gelas Kaca





Ibu tak bisa bicara,sebab Ia bisu! Dari mulutnya hanya terdengar suara sengau tak jelas, ah..uh..ah..uh saja. Pekerjaannya pemulung.Tiap hari bergumul dengan sampah kotor. Hal itu,membuat Nilam sangat malu memiliki seorang Ibu seperti dirinya. Nilam muak tiap hari harus melihatnya.

Dalam hatinya,Nilam iri melihat teman-temannnya. Ibu mereka cantik dan penampilan mereka up to date. Apalagi Ibunya Shahnaz,yang mantan model itu. Sehari-harinya pakaiannnya rapi dan wangi.Sedangkan ibu Nilam? Ugh, bajunya kotor dan kumal,sedangkan keringatnya prengus. Nilam sangat membenci ibunya.

Uuuuuuuhhhhh” Ibu melambaikan tangan mengajak Nilam makan. Dengan rasa malas,Ia menghampirinya. Dengan wajah tersenyum, ibu memberinya sepotong paha ayam goring crispy,sedangkan Ia  makan dengan krupuk sisa kemarin dan lalapan yang Ia petik dari belakang rumah. 

Nilam makan dengan lahap sekali,tanpa ingin menawari Ibu ikut mencicipi ayam goring Crispi ini. “Ah…sudah sepantasnya bagi Ibu menyediakan makanan yang enak untuk anaknya.” Piker Nilam tak acuh.

Selesai makan, perut Nilam masih belum puas. Dia ingin membeli kebab di depan Toko Haji.Harun. Sudah lama Ia menginginkannya. Sayangnya, uang jajan yang diberikan oleh Ibu selalu dihabiskannya.

“Minta uangnya bu, aku mau beli kebab” ku tengadahkan tanganku meminta uang pada Ibu yang sedang mencuci piring di sumur. Dia hanya menoleh kemudian menggeleng.Nilam kesal melihatnya.

Tanpa banyak kata, Nilam mengambil piring yang ada ditangan Ibu. Kemudian Ia membantingnya kasar. Piring itu hancur berkeping-keping. Seperti hati Ibu melihat kekasaran sikap putrinya.Wajah Ibu nanar melihatnya. Kemudian….

Plak 

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kirinya.Nilam tak terima diperlakukan seperti itu. Matanya merah,kedua tangannya berkacak pinggang. Ia memaki Ibunya.

“Aku benci Ibu,kenapa Ibu tak mati saja.Aku tak suka memiliki Ibu bisu seperti kamu!!!” suaranya gemetar menahan amarah. Ia lalu menendang bejana di dekatnya.Dan berlari keluar rumah.

Ibu hanya menatapnya dengan tatapan sedih. Airmatanya deras berlinang.

***
Hari sudah mulai gelap.Nilam bergidik ngeri menyusuri jalan yang mulai sepi. Ia enggan pulang kerumah Ibunya.

Sepasang mata lapar,menatap tubuh Nilam yang mulai bertumbuh tanpa berkedip. Dengan wajah tersengal,menahan nafsu. Ia menghadang Nilam,membekap mulutnya dan menyeretnya jauh ke semak-semak tak bertuan. Nilam berusaha keras membela diri. Tapi, tubuhnya kalah besar. Lelaki botak dengan mulut berbau alcohol leluasa memuaskan nafsu binatangnya pada Nilam berkali-kali. “Ibu…….tolong Nilam”rintihnya tak berdaya.Baru kali ini Ia merasakan kangen yang luar biasa pada Ibu.

Setelah puas menuntaskan hajatnya, Lelaki itu mengambil sebatang rokok kretek,lalu dihisapnya pelan-pelan. Nilam mengamati dengan perasaan takut. Ia tak bergeming dari tempatnya semula.Dan terlalu takut mati bila berteriak. Ia menggigit bibirnya sampai berdarah,akibat rasa sakit diselangkangannya. Lelaki itu berdiri,dan melemparkan selembar uang 20 ribuan padanya.”Awas..kamu melapor. Aku akan membunuhmu!!”ucapnya galak.Dan meninggalkan Nilam di kegelapan malam.

***
“Kalau tahu begini,takkan kubiarkan kamu memungutnya dari tempat sampah dulu,Jum” Sesuatu menohok hati Nilam. Ia tadi pura-pura tidur.saat Wak Juned menjenguknya di Rumah Sakit.

Pikiran Nilam,semakin kusut. Anak siapakah dia?kenapa orangtuanya tega membuangnya ke tempat sampah. Ia terisak,menyadari betapa sikapnya teramat buruk pada Ibunya. Padahal,dia bukan ibu kandungnya sendiri. Meskipun dia bisu,tetapi sangat sayang pada Nilam. Dan berusaha membahagiakan Nilam. Ibu tak pernah mengeluh sedikitpun.

Melihat Nilam menangis,Ibu mendekati Nilam.ia membelai rambut Nilam lembut.”ah…uh” katanya menyemangati. Nilam makin tergugu.”Maafkan,Nilam Ibu….huuu..huuuu huuuu” tak kuasa melawan rasa sesal didadanya.

Comments

Tulisan Beken