03.00 AM



           
“Aku nggak mau menikah, Mak” Nuri memainkan kalung panjangnya. Emak memandangnya, sinis. “Apa yang kamu cari lagi, Nur ..! Kamu sudah memiliki pekerjaan, rumah dan mobil sendiri. Tinggal suami yang belum kamu punya!”. Nuri mulai tak sabar. Dia bosan dengan kata-kata yang terus di ulang oleh Emaknya. Ia memalingkan muka, menghadap kebun mawar, yang bunganya mulai bermekaran. Sesaat dirinya merasa tenang.

            “Nur, tidak suka menjadi pembantu seorang lelaki seperti Emak melayani Bapak, Nur, benci itu” kata Nuri ketus dan meninggalkan Emak, sebelum  mendengar omelan panjangnya. Emak memandang punggung putrinya. Frustasi. Ia tak bisa meruntuhkan sifat keras kepala, Nuri.

            Nuri,membanting tubuhnya di atas kasur kingsize bednya yang empuk. Tempat tidur mahal hadiah dari salah seorang pejabat dengan kepala botak yang di kenalnya di tempatnya bekerja. Lelaki yang selama ini selalu royal memberinya uang saku berlebih. Bukan dari dia saja, tetapi dari banyak lelaki yang tergila gila dengan kecantikan wajahnya.

Memiliki banyak uang, suatu keharusan baginya. Dengan begitu, Ia bisa berfoya – foya mentraktir teman-temannya, hunting makanan dan barang barang mahal kemudian dia pamerkan di media social miliknya. 

Masa kecilnya,menyedihkan. Bapaknya hanyalah kernet bus antar kota. Kadang seminggu sekali pulang. Uang yang seharusnya dia berikan pada istri dan anaknya, malah dia habiskan untuk  ngudut dan bir oplosan. Pulang sering dalam keadaan teler. Sehingga Emak harus banting tulang untuk biaya hidup serta sekolah Nuri serta ketiga adiknya. Anehnya, Emak masih setia dan sabar melayani Bapak. Padahal, Nuri menganggapnya parasit di rumahnya.

Selama ini, Nuri menyembunyikan rapat-rapat soal pekerjaannya pada keluarganya. Dia tak mau Emak dan adik-adiknya malu pada dia. Kadang, nuraninya berontak, melihat teman-temanna yang sudah berkeluarga. Dia ingin berhenti. Dan hidup normal, punya suami dan anak. Tetapi, perasaan itu lewat hanya sesaat. Dia kembali sibuk menekuni dunia gemerlapnya.

“Emak, ingin melihatmu, menikah Nur. Apa kamu tidak mau menyusul, Citra, adikmu. Anaknya lucu-lucu lho”. Emak mencoba merayu Nuri. Dia berdiri di depan pintu kamar putrinya. Tak berani masuk. “Pergilah,Mak! Nuri sudah muak dengan kata-kata Emak” 

Bug. Nuri melempar bantalnya ke pintu. Emakpun pulang tanpa pamit.

***
“Mbak ….pulanglah, Ibu sakit” Chandra, adik keduanya mengiriminya pesan pendek. Nuri membacanya sekilas. “ Mbak sudah mengirim uang untuk biaya Ibu ke dokter” balasnya. Dia kemudian, menggandeng lelaki yang sudah lama menunggunya di teras.

“Kamu, kenapa,cantik. Dari tadi manyun melulu” Reynand menyentuh dagunya. Nuri tersenyum samar. “Aku memikirkan hubungan,kita” jawabnya spontan. Reynand tergelak. “Apa lagi yang kamu ragukan, hum ……. berulangkali ku bilang, Aku serius dan ingin melamarmu. Tetapi, kamunya saja yang terus mengelak.” Nuri membisu.

Reynand, salah satu cowok langka yang dia temui. Beberapa bulan lalu, di Coffee Shop. Saat dia tak sengaja menumpahkan kopi miliknya. Lantas saling bertukar pin BBM. Hubungan mereka semakin intens, karena sama-sama menyukai kopi dan kartun shincan Baru kali ini, Nuri nyaman bersama seorang lelaki.

“So ….kapan aku bisa bertemu dengan kedua orangtuamu” Reynand mengagetkan lamunan Nuri.

“Oh, eh…hmmmmmmmmm, nanti deh kapan-kapan” Nuri tak mau menjawab jelas. Wajah cantiknya mendadak pias. “Rey, kita pulang saja,please. Kepalaku pusing” Reynand langsung memutar kemudinya,kembali ke rumah Nuri.

            Sudah 1.460 hari, Nuri tak pulang ke kampong halamannya. Ia rindu Emak. Rindu keceweretan dan masakan rendang Emak Sayangnya dia terlalu egois, untuk mengatakannya. Emak tak pernah menengoknya semenjak perdebatan mereka terakhir kali. Dia juga tak mau mengunjungi Emak, Meskipun adik-adiknya berulangkali membujuknya untuk datang. Dia bergeming. 

            Tapi …. Hari ini, dia kangen sekali dengan Emak. Nuri memandangi foto teduh emaknya. Dia memeluknya sampai tertidur. 

            Dan terbangun, ketika mendengar suara bel berbunyi tiga kali. Nuri mengucek-ngucek matanya. Dilihatnya jam dinding dikamarnya. Masih jam 3 pagi. Dengan rasa malas, Nuri membuka pintu. Dia terperangah,ketika Emaknya berdiri di depan pintu. “Mak ….emak…” Nuri memeluk dan menciumi wajah emaknya. Tubuh Emaknya dingin. Wajahnya pucat pasi, dan kelihatan lelah. “Kata Chandra, Mak sakit, jangan …jangan mau ngerjain Nuri, ya” Emak tak menjawab, dia langsung ke dapur. 

            Tanpa banyak bicara, Emak langsung menuju kulkas, mengambil daging dan bumbu yang ada disana. Nuri merasa aneh dengan sikap dingin emaknya. Mungkinkah emak masih marah padanya. Emak yang biasanya cerewet berubah menjadi pendiam, dia terus memandangi Nuri,ketika mereka duduk di sofa menunggu rending matang. “Cepatlah,menikah nduk, tak baik lama-lama sendiri” ucap Emak lirih, membelai kepala Nuri. Mata Nuri hangat. Dia memeluk tubuh emaknya yang semakin dingin.

            “Cepat makanlah” Emak mengambilkan nasi dan rending untuknya. Nuri melahapnya puas. Wajah emak semakin pucat. “Kita ke Rumah Sakit, Mak” Emak menggeleng. “Emak ingin tidur denganmu” Nuri mengangguk. Dan menggandeng tangan kurus emaknya. Mereka tidur berdekapan.

            Suara ponsel Nuri bordering.

            Nuri mengangkatnya, suara Bapak serak, “ Pulanglah,nak. Ibumu meninggal jam 3 pagi tadi.” Ponsel di tangan Nuri terjatuh. Pikirannya kalut. Dia menoleh ke tempat tidurnya. Tidak ada emak disana. Nuri berlari ke dapur, dan membuka kulkas. Di sana ada semangkuk rendang buatan emak. Nuri mencubit lengannya. Semuanya nyata. Nuri seperti orang linglung, tak mengerti apa yang terjadi.

            Ponselnya berbunyi lagi, Citra menelponnya.

            “Mba, Ibu mbak…Ibu….” Suara tangisnya nyaring di telinga Nuri. Badan Nuri lunglai, sebelum semuanya gelap.
           
           
           
           

           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken