Miss Lele.




“Lele ….. tunggu!!” Levana tak mengindahkan panggilan Kenzo. Ia berlari menuju tempat parkiran sepeda. “Uh …. dimana kunciku?” dia merogoh semua kantung di tas dan saku bajunya. Namun Ia tak menemukan kuncinya. Keringat membasahi poninya.
            “Kamu mencari ini …?” Kenzo mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan boneka kecil piglet dari saku celananya. Levana segera menyambar kunci itu. “Eits …. emangnya ini bener milik kamu,apa buktinya?” kata Kenzo cepat, dan memasukkan kunci itu kembali ke dalam sakunya. 

            Levana cemberut, Ia begitu kesal dengan Kenzo yang suka memanggilnya dengan nama “Lele”. Apa dia pikir. Wajahnya mirip Lele? Aaraghhhhhhhhhhhhhhhh sebel.
            Kruk…kruk..kruk…
            Perut Levana berbunyi. Suaranya kenceng, membuat Kenzo tersenyum masam. Ia sebenarnya kasihan dengan Levana dan ingin memberikan kunci itu secepatnya. Tetapi…kalau dia memberikannya langsung. Maka dia tak bisa menggoda gadis yang diam – diam di sukainya itu.
            “Kenzo … berikan kunci sepedaku?” Levana mengulurkan tangannya. Kenzo tak menjawab. Dia malah menarik tangan Levana. Gadis itu memberontak, memintanya supaya melepaskan tangannya. Namun Kenzo tak acuh. Dan membawa Levana keluar parkiran. “Kita … mau kemana?” kata Levana marah. Rasa laparnya sudah di ubun-ubun, membuatnya tak sabar.
            “Lele, kalau kamu mau kuncimu,ikutin aku dan jangan berisik, oke … !!” dengan langkah kesal. Levana terpaksa menuruti perintah Kenzo. Mereka berhenti di Warung Bakso Saepedes di seberang sekolah. Anak itu baru melepaskan tangannya, setelah menyuruh Levana duduk. Kemudian, dia memesan dua mangkuk bakso dan es degan untuk mereka.
            “Cepetan di makan, ntar keburu dingin?” Meskipun hatinya dongkol. Levana menurut apa kata Kenzo. Ia tak menyia – nyiakan rezeki yang ada di hadapannya dan melahap bakso serta es degan dengan cepat. “Aku sudah selesai. berikan kunciku sekarang” Dia berdiri di samping Kenzo yang asyik mengunyah bakso.
“Haishhhh…” Kenzo terperangah dengan kecepatan Levana makan. Dia menggeleng. “No” lalu dia menyeruput es degannya. Masih ada satu bakso di mangkuknya, Ia sengaja memakannya pelan-pelan. Levana geregetan sendiri. Dia lalu berdiri, dan langsung pulang dengan naik becak setelah membayar bakso mereka. Ia tak peduli lagi dengan sepeda miliknya.
Kenzo hanya bisa melongo melihat kepergian Levana.
***
Kenzo, menunggu Levana di depan gerbang sekolah, sedari jam 6 pagi. Namun sampai bel tanda masuk berbunyi, gadis bermata indah itu tak kunjung datang. Ia masuk kelas dengan hati masygul.
Kemana dia. Kenzo menoleh ke bangku Levana. Bangku itu kosong. Hanya Dewi , teman sebangkunya yang tampak sibuk merapikan rambutnya. “Kemana, Lele” Dewi pura-pura tak mendengar. Dia tak suka Kenzo memanggil sahabatnya, dengan sebutan Lele.
“Levana, maksudku”
“Oh …Levana sakit, maagnya kambuh”
Deg …..
Kenzo menjadi lesu. Ia kembali ke bangkunya. Jam pelajaran terasa berjalan lamban.
Teeettttttttttttttttttttttttttttttt…teeeeetttttttttttttttttttt…bel tanda pulang berbunyi. Anak kelas 11 keluar dengan wajah senang, di belakang Pak Danu. Guru Matematika mereka yang terkenal Killer.
Kenzo menunggu Dewi di depan kelas. Dia langsung berdiri di depan pintu menghalangi langkah Dewi yang bermaksud pulang. Dan mengancamnya akan tetap berdiri di situ sampai Ia mendapatkan alamat Levana.
“Ayo, dong Dew, jangan pelit. Kasihlah aku alamat atau telponnya Lele, ups Levana maksudku” Gadis itu melengos. Ia dongkol, Kenzo membuntutinya dari pagi, menanyakan alamat dan nomor telepon Levana.
“Baiklah  … tapi dengan catatan. kita kesananya bareng” sahut Dewi menyerah. Kenzo dan Levana seperti Tom dan Jerry. Mereka bermusuhan tapi saling merindukan saat salah satu dari mereka tak ada.
            “Katanya ke rumah Levana, kenapa kita ke rumah sakit”  sungut Kenzo.
            “Levana di rawat disini, dodollllllll”
            “Kenapa nggak bilang dari tadi?” jawab Kenzo.
            “Emangnya kamu, nanya? Sindir Dewi asal. Dan Kenzo segera pergi ke minimart di depan Rumah Sakit. Membeli sekedar buah tangan untuk Levana.
            Dari jendela kaca Rumah Sakit, Dewi memperhatikan Kenzo yang terlihat terburu-buru mengambil barang. Ia kaget setelah tahu ada banyak tas plastic di tangannya.
            Dewi tersenyum, melihat Kenzo kerepotan membawa barang belanjaannya. Dia lalu membantunya “ Kamu mau camping,apa          menengok orang sakit?” ledek Dewi.
            “Aku tak tahu apa yang boleh dimakan oleh Levana, jadinya ya aku beli saja yang ada di situ” Dewi  tak menyangka. Kenzo begitu perhatian pada sahabatnya.
            Dewi membuka pintu kamar 202. Sedang Kenzo tampak tegang berdiri di sampingnya.           
Kenzo memandang Levana, iba. Gadis pujaannya itu tertidur dengan wajah pucat dengan selang infus di lengannya. Tiba-tiba dia merasa bersalah. Kemarin, dia sudah mengerjainya.
Mama Levana menyambut mereka, ramah. “Tante, ini kenalkan Kenzo, teman sekelas kami” Kenzo mencium takjim tangan Mama Levana. Dewi surprised melihatnya.
“Oh ini Kenzo tho, makasih ya nak, sudah membantu memperbaiki sepeda Leva. Anak itu memang keras kepala. Kami sudah melarangnya sekolah naik sepeda, eh malah dia ngotot” Kenzo semakin tak enak hati.
Levana menggeliat, bangun. Dan kaget menyadari ada tamu yang datang membezuknya. Tante ijin ke kantin. Kemudian, Dewi duduk di kursi di sebelah ranjang Levana. Dia mencomot roti yang ada situ. “Gara-gara Kenzo, aku di kelaperan” seraya menggigit roti isi daging dengan gigitan besar. Levana tertawa.
“Lev, kamu tahu nggak, Kenzo kesepian nggak ada kamu, lihat tuh, wajahnya jadi kuyu” kata Dewi  dengan mulut yang penuh roti. Kenzo tertunduk. Hatinya tiba-tiba bergemuruh.
“Lele ups sorry, Levana, maafkan aku. Gara-gara kemarin kamu jadi begini” Levana tersenyum.
“Please deh, jangan baper” ganti Levana yang mengerjai Kenzo.
“Ehem, peace ..peace, lebih baik kalian akur. Aku lihat kalian saling suka. Hayo pada ngaku aja” timpal Dewi gemez melihat mereka berdua. Levana dan Kenzo saling pandang. Dan salah tingkah ketika dilihat oleh Dewi.
“Tuh kan,Kenzo….nggak usah malu, bilang saja langsung pada Leva” Dewi cekikikan keluar, dan membiarkan kedua anak manusia itu berdua.
“Kenapa kamu selalu memanggilku,Lele?” Tanya Levana ingin tahu.
“Dengan begitu, kamu memperhatikanku” Kenzo menggenggam jemari Leva hangat. Kemudian mata mereka bertatapan,mesra. “




           
           

           

Comments

Tulisan Beken