Pain Part 1




Kastiyem mengaduk-aduk kuah kare yang terlihat mengepul panas diatas perapian. Lalu,Ia membuka kulkas,dan diambilnya sebuah botol kaca berwarna gelap. Dan diambilnya beberapa sendok didalamnya,kemudian Ia masukkan ke dalam kuah kare sebagai resep rahasia.

Ia mencicinya sekali,dan tersenyum puas penuh arti. Sepuluh menit lagi,warung nasinya buka. Bersama dengan kedua putrinya,Kastiyem mempersiapkan semuanya. Tanpa disuruh, Lala dan Lila sudah tahu apa pekerjaannya. Tanpa diminta keduanya membantu ibunya. Mereka berbagi tugas,ada yang membantu Kastiyem didapur. Sedangkan yang lainnya bersih-bersih diwarung. Mereka sangat menghargai waktu.


Diluar,ternyata antrean orang sudah mengular. Kastiyem merasakan dadanya penuh.Matanya ijo membayangkan pundi-pundinya akan semakin penuh dengan uang.Jam 10 tepat, Kastiyem membuka warung.Diapun gesit melayani pelanggan.

***
Kastiyem baru empat bulan membuka warung nasi dirumahnya. Meskipun usia warungnya seumur jagung,namun nama warungnya sudah terkenal. Bukan hanya disekitar tempatnya tinggal. Tapi sudah sampai keluar kota,promosinya dari mulut ke mulut. Dikarenakan cita rasa makanannya sangat enak. 

Menu andalannya adalah AYAM KARE,dimana bumbunya yang mlekok dengan daging ayamnya yang lembut. Tak sampai empat jam. Dagangan Kastiyem ludes, membuat banyak pelanggan yang kecewa,karena mereka sudah lama antri.

“Bu,apakah tidak sebaiknya kita menambah porsi jualan kita.Kasihan pelanggan yang tak kebagian.Mereka sudah datang jauh-jauh kesini”Kata Lala,sembari menghitung uang di dalam kotak.

Kastiyem berdiri,menyulut rokok kreteknya,kemudian dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Ia mulai menyukai rokok semenjak suaminya jarang pulang kerumah.

“Bumbu rahasia kita tinggal sedikit,dan kamu tahu kan,Lila.Bahannya itu susah dicari.Ibu tak bisa melakukannya sendirian.” Kastiyem menghembuskan asap rokoknya ke udara. Mulanya asapnya tebal menutupi wajah lelah Kastiyem,kemudian berangsur menipis di terpa angin malam.

Ibu tenang saja! aku dan Lila akan membantu Ibu mencarinya” Jawab Lala dengan rasa percaya diri yang kuat. Lala umurnya sekitar 20 tahun,sedangkan adiknya, Lila terpaut 3 tahun dibawahnya.Keduanya memiliki paras yang cantik.Terutama Lila,hidungnya bangir dengan mata yang lentik.Rambutnya panjang dan hitam. Dengan kulit putih terawat.banyak pemuda yang kepincut dengannya.

Baiklah,besok kita libur.Sekalian belanja meja dan kursi.” Kastiyem merengganggkan kedua tangannya kesamping.Badannya begitu lelah setelah seharian sibuk di dapur. Matanya mulai mengantuk, Ia menguap beberapa kali.”Ibu mau tidur dulu,kalian jangan terlalu malam menontonnya.Besok tugas kita banyak.” Lala dan Lila mengangguk, mereka melanjutkan menonton film pembunuhan di teleivisi.

“Kak……aku takut” bisik Lila pelan. Ia duduk dekat Lala. Lala memandangi wajah pucat adiknya.Dielusnya tangan adiknya.”Ibu dan Kakak,selalu bersamamu.Percayalah,kami akan selalu melindungimu. Besok,kamu tinggal ikuti apa yang kakak bilang,setelah itu selebihnya serahkan semuanya pada kakak.” Lila hanya bisa mengangguk.Meskipun hatinya tak setuju.Ia terlalu takut pada kakak terutama pada Ibunya.

***
Di sebuah café yang pengunjungnya tak begitu ramai. Kastiyem mengajak kedua putrinya.Pakaian mereka,lain dari biasanya. Hari itu,Kastiyem memakai baju warna krem,di padu celana warna khaki dengan sepatu wedge dengan warna senada.Dilehernya ada seuntai kalung mutiara.Sedangkan tangannya menenteng tas Hermes KW. Ia tampak elegan.

Tak berbeda jauh dengan ibunya Lala dan Lila, tampak cantik dan anggun dengan pakaian yang mereka kenakan.Setelah memesan minuman,mereka mengedarkan pandangan. Mata Lala tertumbuk pada sosok cowok culun berkacamata yang sedang asyik membaca buku. Ia memberi kode pada Lila.

 Kemudian Lila pergi ke toilet, sengaja Ia jalan memutar melewati meja pemuda yang di incar kakaknya. Dadanya berkecamuk saat tanpa sengaja mata mereka bertatapan.Ia begitu gugup,sampai tak sadar kakinya terantuk kaki kursi.Iapun limbung..

Kamu tak apa-apa” Kata cowok culun itu seraya memegang bahu Lila. Lila menggeleng malu.”Trimakasih,karenamu aku tak jadi jatuh” Ia mengulum senyumnya. Cowok itu terpana melihat senyuman Lila. Beberapa kali Ia terlihat gugup dan menyeka keringat di keningnya.

“Apakah bangku ini kosong” Lila menghempaskan tubuhnya di kursi,didepan cowok itu. “Perkenalkan namaku Lila” yang disambut dengan anggukan kecil,pemuda itu tak banyak cakap.Tapi bukan Lila namanya bila tak bisa merayunya.”Aku Anton,baru kuliah di Fakultas Hukum.” Jawab Anton akhirnya. Hatinya luluh,menatap wajah ayu Lila.

Di seberang meja, Kastiyem dan Lala puas melihat mangsa mereka mulai tertarik pada Lila. Adiknya memang memiliki pesona sendiri,bisa dibilang dia gampang menaklukan hati laki-laki meskipun otaknya sedikit lemot. Sehingga dia harus dropout dari sekolah.

Anton,apakah kamu mau ikut jalan-jalan dengan kami” Lila meneguk Jus mangganya yang masih setengah gelas. Mata Anton tak berkedip memandangnya.”eh..apa katamu” jawabnya gelagapan. Lila mengulang pertanyaannya lagi. Dan menjetikkan tangannya pada lengan Anton, nakal.”Oke…aku ikut”. Hari gini, hanya cowok bodoh yang menolak ajakan cewek cantik. Pikir Anton. Ia begitu semangat menanggapi ajakan Lila,gadis yang baru beberapa menit di kenalnya.

Setelah, Anton di perkenalkan pada Kakak dan Ibunya. Mereka berempatpun naik ke mobil yang mereka sewa menuju pusat kota. Lila dan Anton duduk di kursi belakang. Mereka tertawa terpingkal-pingkal mendengar lelucon Lala. Sedangkan Kastiyem tersenyum tipis. Ia menawari Anton camilan dan minuman dingin.

Minuman ini buatan Lala,rasanya segar sekali.Apa kamu mau mencobanya?”Kastiyem memberikan sebotol minuman dingin pada Anton. Tanpa rasa curiga Anton meminumnya. Diteguknya minuman itu banyak-banyak. Lila menegang melihat wajah Anton.

Lima menit kemudian,Anton terkulai lemas disamping Lila.

“Lala,carilah tempat yang sepi”Perintah Kastiyem.
“Santai bu, aku sudah tahu” dengan suara yang begitu tenang. Matanya melihat Anton dari kaca spion. Ia menyerigai.Lila bergidik ngeri melihat kakaknya. Sifatnya yang kejam terbungkus rapi dengan sifat kalemnya.

Setelah dirasa aman.Lala meminggirnya mobilnya. Lalu Ia menyuruh Lila berjaga di luar. Lila menurut,tanpa banyak protes.Hari sudah mulai gelap. Semilir angin dingin menyapa kulitnya lembut.

Ia tak tahu apa yang dilakukan Kakak dan Ibunya di dalam mobil.20 menit kemudian,Ia masuk,dan Anton sudah tidak ada disana lagi. Lila melihat ke belakang. Sebuah tas koper besar beserta barang belanjaan mereka.” Hiiiiii……” bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
Bersambung







Comments

Post a Comment

Tulisan Beken