Pain Part 10





Bagian 10

            Jauhi Lila. Dia sebentar lagi akan menikah” Pinta Lala pada Raffat yang datang berkunjung ke rumahnya. Hampir dua minggu, Lila tak memberinya kabar. Sehingga membuat Raffat khawatir. “Oh ….menikah dengan siapa?” Raffat tak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya.Lala tak menjawab. Dia kemudian mengusir Raffat secara halus. ”Maaf,kami sedang sibuk sekarang.” Wajah Lala tanpa ekspresi,mengantarkan Raffat sampai ke pintu gerbang.
            Lala masygul,bukannya dia yang di cari,tapi kenapa justru Lila? Meskipun Lila memberitahunya,bahwa dia dan Raffat tak ada hubungan special,hanya persahabatan semata. Lantas,kenapa dia harus cemburu. Bukankah,jalannya semakin mulus,bila Lila tidak ada? Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya yang penuh.
            Lila,melihat punggung Raffat dengan hati terluka. “Kenapa,Raffat tak disuruh masuk,Kak” Lala mencibir menatap adiknya. “Untuk apa” Tanyanya dengan gusar.

 
            Dia mencariku,kan?percuma juga, bohong.Aku tadi mendengar percakapan kalian tadi” Lila mulai marah. Dia tak menyangka,sikap Kakaknya begitu naïf.
            Lala menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
            “Terus,kenapa kamu tak mengejarnya? Balas Lala angkuh.
            “Aku tak mengejar Raffat,sebab Aku ingin melindunginya dari kekejamanmu” Tuding Lila,menohok jantung Lala dan membumkam mulutnya, Ia mulai menyadari Lila sudah berubah.
***
            Di tempat lain, Kastiyem,sengaja mengajak Haji. Ali untuk bertemu. Matanya sembab,kebanyakan menangis,memikirkan nasib anaknya,Lila. “Kamu,boleh memiliki tubuhku,tapi tolong…jangan ambil putriku untuk kamu jadikan istri. Kasihan dia” Haji Ali memandangnya tanpa empati. Dia terlanjur jatuh cinta pada kecantikan dan kemolekan tubuh Lila. Langit bakal menertawankannya,bila dia mau menukar Lila dengan Kastiyem yang sudah keriput sana sini. Haji Ali,tergelak.
            “Ali, apa kamu tidak ingat, dulu kamu tergila-gila padaku,dan istrimu,huh masih kalah jauh denganku” Kata,Kastiyem frustasi.
            “Hahhahhhaahha! Sadar Yem, itu sudah lampau,coba kamu ambil kaca sana, dan lihat betapa tuanya kamu sekarang??!! Kastiyem dongkol,mendengar jawaban Haji Ali.
            “Aku sudah membuat keputusan,Lila kau berikan padaku, dan sebagai gantinya,selain hutang suamimu lunas, kau ku berikan mahar  300 juta,bagaimana?” Haji. Ali mengeluarkan handphonenya dari dalam tasnya. Kastiyem,tergoda. Dengan uang sebanyak itu,mudah baginya untuk  membuka warung di tempat lain,yang jauh dari tempatnya sekarang.Dia mengangguk dan tanpa sungkan, dan memberikan nomor rekeningnya pada Haji.Ali. “Sudah,kukirimkan ke rekeningmu” Wajah Kastiyem yang tadi murung,kini berubah sumringah. Uang sudah membutakan hatinya.
***
            Ry, aku melihat Kakak,memandangi foto Raffat di handphonenya. Ia diam-diam mengambilnya saat ada disini. Mungkinkah Kakak menyukai Raffat dan sekarang berusaha menyingkirkanku,supaya dia bisa leluasa mendekatinya? tulis Lila pada buku diarynya.
            Kemudian dia menekuri buku diarinya.Seolah mencari jawaban.
            Ini tak adil Ry,selama ini aku diam,dan kini….semuanya yang kulakukan percuma. Setetes airmata jatuh di pipinya.hatinya bergejolak,dia bimbang.
            Aku akan mengakhirinya………….kata Lila. Kemudian Ia menyelipkan sesuatu ke dalam diary itu lalu membungkusnya dengan rapi. Di sembunyikannya buku itu di tempat yang tersembunyi.
            “Mau kemana,kamu” langkah Lila terhenti. Di lihatnya Lala berdiri tegak di depan kamarnya.
            “Aku ingin,jalan-jalan sebentar,Kak” Lala menggeleng.”Tak boleh!” Kata Lala ketus, sambil menghadang langkah Lila.
            “Minggir” Sahut Lila mendorong keras tubuh Lala. Tubuhnya jatuh terjerembab menubruk kursi di sampingnya.
            “Ups, sorry Kak, Aku terburu buru” Dia tak memperdulikan teriakan kakaknya,dan melenggang keluar,mengambil sepeda motor dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
            Lala mengambil handphone.“Ibu,cepat pulang,Lila kabur” hatinya tak sabar menunggu Kastiyem pulang.
            Satu jam kemudian, Kastiyem bersama dengan Rustam,sampai dirumah. Lala sewot melihatnya.
            Ibu, keterlaluan sekali. Diluar bersenang-senang,sedang aku disini,senewen memikirkan Lila”
            “Tenang,La. Lila takkan kemana-mana,dia sebentar lagi pulang”
            “Bagaimana Ibu tahu? Selidik Lala. Matanya melirik ke Rustam yang berdiri di teras,menghisap rokok. Kastiyem, tak menjawab pertanyaan Lala, dia mengalihkan topic.
            “Ibu sudah setuju, Haji Ali memperistri adikmu. Lagipula, dia juga baik” Tak urung persetujuan Ibu,membuat Lala tersenyum.
            “Trus,bagaimana kalau kita menyewa tempat di Mall Gandarukem. Ibu lihat prospek disana bagus. Sewanya juga tak terlalu mahal” Kastiyem berapi-rapi menceritakan soal rencananya membuka warungnya kembali. Kemudian,Kastiyem, Lala termasuk Rustam terlibat pembicaraan serius. Sampai tak menyadari Lila sudah datang, dan masuk ke kamarnya.
***
            Malam, masih tak terlalu larut, suasana desa yang biasanya sepi tampak ramai. Bapak-bapak terlihat bergerombol. Ada yang membawa obor,lampu petromax, senter, dan kentongan. Tadi sore, istri Kang Bahar ke rumah Pak Kades. Sambil menangis tersedu-sedu dia memberitahu bahwa Kang Bahar belum pulang dari kemarin.Kemudian, dia meminta Eko dan Raffat di bantu beberapa warga mencari keberadaan Kang Bahar.
            Hhhhh…berhenti dulu,Mas,betisku sudah pegel” Eko kepayahan,memohon pada Raffat. Dia menyetujui. Kakinya juga capai. Berjalan berkilo meter menyusuri bukit sampai ke desa sebelah mencari Kang Bahar,tapi belum ada hasil.
            “Apa kamu,sudah menelponnya” Tanya Kang Rahmat,menyulut rokoknya.”Telephonenya mati” Jawab Eko,memijit betisnya yang kaku.
            “Dua hari lalu, aku makan di warungnya. Tak ada gelagat  aneh yang ku lihat.Dia sibuk melayani pembeli. Setelah warung Kastiyem tutup. Warungnya  makin rame” timpal Kang Rahmat.         
            “Dan,kalian tahu tidak, Haji Ali akan menikah lagi” Eko langsung berdiri. “Haji.Ali yang mana?” tanyanya penasaran.
            “Haji.Ali orang yang terkaya di kota inilah. Emang kamu piker. Haji Ali siapa?”
            “Gadis mana,yang mau sama orang yang sudah gaek ya.Pasti dia sudah hilang akal” Kata Eko lagi.
            “Denger-dengernya sih, sama salah satu anak Kastiyem”
            “Haaaahhhhhhh…!! Eko terjengkang. Dia panic.membayangkan Lala bersanding dengan Haji Ali yang tua renta.
            “Nggak…nggak mungkin…” gumannya. Hatinya tiba-tiba perih. Sebab sampai detik ini, dia masih berharap Lala akan membalas cintanya.
Raffat yang sejak tadi diam,kemudian bersuara. “Lila,yang akan menikah” Eko bernafas lega.”Syukur…syukur…bukan Lala” Melihat tingkah Eko, Kang Rahmat tertawa.
Setelah beristirahat,mereka bertiga melanjutkan pencarian. Sayangnya sampai menjelang adzan subuh, mereka tak menemukan secercah harapan tentang keberadaan Kang Bahar.
“Kita pulang saja, yuk” Ajak Raffat yang lainnya mengangguk setuju.


                       
           

           

           

           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken