Pain Part 11




Bagian 11
            Rencana Kastiyem berjalan lancar. Gerai Kare Ayam miliknya, di Mall Gandarukem semakin membludak peminatnya. Hari-harinya semakin sibuk. Kastiyem yang memasak, Lala yang melayani pembeli. Rasa lelah mereka, seolah tergantikan dengan melihat wajah-wajah puas para pembeli dan banyaknya uang yang masuk.
            Hubungan Kastiyem dan Rustam semakin mesra. Mereka tak pernah menggubris penolakan Lala, kalau Ibunya memiliki seorang kekasih.
            Berbeda dengan Ibu dan Kakaknya yang bergairah. Lila, menjelang hari pernikahannya, bagaikan mayat hidup,yang menjalani hari-harinya tanpa secuil emosi. Dia tak pernah protes. Atas persetujuan Kastiyem,Lala menguncinya di dalam rumah,karena khawatir dia akan pergi. Tubuhnya makin kurus, serta lingakaran hitam menghiasi mata cekungnya.

            “Ibu,Aku sudah memesan baju pengantin buat Lila” Kastiyem mengangguk. Urusan perkawinan Lila dia serahkan semuanya pada Lala.
            “Apa kita perlu mengundang orang-orang kampung,Bu” Kata Lala lagi, tangannya sibuk mencatat pengeluaran di buku Kas.        Mumpung, suasana masih pagi,tak banyak kesibukan yang dia lakukan. Lala menunggu jawaban Ibunya.
            Kastiyem menggeleng. Dia tak ingin mengadakan selamatan apapun untuk perkawinan Lila,meskipun itu sekedar setumpeng nasi dan lauk-pauk. Rasanya percuma saja. Dia merasa berdosa pada Lila, Entahlah. Lala,mengangguk,samar. Dan kembali menekuri catatannya.
            “Tolong satu porsi Kare ayamnya,mba” Rustam datang dan  mendekati Kastiyem yang langsung berseri-seri melihat tampangnya. Tanpa di minta dua kali, dia menyiapkan sepiring nasi,semangkuk kare ayam beserta teh hangat untuk Rustam.   “Enak dong,maunya makan gratis terus” sindir Lala. Kastiyem melotot menatap Lala. Rustam hanya nyengir kuda, dan meremas jemari Kastiyem saat menyajikan makanan untuknya. Ibunya tertawa malu-malu. Lala yang melihat itu, kemudian menyingkir. Dia jengkel melihat kegenitan Ibunya yang seperti anak ABG alay.
            Lala perhatikan, semenjak bertemu dengan Rustam. Ibunya semakin memperhatikan penampilannya. Selain ikut Fitness, dia juga rajin pergi ke salon,bukan hanya sekedar potong rambut dan facial, tapi juga manicure pedicure. Sesuatu hal yang dulu amat di bencinya. Adakah Ibunya mengalami puber kedua? Tiba-tiba bayangan adiknya nampak di pelupuk matanya.
            Satu jam kemudian, di lihatnya Rustam sudah pergi. Lala duduk di samping Ibunya. “Bu,apakah tidak ganjil,lelaki ganteng semacam Rustam masih melajang sampai sekarang” Kastiyem menoleh kearah Lala. Dia tak mengerti tumben Lala bertanya seperti itu.
            “Dia baru saja bercerai, istrinya tak becus mengurusnya” Lala terbahak mendengar jawaban Ibunya.
            “Nggak becus apaan,dia kali yang nggak becus, sudah tua bangka,masih pecicilan” ucap Lala geram. Matanya menusuk mata Kastiyem. Secara tak langsung, dia membenarkan ucapan Lala. Tapi….. hatinya terlanjur membiarkan cinta lamanya pada Rustam bersemi kembali.
            “Ibu,nanti malam ada janji bersama Rustam. Kamu pulanglah sendiri” Lala cemberut. Hatinya bertambah benci dengan Rustam. Dia iri dengan ibunya,yang memiliki sandaran hati. Sedangkan dirinya sendiri…..ouf, cintanya pada Raffat susah payah dia sembunyikan,sebab tak ingin Lila mengetahuinya. Lalu,di bukanya telephone gengamnya. Di pandanginya ,seraut wajah yang tersenyum penuh pesona tanpa bosan. Lala mendesah,galau.
***
            Dengan memakai kebaya brokat berwarna putih,Lila tampak anggun. Matanya sembab, karena dia menangis semalamam. Haji.Ali  dan keluarganya berkumpul di ruang tamu bersama Ibu, dan Kakaknya. Tak banyak orang yang hadir di situ.Tetangga dan keluarga Kastiyem maupun Kusno juga tak di undang.
            “Saya terima nikahnya dan kawinnya Lila Amoura Amalia Binti Kusno dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian tunai” Hati Lila hancur lebur tanpa bisa di rekat lagi. Dia berjalan gontai menuju kamarnya setelah menyalami tamu yang hadir. Lala menemaninya di kamar, memberinya ucapan selamat. Tetapi, Lila diam membisu, seperti patung.
            “Tak usah khawatir, nanti aku dan Ibu sering menengokmu di rumah Haji Ali” Lila tak menjawab dan memilih memunggungi Kakaknya. Lila sudah eneg dengan Kakaknya yang berpura-pura manis terhadapnya. Tanpa sepengetahuan Ibunya, dia juga tahu, berapa banyak mahar yang diberikan oleh Haji. Ali. Sehingga Ibunya yang dulu menentang,kemudian menjadi lunak. Dan akhirnya menyetujui perkawinan itu.
            “Tinggalkan aku sendiri” pinta Lila tanpa ekspresi. Lala tak menjawab. Perasaannya tiba-tiba tak enak. “Tidak, aku ingin disini menemanimu, Lil” dia memeluk adiknya. Dengan kasar, Lila menghindar. Dia berdiri menghadap ke luar jendela,menatap bunga bogenvil yang bermekaran. “Semua sudah usai” ucapnya sendu.
            Terdengar ketukan di pintu. Lala membukanya. Kastiyem datang membawa sebaki kue. ”Tolong bantu Ibu di dapur” Lala menjadi gelisah. Ada sesuatu yang tak beres. Inginnya, dia tak mau meninggalkan Lila sendirian di kamar. Tapi, Ibunya memintanya untuk membantunya di dapur.
            “Apa perlu, Aku yang membantu Ibu” Lala menggeleng, tak mengijinkan Lila membantunya. Dia keluar dengan hati was-was. Wajah Lila tersenyum puas,melihat Lala keluar dari kamarnya. Cepat-cepat dia menutup pintu kamarnya. Dan menganjelnya dengan kursi dan meja rias. Kemudian, dia mengambil sesuatu di bawah tidurnya. Airmatanya meleleh,teringat orang yang sangat di kasihinya.
            “Lila mana” Tanya Haji Ali,menyadari Lila tak bersamanya. “Masih di kamar, tadi dia mengeluh pusing” jawab Kastiyem cepat. Dan membiarkan Haji Ali, pergi ke kamar Lila.
            Haji Ali mengetuk pintu. “Lila …. Buka pintunya!” Tak ada jawaban dari dalam. Dia memanggilnya sampai tiga kali,membuat Lala dan Kastiyem khawatir. “Lila…buka pintunya,sayang”. Kastiyem mulai histeris,ketika tak ada jawaban sama sekali dari dalam. “Mungkinkah, dia tidur lelap, La” tanyanya panic. Lala tak menjawab. “Kita dobrak saja pintunya”. Rustam segera mengambil ancang-ancang, Tapi di cegah oleh Haji Ali. “Percuma, sepertinya pintunya di ganjel dari dalam, kita lewat jendela saja.”
            Semua orang keluar,namun mereka kecewa.Lila menutup jendela kamarnya. “Cepat,ambilkan tangga!” teriak Rustam mengagetkan Kastiyem yang berada di dekatnya.

           
           
           

Comments

Tulisan Beken