Pain Part 12




Bagian 12
Eko yang sedang beristirahat di dekat rumah Kastiyem,curiga ketika melihat orang-orang yang panic keluar masuk rumah Kastiyem. Dia memberanikan diri masuk,meskipun Ia tahu, hari ini adalah hari perkawinan Lila. Lalu, seorang laki-laki berpakaian rapi mendekatinya. ”Tolong,carikan tangga” katanya tergesa. Tanpa banyak pertanyaan. Eko menyanggupinya dan segera berlari mengambil tangga di rumah Kang Rahmat yang rumahnya tak begitu jauh dari Kastiyem.

“Ayo,cepat ikut aku,Kang” Eko menyeret tangan Kang Rahmat. “Mau kemana, Ko. Ogah,aku. Kalau disuruh membantumu benerin genteng bocor” elaknya.

“Enggak, ini penting! Ayo cepet,ikut! Kita ke rumah Lala” Desak Eko tak sabar. 

“Sudahlah,Ko….nggak usah patah hati gitu.Ngapain kamu bawa tangga ke rumah Lala, hayo..jangan-jangan…kamu mau ngintip Lala mandi,yo” kang Rahmat cekikikan sendiri.

“Husssa…ngawur saja” Eko kemudian meninggalkan Kang Rahmat dengan rasa penasaran. Kang Rahmat jadi keki sendiri, di cuekin Eko, tak lama kemudian dia menyusul Eko ke rumah Lala.

Mengetahui Eko membawa tangga, Lala marah. “Ngapain,kamu kesini” bentaknya. “Aku diminta lelaki berpeci itu,membawa tangga” Eko menunjuk ke lelaki yang tadi menyuruhnya. “Mas….ini tangganya” teriak Eko. Lelaki itu menoleh. “Tolong naik ke atas, dan masuklah ke kamar ini” lelaki itu memerintah Eko. Eko plonga plongo tak mengerti.

“Nggak usah” teriak Lala menghalangi.Dan mengambil tangga tersebut, kemudian membantingnya ke tanah dengan agresif.

“Lantas..bagaimana kita bisa masuk ke dalam” Tanya Rustam tak habis pikir kenapa Lala semenjak tadi selalu tak setuju dengan apa yang mereka lakukan.

Lala diam, pikirannya kalut. “Semua, sudah usai” sebuah suara mirip Lila mengagetkannya. Lala tersentak, dan mencari darimana asalnya.“Kita pakai gergaji mesin saja! Kata Kastiyem tiba-tiba,tangannya membawa gergaji mesin. “Ibu …jangan” Lala merebut gergaji mesin di tangan Kastiyem. Untungnya di cegah oleh Rustam.

“Apa kamu tak takut gergaji itu melukai tubuhmu,La….!” Pekik Rustam. Haji Ali kesal dengan sikap Lala. Dia meminta Rustam dan temannya,menjaganya supaya tak ikut campur. Haji Ali kemudian bertanya, pada orang-orang, siapa yang bisa menggunakan gergaji mesin. Taka da yang menjawab.“Aku bisa” jawab Kastiyem tenang. Ia melangkah ke kamar Lila, menghidupkan mesinnya dan menggergaji pintu kamar Lila. Semua senyap,dengan pikirannya masing-masing. Mata mereka semua terpusat pada mesin gergaji yang ada di tangan Kastiyem yang lihai memakainya.

Brak…..Rustam menendang pintu.

Pintu terbelah. Perkiraan Haji Ali benar. Meja Rias mengganjal pintu itu sehingga mereka kesulitan untuk mendobrak pintu. Anak buah Haji Ali segera menggeser meja rias. Semua orang berebut masuk. Termasuk Eko yang tak tahu menahu.Kamarnya rapi, hanya meja dan kursi yang rebah.

“Lilaaaaa ……” Kastiyem dan Lala mencarinya ke tiap sudut kamar. Lila seolah lenyap. “Kemana Lila, mungkinkah dia kabur, tanpa sepengetahuan kita” Kastiyem berbicara sendiri. Haji Ali memegang pipi keriputnya. Ia sepertinya berpikir keras, dan mengambil telephone genggam Lila.

Tes….

Eko mengusap sesuatu yang jatuh menimpa kepalanya. “Haaahhhhhhhhhhhh…daaarahhhhhh …” Katanya dengan suara bergetar. Semua orang terkejut,dan sontak melihat ke atas plafon, ada noda merah disana. “Kamu, naik keatas…”Perintah Haji Ali pada Eko. Dia pun berlari mengambil tangga di luar dan segera memanjat ke atas plafon.

”Toooloong…Liillaaaaaa” Badannya seketika lemas, melihat tubuh Lila yang menekuk dengan lidah menjulur,mata melotot dengan lengan yang teriris. Darah segar menggenangi baju pengantinnya. Dengan kaki gemetar, Eko turun. Untuk beberapa saat dia seperti orang linglung, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

“Kenapa Lila ….” Tanya Kastiyem,mengguncang tubuh Eko. “Cepat turunkan, anakku” jerit Kastiyem. Lala yang sedari tadi diam, mulai tak tahan. Tanpa pikir panjang, Ia memanjat tangga. Dan berteriak histeris ketika tahu apa yang terjadi dengan Lila, adik yang selama ini disayanginya. Teriakannya sungguh menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. “Lilllaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ……” Dia menangis meraung-raung di atas, memeluk tubuh Lila yang sudah dingin. ”Maafkan aku, Lila ….” Teriaknya tanpa henti.

Mendengar suara teriakan Lala, tubuh Kastiyem langsung melorot ke lantai. Ia tak sadarkan diri. Kamar yang sempit itupun menjadi gaduh. Diam – diam kang Rahmat menghubungi Pak Kades dan Pak RT setempat.


Comments

Tulisan Beken