Pain Part 13



Bagian 13
            Kematian Lila yang tak wajar,menyebar cepat ke penjuru desa. Orang – orang berduyun-duyun datang. Ingin melihat kejadian sebenarnya. Di temani Kang Rahmat, Eko masih seperti orang linglung. Dia menangis terisak-terisak di bawah pohon jambu, di depan rumah Kastiyem. “Kenapa jadi begini ….” Isaknya. 

            “Cup … cup…cup …., jangan nangis lagi, malu kalau di lihat Mas Raffat dan Pak Kades”. Bujuk Kang Rahmat. Ekopun menyusut airmatanya dengan punggung tangannya yang masih kotor berdebu.


            “Apa yang terjadi,Ko …” Raffat terlihat gundah, Ia masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi. Ia datang bersama pamannya,yang langsung menuju ke tempat kejadian perkara bersama Pak RT dan Polisi.

            Eko tak menjawab, pertanyaan Raffat, dia justru berlari,pulang. Kang Rahmat menyusulnya,sebab khawatir Eko masih shock dengan kematian Lila. “Saya menyusul Eko dulu, Mas” Raffat mengangguk. Pikirannya masih kacau. Di depan, di lihatnya semakin banyak orang yang datang ingin melihat. Seorang Polisi sedang memasang Police Line.

            Saat orang di dalam sibuk, terlihat bayangan seorang laki-laki ke pekarangan di belakang rumah Kastiyem. Dan masuk ke sebuah bangunan lawas. Raffat yang mengikuti diam-diam, mengucek matanya berkali-kali sebab, bayangan itu seperti masuk seperti menembus pintu. Dia berpikir keras untuk ikut masuk. “Tolong, aku, mas ….” Lamat-lamat terdengar suara rintihan dari dalam bangunan tersebut. Kemudian, Raffat memberanikan diri masuk. Pintu itu terkunci. Raffat mengelilingi bangunan itu. Semua jendela tertutup, tak ada celah untuk masuk. Dia menghela nafas panjang.

            “Pletak” seseorang melempar kerikil ke arahnya. Raffat menoleh. Matanya terbelalak melihat Alexi dan Kang Rahmat datang. Telunjuknya di depan mulut memberikan kode. Raffat mengangguk mengerti. 

            “Bagaimana kamu tahu, Mas ada disini ..? bisik Raffat di telinga Alexi. Tangannya membawa ular Phyton retic, binatang kesayangan. “Tumben” bathin Raffat.

            “Temanku yang di dalam memberitahuku untuk menolongmu …” jawabnya santai. Kang Rahmat bengong tak mengerti, arah pembicaraan mereka. “Aha …” pekik Raffat kecil, mengambil kartu kredit di dalam dompetnya. Kemudian, Ia selipkan sisi panjang kartu kredit di antara kosen pintu dan bagian yang mengunci pintu, tepat di atas posisi kunci memasuki kosen.Setelah beberapa menit. Raffat memegang gagang pintu. Kemudian, ceklek …. dia membuka pintunya pelan. Kang Rahmat dan Alexi berseru kecil,melihat kecerdikan Raffat.

            “Kalian berjaga di sini saja, biar saya yang masuk” Mereka berdua setuju. Raffat masuk, ruangan itu pengap dan gelap,meskipun hari belum malam. Tajamnya bau anyor menusuk penciuman Raffat. Tak ayal membuat perut Raffat mual.  Dengan tissue yang ada di saku bajunya, dia menutup hidung. Lantas, menghidupkan telepon genggamnya supaya ada penerangan. “Aneh,kemana bayangan lelaki tadi” matanya menelusuri tiap sudut ruangan.

            Tak ada yang istimewa di ruangan 4 X 5 meter itu. Di tengah ruangan ada meja panjang yang bahannya dari ubin. Di sampinya ada kran kecil dengan selang panjang yang di gulung rapi di bawah. Kemudian ada tiga freezer besar yang di letakkan di pinggir ruangan. Yang membuat Raffat terpaku adalah, adanya beberapa pisau besar, di atas meja kayu, di samping meja ubiin. Ia teringat pisau milik uwaknya, saat menyembelih sapi. Pisau – pisau itu mengkilat, terawat.

Dengan mata awas mereka berjaga. Semenit, dua menit, lima menit, tak nampak tanda Raffat akan keluar. Kang Rahmat mulai gelisah, Ia melirik Alexi yang berjongkok di sampingnya. Tangannya mengelus-elus kepala ular kesayangannya..“Duh…kenapa, Mas Raffat lama sekali sih” ia menggerutu sendirian.

            “Hei …ngapain kalian di sini” seorang laki-laki gagah tiba-tiba mencengkeram leher kang Rahmat. “Maaf..nganu…nganu, Pak …saayyyaaaa mencari ayam jantan, milik saya. Tadi dia berlari ke belakang sini, trus saya ikutin, begitu ceritanya” jawab Kang Rahmat terbata. Lelaki itu mendengus kesal,Hayo, sana pergi, mengganggu saja …” dan segera berlalu setelah melihat ular di tangan Raffat

            Gedebug, terdengar suara jatuh dari dalam bangunan tersebut. Supaya tak curiga kang Rahmat dan Alexi pura-pura mengikuti lelaki itu, kemudian dia memberi kode pada Alexi. “Kang …. Ularku mana” rengeknya.

            “Welah dalah, kabur ….?!! Cepat cari sana ….!! Kata lelaki itu. Dia meliuk-liukkan badan kekarnya, geli. Dia takut sama ular! Lelaki itu masuk ke rumah. Dan membiarkan mereka kembali ke tempat semula. Tanpa mengulur waktu, keduanya segera berlari ke arah bangunan tua, dimana Raffat masih berada di dalam.

            “Mas Raffat, cepat keluar …” Alexi masuk dan menemukan Raffat berjongkok di depan sebuah freezer tua. Wajahnya pucat. Raffat berdiri, kemudian mengajak Alexi keluar.


           
        

Comments

Tulisan Beken