Pain Part 14




Bagian 14
            Mayat Lila sudah di turunkan, dan jenazahnya di letakkan di tengah- tengah ruangan. Saat Polisi sibuk melakukan interogasi, tiba – tiba istri Kang Bahar,masuk ke dalam ruangan, tanpa bisa di cegah. Dia berteriak lantang, “Kau sembunyikan,di mana suamiku,Yem ….hu hu hu hu?!! Dia menjambak rambut Kastiyem keras. Lala dan beberapa orang yang ada di situ terperangah dengan tingkah istri Kang Bahar.Mereka mencoba mencegahnya, tapi tangan istri Kang Bahar jauh lebih cepat. Kastiyem terjengkang ke belakang. Hal itu tak membuat istri Kang Bahar puas, dia masih ingin menamparnya. Kali ini Pak Erte,mampu mencegahnya. Kastiyem pasrah.Ia seperti tak peduli.


            “Yu…jangan ngawur,kamu ini,nuduh orang sembarangan!!” bentak Pak Erte. Dan mengajak istri Kang Bahar keluar. Sayangnya dia tak mau. Dia terus berteriak-teriak. Suasana semakin panas.

            “Pak Erte, coba tanya lelaki dekat Kastiyem itu, darimana dia mendapatkan cincin di jari manisnya?” Rustam serta merta melihat cincin yang dia kenakan. Cincin emas,dengan hiasan batu zamrud. Pak Kades yang berdiri di samping Rustam melihatnya. “Boleh pinjam sebentar,Pak?” Pintanya halus. Dengan berat hati, Rustam memberikannya pada Pak Kades. 

            Pak Kades, mengamati cincin itu seksama, Cincin itu memang mirip dengan milik Kang Bahar. Dia mengetahuinya,sebab, mereka berdua sama-sama pecinta batu akik. “Bagaimana, kamu tahu ini milik suamimu, Yu?” tanya Pak Kades hati-hati “Semua cincin, Kang Bahar ada inisial BH di dalamnya” kata istri Kang Bahar antusias, dan mengeluarkan beberapa koleksi cincin milik suaminya itu dari dalam dompetnya, dan memberikannya pada Pak Kades. 

            “Itu milik suami saya kan,Pak …? Pak Kades tersenyum. “Sabar dulu, Yu ..dan untuk sementara cincin ini saya pegang” Dia langsung meminta Pak erte mengikutinya. Raffat sudah menunggunya di samping rumah,bersama Agung, salah seorang teman baik Pak Kades. Kemudian mereka berempat pergi ke belakang rumah, ke tempat bangunan tua. Ternyata di sana sudah ada Kang Rahmat, Eko dan Sanusi yang masing-masing membawa pentungan dan arit.

            “Tolong, jangan pegang apapun, ini semua barang bukti” kata Agung, yang ternyata adalah seorang Polisi. Agung membuka semua freezer tua. Pak erte tak sanggup melihat isi di dalamnya. Dia langsung menghambur keluar, muntah-muntah.

            “Oalah.malang nian nasibmu, Bahar …” ucap Pak Kades, lemas. Dia ngeri melihat tubuh Kang Bahar terpotong-potong menjadi banyak bagian.

            Rumah Kastiyem semakin ramai. Semua orang, merangsek ingin masuk, mereka semua ingin melihat mayat Kang Bahar. Masyarakat begitu emosi, melihat Kastiyem dan Lala. “Bakar saja, nenek lampir itu!! Teriak orang-orang geram. Mereka tak menyangka ibu dan anak itu adalah pembunuh keji.

            Haji Ali yang baru tahu masalah Kastiyem marah besar, dia memaki-maki Kastiyem, “Dasar,perempuan binal. Kembalikan uangku, heh!! Dia tak peduli,meskipun polisi berada di sampingnya. Begitupun dengan Rustam, dia sangat kecewa dengan perempuan yang sudah membuatnya tergila-gila.

            “Kalau tahu begini, tak sudi aku dekat-dekat denganmu …” Rustam meludahi muka Kastiyem. Lala berdiri dan secepat kilat mengambil sesuatu dari balik bajunya. Lalu dia menghujani Rustam dengan tusukan di perut dan dadanya berkali-kali. 

Creessssssssssssssssssssssssssssss,darah segar muncrat, mengenai baju Haji Ali. Sejenak,mereka semua terhipnotis. Haji Ali menjerit. Sadar dengan apa yang terjadi.

Tubuh besar Rustam langsung terjerembab, di lantai bersimbah darah. Lala berteriak melengking. “Hahahahahhaha, mampus kau lelaki bajingan …!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Dia tertawa terbahak-bahak, dan menghunuskan pisau ke semua orang. Semua orang menyingkir ketakutan.

“Jangan, lakukan …nak?” Suara Kastiyem melaz, bersimpuh di hadapan Lala. Tatapan mata Lala kosong. Hatinya hancur,setelah kepergian Lila. Dia menyesal dengan apa yang dilakukannya pada Lila. Semuanya sudah terbongkar. Dia takut dengan hukuman yang akan di terimanya kelak. Dia ingin mati, mengikuti jejak Lila tapi kasihan dengan Ibunya. Lala menunduk.

“Maafkan aku. Ibu …” ucap Lala lirih, nyaris tak terdengar. Airmatanya tumpah. Ibu dan anak itu berpelukan. Kemudian, dalam hitungan detik, dia menancapkan pisau tepat di jantung Ibunya,memutarnya lalu menancapkan ke jantungnya sendiri. Mereka berdua rebah, kelojotan di lantai.
Semuanya membisu.

           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken