Pain Part 15




 Bagian 15

            Eko di antar Kang Rahmat pergi ke rumah Pak Kades. Dia ingin memberikan sesuatu pada Raffat. “Raffat sedang di rumah orang tuanya. Entah kapan dia akan datang kemari” Eko meminta pertimbangan pada Kang Rahmat. “Baiklah, Saya titipkan ini, pada Ibu Kades” Eko memberikan bingkisan berwarna merah hati pada Bu Kades. Perempuan itu mengangguk kecil. “Apakah ini, dari kalian …?” Eko menggeleng. “Itu titipan Lila ..” kemudian Eko menceritakan semuanya. Setelah itu, mereka pamit pulang.

            “Raffat, kamu harus kesini, ada titipan dari Lila buatmu” ketik Kartika, di layar telepon genggamnya.


            Esoknya Raffat benar-benar datang. Dia langsung menuju ke rumah Eko. Disana, Eko duduk melamun di bawah pohon mangga. Di sebelahnya ada Kang Rahmat, sedang menganyam daun kelapa untuk di jadikan atap buat kandang sapinya. “Eh ….ada Mas Raffat” sapanya ramah, dan mempersilahkan dia duduk di kursi yang diambilnya di teras.

            “Apa kabar, kalian …” Raffat memberikan sebungkus rokok pada mereka.

            “Ya ..begini saja,mas, Suasana desa makin sepi, Habis magrib rumah-rumah pada tutupan, sebab orang-orang takut dengan arwah keluarga Kastiyem” Ia menyulut rokok pemberian Raffat. Menghisapnya kuat-kuat kemudian melepaskannya ke udara dengan wajah puas. Semenjak berita akan adanya kenaikan harga rokok, dia bertekad untuk berhenti merokok. Namun tekadnya,pupus melihat rokok pemberian Raffat. “Mumpung gratis” Kang Rahmat kembali menyesap rokoknya dalam-dalam.

            Raffat menyimak, “Kita doakan saja,supaya arwah mereka tak gentayangan”
            “Sampun, Mas. Sanusi juga berinisiatif menaburkan dedak diatas kuburan mereka, supaya mereka tak mengganggu kita lagi, karena sibuk menghitung dedak. Wah ….berapa lama ya Mas mereka menghitung dedaknya.” Raffatpun tak dapat menahan ketawanya.

            “Sanusi di beritahu siapa soal itu, Kang ?

            “Simbah perempuannya …” jawab Kang Rahmat semangat. “Eko …jangan ngelamun terus dong, awas lho kesambet …”

            “Kamu,kenapa sih, Ko, dari tadi diam saja. Apa tidak suka saya datang kesini” Raffat mendekati Eko. Dia baru sadar, badan Eko kurusan.

            “Mas …Raffat, gara-gara saya Lila meninggal, andai Lila tak meninggal, Lala dan Ibunya masih hidup sekarang” kata Eko getir. Raffat dan Kang Rahmat saling berpandangan.

            “Jangan salahkan dirimu, Ko. Kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin sudah jalannya mereka begitu …”. Eko menggeleng. “Tiga hari sebelum meninggal, Lila menitip sesuatu untuk  Mas Raffat. Dia meminta saya untuk menemui Mas Raffat. Sayangnya saya lupa.” Dia menghela nafas berat, dia memukuli kepalanya dengan tangannya.

            “Kalian ikut saya kerumah. Kita buka sama-sama apa isi bingkisan dari Lila” 

***

            Tante Kartika menyambut hangat kedatangan Raffat dan temannya, dan menyeretnya ke dapur “Tante sebal sama kamu. Karena langsung pergi setelah kejadian itu. Padahal Tante pingin cerita banyak” Ia menyeduh kopi untuk mereka.

            “Maaf, Tan, ada kerjaan yang tak bisa ku tinggalkan, lagian Om Agung juga sudah mengijinkanku pergi” dia menghempaskan badannya di kursi dan mengambil rengginang di dalam toples, lalu memakannya perlahan. Seraut wajah, melintas dalam pikirannya. Kesedihan yang mendalam, memancar di mata elangnya.

“Ini dari Lila” perempuan itu menyerahkan sebuah bingkisan di tangan Raffat. Yang diterimanya dengan perasaan aneh. Eko dan Kang Rahmat,menanti dengan gelisah di teras. “Tante, tolong dibuka” pinta Raffat pelan. Kartika membuka bungkusan itu,hati – hati. Di dalamnya ada diary dan sebuah surat untuk Raffat. “Apakah tidak sebaiknya buku diari ini, kita serahkan pada Agung” tanya Kartika ,memandang Raffat. Eko dan Rahmat bergantian.

            Raffat tercenung, membukanya dan membaca beberapa lembar catatan Lila sebelum dia meninggal. “Tidak usah, Tan.Toh…kasus ini sudah di tutup”. Dia memberikan diari itu pada Kartika. 

            Eko dan Kang Rahmat berdiri di dekat Kartika. Mereka bersama-sama membaca buku diari Lila. Wajah mereka kadang terlihat sedih, dan kemudian berubah menjadi ketakutan.

            “Hiiiii…dasar  kuntilanak, sadis sekali si Kastiyem itu, bisa-bisanya membuat pasta dari daging manusia” Ucap Kang Rahmat geram. Dia mengepalkan kedua tangannya.

            Raffat tak konsentrasi. Kemudian, memilih duduk di sudut teras. Kartika mengerti, Raffat ingin menyendiri. Dia lalu mengajak Eko dan Kang Rahmat masuk ke ruang tamu, meneruskan membaca buku diari Lila

            Surat bersampul biru dari Lila, ada dalam genggaman Raffat. Dia mendekapnya erat. Perasaannya bercampur aduk. Setelah memandangi surat itu cukup lama. Raffat membukanya. 

Dear Mas Raffat,
Aku tak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Namun, semenjak kita pertama kali bertatap mata.  Hatiku berdebar hebat. Mata elangmu, dan ah, senyummu yang indah itu terus menghantui hari hariku. Membuatku selalu ingin bertemu dan berada disampingmu setiap saat.
Mas Raffat……
Andai ada keberanian, ingin sekali aku mengatakan semua perasaan ini padamu. Sayangnya aku terlalu naïf. Aku takut….bahkan terlalu takut, untuk mengejarmu sore itu. Dan akhirnya, aku menangisi kepergianmu.
Mas Raffat……
Bertahun-tahun ku jalani hidupku dengan nestapa,tetapi setelah bertemu dengan dirimu. Aku mulai tersenyum dan berani menata mimpi. Sayang mimpi itu harus ku cabut sendiri. Hidupku sudah di control oleh Ibu dan kakakku. Aku ingin berontak, tapi aku tak berdaya berjuang sendirian melawan keserakahan dan keegoisan mereka. Sampai akhirnya aku lelah menghadapi.
Mas Raffat….
Maafkan aku. Ku pilih jalan ini sebagai jalan terbaik. Aku tak sanggup bersanding dengan orang yang tak kucinta dan tiap hari harus melihat, Ibu dan kakakku terus bergumul dengan dosa. Ikhlaskanlah aku pergi ….dan tolong, tengoklah aku mas, bawakan aku bunga mawar merah. Supaya aku bisa menghirup wanginya, sebab, itu akan membuatku mengingatmu selalu.
I love you
Lila

            Deg…….hati Raffat terluka.Matanya berembun,membelai surat Lila. “Andai aku berani mengatakan perasaananku padamu, Lila. Mungkin kita masih bersama saat ini” Bathinnya sedih. Hawa dingin membelai kedua pipinya. “Kaukah itu, Lila ….” Senyap, tak ada suara.

S.E.L.E.S.A.I
           





           

           


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken