Pain part 2




Bagian 2

“Sedang apa kamu, Pak?”Kastiyem terkejut melihat kamarnya berantakan. Suaminya mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya.

            “Kau sembunyikan dimana tabunganmu,Huh!” Gertak Kusno menatap Kastiyem dengan sorot kebencian. Kastiyem tak menjawab. Dia malah merapikan bajunya yang berserakan dilantai. Merasa tak diperdulikan oleh Kastiyem.darah Kusno mendidih. Ditariknya lengan Kastiyem kasar.

            “Apa kupingmu budeg?!! Cepat berikan tabunganmu!” suara Kusno tak sabar.

            Tabungan apa ? bukannya kamu sudah mengambilnya kemaren” jawab Kastiyem pendek.


            “Halah, bohong kamu! Ayo berikan sekarang,kalau tidak,kamu tahu akibatnya”. Kastiyem tak peduli. Dia sudah teramat kesal dengan Kusno yang selalu menghabur-haburkan tabungannya untuk bersenang-senang dengan sundel penyanyi organ tunggal.

            Plak

            Tubuh kerempeng Kastiyem terhuyun,mendapat tamparan keras dari tangan Kusno yang kasar.Lelaki bertubuh besar itu memukuli tubuh istrinya tanpa ampun. Bak buk bak buk. Bukan hanya tamparan dan pukulan saja. Kastiyem juga menerima tendangan dari Kusno beberapa kali.Ia pasrah.

            Kastiyem tak menangis.ia tak rela airmatanya jatuh dihadapan suaminya.Percuma juga menangis. Toh takkan membuat Kusno kasihan padanya. Justru membuat lelaki itu diatas angin.Kastiyem menahan semua rasa sakit ditubuh dan hatinya. Ingin rasanya dia mati,tapi…kemudian ia sadar, ada dua anak yang harus ditanggungnya. 

            Hentikan,Pak! Jangan pukul Ibu lagi” tangisan Lala dan Lila menghampiri Ibunya yang tergeletak tak berdaya dilantai. Tubuh Kastiyem babak belur. Kusno berhenti sejenak.Ia mendengus kesal.

            Lala,dimana Ibumu menyembunyikan uang?” Kusno menyeret tubuh Lala kasar.gadis itu menangis ketakutan.

            “Lala tak tahu,Pak” jawab Lala sesenggukan.Dia takut melihat wajah bengis Bapaknya.

            “Oooooo..rupanya kalian sudah bersekongkol”

            “Benar,Pak.Kami tak bohong” Timpal Lila dengan suara gemetar. Mendengar jawaban Lila,Kusno makin marah. Lila yang tak tahu apa-apa dihajarnya habis-habisnya. Anak perempuan kecil itu,hanya bisa menangis keras mendapat pukulan bertubi-tubi dari bapaknya. Sampai tangisannya menyayat hati.hati Kusno tak tersenyuh sedikitpun. Meskipun Lila berulangkali memohon ampun.

Kastiyem dan Lala menjerit ketakutan melihat Kusno seperti orang kesetanan.Kastiyem berlari kedapur,mengambil uang simpanannya yang dia sembunyikan didalam karung beras. Dia segera memberikan uang simpanan mereka satu-satunya pada Kusno. Lelaki itu menerimanya dengan wajah sumringah. 

Dasar perempuan goblok .Kenapa tak kau berikan dari tadi.” Iapun pergi dengan wajah puas.

            Lala dengan mata penuh dendam menatap punggung Bapaknya.Dadanya sesak,menahan rasa marah dan benci. Rasanya seperti duri yang menusuk hatinya.Ia tak ingin melihat Bapaknya pulang kerumah. Hatinya pilu melihat ibunya disakiti. Apalagi sekarang. Bapaknya sudah tega memukul Lila.lebih baik Bapaknya mati.Daripada mereka hidup sengsara.Lala ingin membalaskan dendamnya nanti.

            “Lila,bangun nak” Kastiyem terisak memangku tubuh lemas Lila. “Sebaiknya,Kita bawa Lila ke Puskesmas.Bu” Kata Lala.Kastiyem mengangguk. Dia tak ingin putrinya kenapa-kenapa. Karena tak ada ongkos,terpaksa mereka berjalan kaki menuju Puskesmas. Kastiyem menggendong Lila seperti anak kecil. Dan Lala berjalan disisinya. Kastiyem tak menghiraukan lagi tatapan orang-orang yang melihat aneh kearah mereka.Beruntung,ada Bapak tukang becak yang berbaik hati memberikan mereka tumpangan.
***
            Lila akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit.Setelah mengalami muntah darah.Akibat lambungnya terluka. Tiap malam dia suka mengigau dan menangis ketakutan.”Ampuni,Lila,Pak” katanya berulangkali. Membuat Kastiyem dan Lala sedih.Lila trauma dengan perlakuan Bapak.

            “Lala,Ibu mau ke tempat  Bapak. Tolong,Jaga Lila sebentar”
            “Untuk apa Ibu kesana?” Sahut Lala kesal.
            Kita tak punya uang sepeserpun,nak” Jawab Kastiyem melas.Ia memang tak punya uang untuk membayar biaya Rumah Sakit Lila.

            “Tak usah kesana Bu.Lala ada uang tabungan.Pakailah uang itu dulu” Sebenarnya Lala tak mau Ibunya makin sakit hati. Tanpa sepengetahuan Ibunya Lala diam-diam pergi kerumah wanita simpanan Bapaknya. Disana Ia sangat sedih melihat Bapaknya hidup bersenang-senang dengan wanitanya.Dan tak menggumbrisnya sama sekali,ketika Lala datang.

            “Ngapain kamu kesini,heh!!” sapa Bapaknya tak suka.Sedang  cem ceman Bapak bergelayut manja di pundaknya. Lala ingin muntah melihatnya.

            “Lila dirawat di Rumah Sakit,Pak. Dia butuh biaya banyak.Sedang Ibu tak punya uang.” Lala berusaha menahan emosinya.Bapak diam tak memperhatikan. Dia sibuk membelai rambut kekasihnya.

            “Enak saja,minta uang kesini. Emangnya kami Bank.Kalau mau uang sana kerja.Pakai otak! Rasanya kamu tak susah mencari uang dengan tubuh molekmu itu! Lala shock dengan perkataan Pacar Bapak. 

            Lala pulang dengan hati tergoncang. Dia tak pulang ke rumah atau menemani Ibu di Rumah Sakit. Lala pergi ke Kota dengan uang hasil pinjaman dari temannya.

Pikirannya begitu kalut memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk membayar biaya Rumah Sakit. Sampai dia berkenalan dengan Jaka di sebuah pelataran Mall. Kata-kata pacar Bapak meracuni otak Lala yang polos. Dan Lala pun tersenyum sinis,ketika disebuah hotel berbintang.Jaka leluasa mereguk kesuciannya.
***
Lila sudah berangsur membaik. Wajahnya mulai merona.ia sudah boleh pulangsekarang. Untuk menyenangkan Lila,Lala membelikannya banyak hadiah. Ia sangat sayang pada adik semata wayangnya.

Kastiyem tak bertanya lebih jauh,dimana Lala mendapatkan uang.Instingnya sebagai Ibu memberi tahu ada sesuatu yang disembunyikan Lala. Ia tak mau mengganggu Lala dengan pertanyaan yang menyudutkannya. Ia tahu, Lala punya pasti alasan sendiri.

Dirumah,Lala sedang menyapu halaman. Dan terkejut sewaktu melihat Kusno berjalan kearah rumahnya.Pakaian Bapaknya terlihat kotor dan kumal,seperti lama tak tersentuh air. Timbul rasa kasihan padanya. Tetapi rasa itu secepatnya dihapus dari hatinya.Lala tak mau tertipu oleh perangai Bapak yang sering berubah. Dia manis bila ada maunya.Ho hoho tidak! Lala mengibaskan tangannya berkali-kali.

Tanpa menyapa Lala,Bapak masuk ke dalam rumah. Kemudian dia rebahkan badannya di sofa yang mulai pudar warnanya. Diam-diam Lala memperhatikan wajah Bapak yang terlihat lelah.

Lala membuang muka.”Bapak,haus.buatkan Bapak minuman dingin”.Tumben sikap Bapaknya lembut padanya. Lala menurut. Tanpa banyak tanya, dia beranjak ke dapur. Sekilas, benaknya teringat sesuatu yang dibelinya di Toko Kimia saat Ia ke Kota.

Lalu,telinganya mendengar sebuah bisikan lembut.Lala berusaha menghalaunya.namun Ia kalah. Bisikan itu terlalu kuat merasuki pikirannya. Tangan dan otaknya mulai tak singkron. Dengan tangan gemetar,Ia memindahkan cairan di dalam botol kecil itu ke dalam minuman Bapak.

 “Ini Jusnya,Pak”. Bapak meminumnya dengan antusias.Tenggorokannya haus.”Jus apa ini Lala,rasanya aneh” Bapak menjulurkan lidahnya. “Jus special buah Mangga” Jawabnya pelan hampir tak terdengar.Hati Lala tak tenang.

15 menit kemudian, tubuh Bapak kejang-kejang. Lala tegang melihatnya. Namun Ia tak berusaha menolong Bapak. Hatinya beku.Kemudian…badannya diam tak bergerak. Lala memeriksa denyut nadinya.Tak ada! Lala bersorak.”Yes! Aku Bebas….selamat tinggal Pak,tunggu Lala di neraka”.

Lala menari nari disamping mayat Bapaknya. Baru kali ini Ia merasakan lepas dari ketakutan yang sekian tahun menghantui hari-harinya.

Kastiyem dan Lila masuk.Mereka terkejut melihat Kusno terbujur kaku di lantai.”Aku bunuh Bapak,Bu.Kalian aman sekarang” Kata Lala tenang seolah tak terjadi apa-apa.”Rasanya,tenang sekali” lanjutnya kemudian. Ia lalu memeluk Ibu dan adiknya.

“Lala…..apa yang kamu lakukan,nak?” tangis Kastiyem tertahan.Meskipun dia takut.Tapi dalam hatinya Ia girang.Suaminya sudah mati.Dia tak bakalan mengganggu ketenangan kehidupannya. Otaknya berpikir keras,bagaimana menyembunyikan mayat Kusno tanpa ada orang yang curiga.

“Tapi..Bu..bagaimana kalau nanti ketahuan.Aku tak mau Kak Lala ditangkap polisi” Lila mulai menangis. Ia begitu takut.

Semuanya tenang. Kakak sudah memikirkannya” Lala berusaha menenangkan Ibu dan adiknya.

Rumah Kastiyem berada di gang buntu,jauh dari tetangga.Dan jalan di depan rumah merekapun jarang dilewati orang.
Malam itu,Mereka bertiga mengeksekusi mayat Kusno. Tubuh Kusno di letakkan diatas meja. Lala bertugas memotong tubuh Kusno menjadi beberapa bagian. Tak ada sedikit gentar di benak Lala mencincang tubuh Bapaknya sendiri seperti seekor ayam. Lila  berjaga.

Sedang,Kastiyem,membuat bumbu. Seperti orang kerasukan. Kastiyem memasukkan cincangan daging ke dalam panci panas. Dari mulutnya terdengar suara merdu,menyanyikan lagu James Brown, Wo! I feel good, I knew that I wouldn't of I feel good, I knew that I wouldn't of So good, so good, I got you.
Bersambung……









Comments

Post a Comment

Tulisan Beken