Pain Part 3



 

Bagian 3
“Lala,Lila kemarilah sebentar” Kedua anak Kastiyem menghampiri ibunya di dapur.Bau aroma lezat masakan mengepung dapur mereka. Membuat cacing di perut Lala dan Lila berontak minta jatah.

            Kemudian Kastiyem mengambil sedikit kuah Kare dan memberikannya pada kedua anaknya secara bergantian.”Gimana rasanya,enak apa nggak? harus jujur lho ya sama Ibu” Kastiyem menunggu jawaban dengan tak sabar.


            “Apapun masakan Ibu,semuanya enak” Jawab Lila aleman,memeluk ibunya. Sedangkan Lala,gadis itu masih diam,tak mengeluarkan sepatah katapun.

            “Apakah dalam Kare ini,Ibu memakai bumbu lain? Rasa kare ini berbeda dengan kare yang Ibu buat sebelumnya. Menurutku ini lebih enak.apalagi dengan kuahnya yang kental” Kastiyem mengulum senyum, mendengar jawaban Lala yang cermat.

            Selera Lala tergolong bagus. Dia tahunya mana makanan yang enak dan lezat.”Iya,Ibu menambahkan pasta daging buatan Ibu” Kastiyem mengedipkan matanya pada Lala yang disambut Lala dengan senyum tipis.

            “Pasta daging” Dahi Lila mengernyit. Ia tahu Ibu dan kakaknya beberapa hari ini sibuk di kamar belakang yang disulap menjadi  dapur.Di mana ada freezer besar di dalamnya. Anehnya,hanya dia yang tak boleh masuk dengan alasan yang tak masuk akal. Lila tak pernah protes,meskipun Ia penasaran apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ibu dan Kakaknya didalam.

            Kadang terbersit dalam benaknya ingin melihat ke dalam. Sayangnya pintu itu selalu dalam keadaan terkunci.Dan kuncinya selalu di bawa Ibu dan Kakaknya. Lala membuatkan kalung kembar buat  Kastiyem dan dirinya, dengan liontin berbentuk hati.berhias batu opal hijau.Yang didalamnya bisa untuk menyembunyikan kunci kecil. Supaya tidak cemburu,Lila juga dibuatkan kalung,dengan liontin batu kecubung ungu.

***
            Warung nasi Kastiyem,semakin hari semakin rame. Setiap hari,pelanggan mereka semakin bertambah, hal ini membuat Kastiyem dan kedua anaknya sampai kewalahan. 

            “Lala…apakah menurutmu kita perlu mencari pegawai” Tanya Kastiyem sesaat sebelum menutup warung.

            Lala menarik nafas panjang.Dia mengetuk ngetukkan jarinya dimeja.tanda berpikir keras.

            “Ibu,memikirkan kesehatan kalian berdua” Kastiyem melanjutkan.

            “Hemmmmm” guman Lala pendek.

            Lala masih belum bisa memutuskan. Ada sesuatu yang ditakutkannya bila mereka merekrut pegawai.Tapi….disatu sisi,mereka perlu bantuan,bila menginginkan warung mereka bertambah besar.

            “Saat ini, biar kita bertiga saja,Bu?” Lala melihat kearah Ibunya,meminta pertimbangan.

            “Baiklah,kita semampunya saja.Uang tak usah terlalu dikejar” Kata Kastiyem setengah tertawa.

            “Tadi ada  Food Blogger.Namanya,tadi…..emmmm Raffat.keponakannya Pak Kades.Dia ingin menulis cerita tentang Ibu.Bagus lho,Bu, untuk promosi gratis” Lila memberi tahu Kakak dan Ibunya.

            “Oh ya……..” Hanya itu jawaban Ibu, tak terlalu bersemangat dengan cerita Lila.

            Ibu,bukan siapa-siapa Lila” lanjut Ibu.”Kamu,juga semestinya tak terlalu akrab dengan orang yang baru kamu kenal” Lala mengingatkan adiknya.

            Kami hanya mengobrol,Kak.Jangan khawatir soal itu,aku bisa menjaga diri.” Hati Kastiyem mulai khawatir.

            Baiklah,sebaiknya kita istiahat saja.Badan Ibu pegal semua.” Kastiyem menguap beberapa kali.Setelah itu Ia masuk ke kamarnya. Lila juga pamit,untuk tidur. Tinggal Lala sendirian diruang tamu.

            Brrrr……

            Angin dingin berhembus menerpa kulit Lala yang terbungkus baju piyama tipis. Sehingga membuatnya kedinginan. Ia mengambil selembar scarf yang tergantung di belakang pintu kemudian melilitkannya di lehernya yang jenjang.

            Srek…srek..srek

            Telinga Lala awas,mendengar suara mencurigakan diluar. Dia melongok jam dinding. Pukul 12 malam tepat. Dari balik korden,dia mengintip keluar. Sesosok bayangan mengendap-endap di depan warungnya. Lala mengamati orang itu seksama. Sepertinya Ia kenal,dengan potongan rambutnya yang nyentrik,kepala plontos dengan dua jambul di depan. Ya..Lala ingat, Lala pernah makan diwarung milik orang itu.

            “Malam,Kang Harun…..” Sapa Lala halus.Lelaki yang disapa Harun,terkejut.”Haaaa..pooocoooonggggggg……”  Wajah lelaki itu pucat menatap Lala,kakinya  kegemetaran,kemudian Ia berlari ketakutan menembus pekatnya malam.

            Lala tak bisa menahan rasa gelinya.Ia tertawa terbahak-bahak melihat Harun yang lari pontang-panting,sampai sandal yang dipakainya terlepas.Suara gaduh diluar tak ayal membangunkan Kastiyem dan Lila.

            “Ih…ngapain pake kostum itu sih Kak?” Tanya Lila heran,melihat Lala memakai baju dan topeng pocong.Dia membuatnya saat diajak temannya pesta Hallowen disebuah Villa.

            Karena udara dingin,merekapun masuk. Lila membuatkan minuman hangat buat Ibu dan Lala. Kantuk yang tadi menyerang sudah lenyap,setelah mendengar cerita Lala.

            “Sepertinya,ada orang yang mulai tak suka dengan keramaian warung kita” Kastiyem memecah keheningan. Ia harus melakukan sesuatu.

            “Mungkin,Ibu akan mempertimbangkan soal pud bloger itu”

            “Apa,Bu,Pud Bloger…..?” Lila menjahili Ibunya.
 
            “Lila….jangan ketawain Ibu dong” Ia pura-pura ngambek. Lila tersenyum penuh kemenangan. Ibunya bersedia diwawancari Raffat. Hatinya jadi berbunga-bunga.Dia bahagia akan bertemu Raffat. Lila tak sabar,menunggu esok pagi.

            Lala juga tak banyak berkomentar. Meskipun berat,dia menyetujui rencana Ibunya untuk berbagi cerita dengan Food Blogger yang ditemui adiknya. Ia berpositif thingking,semoga pemberitaan itu,akan membuat warungnya semakin terkenal.

           
           
           
           
           
           

           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken