Pain Part 4






Bagian 4
 
            Hari Minggu pagi,Lila bertemu dengan Raffat di lapangan bola,saat dia sedang berolahraga pagi bersama dengan Alexi,sepupunya.

            Malu-malu,Lila melambaikan pada Raffat di tengah lapangan. Gadis itu kikuk setengah mati,saat Raffat menghampirinya dengan senyumnya yang khas.

            Sudah tadi” Raffat menyapa Lila dengan seulas senyumnya yang khas.Hati Lila jadi tak beraturan.Ia tak kuasa menatapnya lama-lama.


            Eng… begini … mas ….” Lila gugup. Suaranya tercekat di kerongkongannya. Raffat menunggu dengan sabar, kemudian mengajak Lila sarapan Nasi Jagung pincuk Mbok Deres, di dekat lapangan. Orang-orang melihat dengan tatapan heran kearah mereka berdua. Sebab,Lila dan Kakaknya jarang  bergaul dengan mereka. Karena sibuk membantu Ibunya di warung.

            Tumben,Nak Lila ke sini” kata Mbok Deres,sambil membuatkan Teh hangat buat Raffat. “Iya,mbok….” Jawab Lila pendek. Ia menikmati tiap suap Nasi jagung.Meskipun dengan lauk ikan asin,tempe goring dan sayur urap. Rasanya lezat sekali di mulut Lila. Lalu matanya melirik Raffat. Cowok itu makan dengan lahap. Malah nambah seporsi. Sedangkan Alexi,tampak memesan lontong sayur,yang juga di jual oleh Mbok Deres.

            Alexi,apakah mau nambah lontong sayurnya?” Tanya Lila,mencoba akrab dengan Alexi. Anak itu hanya menggeleng. Dan kembali meneruskan makan lontong sayurnya yang tinggal sedikit. Ia tak banyak cakap.

            Sepupuku ini,memang irit bicara.Meskipun begitu, dia anaknya jahil lho” Kata Raffat,memperbaiki duduknya. Ia sudah menghabiskan dua Pincuk Nasi Jagung.

            Jadi….apakah Ibumu setuju,aku menulis soal warungnya” Lanjut Raffat. Lila mengangguk. Kemudian,merekapun terlibat dalam percakapan seru. Sesekali Lila terlihat tertawa mendengar cerita Raffat yang lucu. Baru kali ini, Lila bertemu dengan lelaki yang menyenangkan hatinya. Pipinya jadi merona merah.

            “ Kalian,sudah dengar kabar belum. Kastiyem,mencampur daging tikus dalam Kare Ayamnya. Dan katanya lagi nih,ada pocong di rumahnya. Jangan-jangan dia pake penglaris.lihat saja,warungnya selalu ramai” Lila resah mendengar percakapan orang di belakangnya.Ia tak menoleh lalu berdiri, dan hendak membayar makanan ke Mbok Deres.Namun,Raffat lebih dulu membayarnya.

            Darimana Abang tahu?”  Tiba-tiba Raffat menghampiri lelaki yang membicarakan Ibunya. Lelaki itu terkejut.” Kata orang-orang, Aku mendengarnya di Warung Bang Harun tadi”

            “Yaelah,Bang. Itu masih katanya kan?” Raffat menceramahi orang itu tanpas sungkan. Lelaki itu mengangguk-angguk. Dalam hati Lila,senang luar biasa,Raffat membela keluarganya.

            Makasih,yah” ucap Lila lirih.Tak mampu menatap mata Raffat lama-lama. Ia pamit pulang duluan. Sebelum Ibu dan Kakaknya mengomelinya.

            Pertemuannya pagi itu dengan Raffat,terpatri indah di relung hati Lila. Ia tak menolak saat dewi asmara memanah hatinya. Sepanjang perjalanan pulang, Lila bersenandung kecil,menyanyikan lagu cinta.

***
            “Kamu darimana saja,Lila” Lala menunggu Lila di depan pintu. Ia terlihat gusar dengan adiknya.

            “Habis olahraga Kak,lalu tak sengaja bertemu dengan Raffat di lapangan,kemudian kami sarapan Nasi Jagung Mbok Deres” Jawab Lila panjang lebar.

            “Bukannya kamu sengaja menemuinya di lapangan“ Tuduh Lala marah. Ia tak suka adiknya bertemu dengan sembarang orang,yang baru ditemuinya. Lila tertunduk. Mendengar suara Lala yang tak seperti biasanya. Kastiyem datang.”Ada apa ini,pagi -pagi sudah ribut” Lila menceritakan semuanya.Termasuk soal desas desus soal warung mereka.

            Kastiyem terdiam. Lala merasa bersalah pada adiknya.”Tolong,berikan nomor Raffat.Kakak ingin menelponnya”  Lila segera membuka layar handphonenya dan memberikannya pada Lala.

            Tak berselang lama,Lala sibuk di telepon. Lila mencuri dengar dari kamarnya. Hatinya berdegup kencang mendengar Raffat akan datang kerumahnya siang ini, untuk makan siang.

            Berbeda dengan hari biasanya. Warung Kastiyem terlihat lengan. Desas – desas soal adanya campuran daging tikus dalam masakan Kastiyem merebak luas tanpa mampu mereka cegah.Orang-orang yang semula mengantri,terlihat puang satu persatu setelah mendengar desas desus itu. Mereka terlihat marah.

            “Bu,apakah Kare Ayam ini,ada daging tikusnya” Tanpa tendeng aling-aling. Perempuan paruh baya,bersanggul besar bertanya dengan muka jijik ke Kastiyem. “Tidak ada” Lala dan Kastiyem menjawab kompak. Rupanya perempuan itu tak percaya. Ia melenggang pergi bersama dengan pelanggan lain.

            Tak berapa jauh dari Warung Kastiyem,seorang lelaki tua tergelak sendirian. Ia puas dengan hasil kerja anak buahnya. “Tamat sudah Warungmu,Kastiyem” Gumannya pongah. Ia membusungkan dadanya dan berjalan menjauh menuju  mobil sedan yang sudah menunggunya.

            Tanpa lelaki tua sadari.Sepasang mata teduh memperhatikan gerak geriknya dari tadi. Perempuan itu,menghela nafas berat. Tangannya mengepal,geram.Dikibaskannya pakaiannya,yang sedikit kotor terkena debu.Kemudian Ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.

            Di tempat lain, Raffat berbicara empat mata dengan Alexi.”Mas, aku tadi melihat teman Mba Lila tadi. Wajahnya serem dan sedih. Dia minta tolong padaku,supaya mas Raffat bisa menyelamatkannya.Katanya dia ingin tenang.” Raffat tak mengerti sama sekali apa yang di maksud Alexi. 

            “Nanti…Mas Raffat akan tahu” Alexi tahu kebingungan Raffat.


           

Comments

Tulisan Beken