Pain Part 5



            Raffat menepati janjinya.Ia datang ke rumah Kastiyem bersama Alexi.Lala dengan dress bermotif bunga melati menyambutnya hangat di pintu gerbang.

            Ayo masuk,Ibu dan Lila sudah menunggumu di dalam” Raffat mengangguk.Sejenak,Ia mengedarkan pandangannya ke Warung Kastiyem yang sepi,nyaris tak ada kesibukan sama sekali.”Ya,beginilah,keadaan Warung sekarang. Kami punya banyak waktu untuk bersantai”Lanjut Lala, seakan mengerti apa yang dipikirkan Raffat.


            Rumah Kastiyem, terletak di Gang Buntu. Tetangga yang paling dekat sekitar 50 meter dari rumahnya. Kanan kirinya ditanami Pohon Sengon. Membuat rumah Kastiyem seperti sebuah persembunyian .Meskipun begitu rumahnya tampak asri,banyak tanaman perdu dan bunga di halaman. Di samping rumah ada bale bengong yang bersebelahan dengan kolam ikan koi. Alexi terlihat asyik bermain disana.”Rumahnya cantik” Puji Raffat,yang di sambut senyuman tipis Lala.

            Kastiyem dan Lila sudah rapi di ruang tamu. Keduanya mempersilahkan Raffat duduk dan mencicipi aneka kue basah dan kering yang terhidang di atas meja.

            “Wow….” Guman Raffat tak percaya. Ia disambut bagaikan seorang raja. “Ayo..silahkan,Nak, di cicipin dulu makanannya” Kata Kastiyem ramah,kemudian meminta Lila membuatkan minuman dingin untuk mereka.

            Bagaimana,kalau kita sambil mengobrol,Bu…?” Kastiyem dan Lala mengiyakan. Sifat Raffat yang menyenangkan,membuat Kastiyem dan Lala nyaman mengobrol lama dengannya. Satu jam pun berlalu tanpa terasa.

            Sudah dulu,ngobrolnya. Lila lapar nih”Rajuk Lila manja. Kastiyem terperangah.”Ya ampun….sampai lupa” Ia tergopoh-gopoh di dapur.Di bantu Lala dan Lila Kastiyem memasak untuk makan siang mereka.

            Sambil menunggu,Raffat duduk di bale bengong bersama Alexi yang sedang bemberi makan  ikan. Saat dia asik menulis di laptop. Sebuah bisikan terdengar di telinganya,” tolong saya..tolong saya..” Tengkuknya merinding.Raffat menoleh,tapi disana taka da siapa-siapa. Hanya dia dan Alexi. “Alexi … sini..!” Anak lelaki  11 tahun itu mendekat.”Kamu tadi dengar suara sesuatu” Tanyanya,dengan suara pelan. Alexi mengangguk. Telunjuknya menunjuk sesuatu di sebelah Raffat.” Ada lelaki muda,disebelah kakak. Kedua kakinya buntung” Raffat hampir terjengkang. Alexi tertawa.

            Gara-gara suara tadi, konsentrasi Raffat buyar. Susah payah,Ia mengatur nafasnya supaya terlihat tenang. Lila menghampiri mereka,memberi tahu makan siang sudah siap.

            “Lila,tolong bantu Kakak” Teriak Lala. Tangannya membawa makanan.Lila yang terburu-buru,tanpa sengaja menubruk Lala. Makanan yang dibawa Lala,tumpah.kuah Kare dan ayamnya berserakan di rerumputan..Dengan muka marah,Lala membentak Lila yang tak hati-hati.

 “Lila….kamu ini!” Dia urung menumpahkan kekesalannya,ketika melihat Raffat di depannya. Makan siang,berjalan sedikit kaku. Lala masih belum bisa meredakan emosinya.Untunglah Raffat,bisa mencairkan suasana. Dia mengeluarkan cerita – cerita lucu yang disambut tawa oleh Kastiyem dan kedua kakak beradik itu. Setelah makan siang Raffat pamit.”Tante…terimakasih,makanannya lezat sekali”

“Sering-seringlah,mampir ke sini,Nak Raffat” Lala menyenggol lengan Kastiyem,tak suka.
***
            Raffat,memarkir motornya di garasi. Seperti biasa,Alexi langsung masuk kamar. Kartika,Tante Raffat,geleng-geleng kepala melihat anak semata wayangnya itu.
            “Tante, Raffat ingin bicara dengan Tante, sebentar” Kartika sedikit heran,dengan Raffat. Tumben keponakannya begini,pastilah ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakannya. Di meja makan, Raffat menceritakan soal “Penglihatan” Alexi. Dia ingin tahu semuanya. Dia hanya bisa melongo,mendengar penjelasan Tante Kartika.
”Sekarang,kamu tahu kan,kenapa kami namakan Alexi,karena dia adalah seorang pelindung”. Raffat,manggut – manggut. Tanpa sadar, dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu,di mana, tanpa sengaja ada orang yang menyenggol Kare Ayam yang dipesannya. Kemudian,kejadian tadi siang. “Mungkinkah…ini ada campur tangan Alexi?.”  Raffat menggacak ngacak rambutnya.
Dia pergi ke kamarnya. Di sana,Ia melihat Alexi sedang tiduran sambil baca Komik Conan. Raffat menyeret kursi, dan duduk di sebelah tempat tidur. Dia menarik nafas panjang.
Apakah,ada yang mengikutiku sekarang?” Tanya Raffat lesu. Jujur, dia rada tak nyaman dengan hal-hal yang berbau supranatural,di luar jangkauannya. Alexi mengangguk,tanpa menoleh ke Raffat.            Lantas….suara siapa,itu tadi” Alexi duduk. “Arwah penasaran”. Kerongkongan Raffat,tiba-tiba kering. Dia tak bisa membayangkan ada Arwah yang menguntitnya.
“Lalu, apakah temanmu tadi yang menjahili Lila?” Alexi hanya tersenyum tipis.
“Jangan makan Kare Ayamnya. Di sana ada bahan yang tidak seharusnya ada,Kakak akan mual bila tahu apa itu” Otak Raffat makin buntet. 
“Tolong saya,mas,tolong saya,mas” suara lelaki itu kembali terdengar di telinga Raffat. Raffat ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

           
.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken