Pain Part 6



Bagian 6

Mata Raffat masih terpaku di layar Laptop. Dia rupanya masih ragu,akankah  tulisannya soal review Warung Kare Ayam Bu Kastiyem akan dia publish? Disatu sisi, dia sudah berjanji dengan Lila akan menuliskannya, di sisi lain, dia tak nyaman dengan hal ganjil yang di temuinya. Instingnya mengatakan keluarga itu,menyimpan sebuah rahasia besar. Raffat gelisah.

Raffat merebahkan badannya di ranjang.Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dan suasana di luar amat senyap,lamat-lamat terdengan suara binatang malam. Ia mencoba untuk tidur.

Mas Raffat…Mas Raffat..tolong saya…” Suaranya menyayat hati.

 
            Di singkapnya selimut tebal yang menutupi badannya. Kemudian, Ia duduk seperti orang linglung. “Siapa kamu? Tolong jangan ganggu,aku” katanya kesal. 

            Brak

            Asbak plastic,di atas meja jatuh menimpa kakinya. Reflek,Raffat melompat. Ia kaget. Bagaimana mungkin,asbak itu bisa jatuh sendiri,padahal Ia sendirian di kamar. Belum reda, kebingungannya, Di kamar mandi terdengar,bunyi byar byur byar byur seperti ada orang mandi.Hatinya bertambah mangkel. Sialan,hantu.mau ngerjai dirinya. Raffat berdiri gusar.

            Kalau kamu rusuh,Aku tak mau membantumu…” Aneh, setelah Raffat berbicara begitu.Suara byar byur di kamar mandi berhenti. Dia kembali menemukan ketenangan, Matanya terasa berat, tak lama kemudian Ia pun tertidur pulas.

            “Bangun,Kak” Raffat menggeliat malas. “Di cari mbak Lila, tuh” mendengar nama Lila, Raffat langsung bangun. Dia segera membasuh muka dan menemui Lila di teras.
            “Pagi Lila,maaf sudah menungguku lama” Sapa Raffat. 

            “Nggak,papa Mas, justru Lila yang minta maaf, tidak mengabari terlebih dulu” Ia tertunduk malu. Sebenarnya, Ia datang menemui Raffat tanpa sepengetahuan Ibu dan Kakaknya. Semenjak bertemu dengan Raffat,hatinya gelisah. Ia ingin selalu berdekatan dengannya. Mungkinkah Ia sedang jatuh cinta?

            Tante Kartika datang membawa suguhan. Lila terlihat kikuk.” Apakah ini Lila? Subhanallah, sudah besar,cantik lagi” Puji Tante Kartika,membuat Lila tersipu malu.

            “Apa kabar Ibumu,nak. Dan Bapakmu,apa masih bekerja di Malaysia” sekilas, Raffat melihat ketegangan di wajah Lila,ketika Tante Kartika menanyakan kabar Bapaknya. Raut wajahnya berubah pucat . “Ibu sehat kok,Tan”. Kemudian Lila buru-buru pamit pulang. Tanpa menyentuh suguhan yang disediakan Tante Kartika.Raffat mengantarkannya sampai pintu gerbang.

            Dengan mimik penuh tanya, Tante Kartika menghampiri Raffat.” Kenapa,Lila?” Raffat mengangkat bahunya. Dia juga tak mengerti,kenapa Lila terlihat ketakutan saat ditanya soal Ayahnya. Adakah yang disembunyikannya? Sebuah tanda tanya besar menggantung di benak Raffat. 

***

            Lila terlihat tak bersemangat sepulangnya dari tempat Raffat. Seharian ini, dia hanya bermalas-malasan di kamar. Dia juga menolak,saat Lala dan Ibunya mengajaknya berberlanja ke pasar. Terpaksa,Kastiyem berangkat sendiri. Sebab Lala tak mau meninggalkan Lila sendirian di rumah.

            “Aku sudah besar,Kak. Temanilah Ibu berberlanja” Kata Lila. Lala menatapnya sebentar. Ia tahu Lila sudah besar, tapi….kadang dia takut,meninggalkan Lila sendirian dirumah. Ia khawatir, ada tamu dan Lila akan membawanya masuk ke dalam rumah mereka. “Tidak, kamu dalam pengawasan,Kakak!” jawab Lala tegas. Lila tak acuh, lama-lama dirinya muak,dengan Lala yang selalu mengawasinya. Ia membalikkan badan, dan memunggungi Lala.Lala tak suka itu.

            “Sebaiknya,kamu menjauhi Raffat” Lila bangun tak terima.Ia tak mengerti jalan pikiran Lala. Apa,masalahnya?” Tanya Lila meminta penjelasan.

            “Kakak, tak suka kamu bergaul akrab dengan laki-laki. Ingat Lil,semua laki-laki, sama seperti Bapak” Mata Lala penuh dendam.

            “Kak,Raffat berbeda,buktinya kalian cepat akrab dengannya. Ibu juga nyaman berbincang dengannya. Apa Kakak, tidak perhatian, Ibu tertawa lepas,saat Raffat cerita konyol. Padahal semenjak kepergian Bapak, Ibu tak pernah tertawa seperti itu?!! Lila membela diri.

“Halah,kamu jangan tertipu,Lila. Dan,bila kamu sayang Raffat.Mulai detik ini,jangan temui dia secara sembunyi-sembunyi.Kamu ngerti kan, apa yang Kakak maksud?” Lala keluar,dan mengunci Lila di dalam kamarnya.Lila menangisi hidupnya,Ia seperti seekor burung dalam sangkar. Baginya,Lala  seperti seorang malaikat dengan hati iblis berwajah Ayu. Lila tak berkutik, titah Lala adalah perintah,dan siapapun yang melanggar,akan menanggung akibatnya.

Lala duduk sendirian di sofa,tampak tangannya memegang segelas air putih yang sedari tadi dipandangnya tanpa berkedip. Di sebelahnya, sebuah majalah wanita masih terbungkus plastic,belum tersentuh.

Lala terpekur lama……

“Raffat……” Dia menggumam sendiri, menyebut sebuah nama. Hatinya tiba – tiba tergoncang teringat senyum khasnya yang menawan.

“Hhhhhhhhhhh……” desahnya panjang. Dugaan adiknya benar. Baru kali ini, Ia merasa enjoy bercengkrama dengan seorang lelaki. Lelaki biasa,yang membuatnya tertawa untuk pertama kali!. Hatinya terasa plong, seakan beban di dadanya terangkat.Diam-diam Ia menaruh harapan besar pada Raffat. Sayangnya kegembiraan itu terganjal Lila. Dia cemburu,melihat Lila berulangkali mencuri pandang pada Raffat. Bahkan berani datang menenui Raffat sendiri,tanpa ijin Ibu atau dirinya. Hatinya terbakar api. 

Tidak….dia tak boleh memilikinya” Lala berbicara sendiri. Ia berjalan mondar-mandir mencari jalan keluar.
           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken