Pain Part 7






Bagian 7
 
“Kastiyem” Perempuan itu menoleh ,saat seseorang memanggil namanya.”Apa,kamu masih ingat aku,Kastiyem?” lelaki itu menjajari langkah Kastiyem di koridor pasar.

            Kastiyem,mengernyitkan dahinya,mengingat-ingat siapa lelaki yang berada di sampingnya itu. “Emmmmm … Rustam …?!!” Pekik Kastiyem. Membuat orang-orang disekitarnya tak urung menoleh padanya. “Ia…aku,Rustam!” lelaki itu terkekeh melihat Kastiyem terperangah. “Bagaimana,kalau kita minum es degan dulu” Ajak Rustam. Kastiyem tak menampik, Ia terlalu senang bertemu dengan kawan lamanya. Sampai lupa,tujuan utamanya ke Pasar.


            Kastiyem memperhatikan Rustam yang sedang memesan Es Degan. Lelaki itu masih gagah dan ganteng,meskipun usianya tak lagi muda. Mereka pernah berkawan akrab saat Sekolah Menengah Atas. Tubuhnya yang atletis, plus sifatnya yang royal,membuat teman wanitanya tergila-gila padanya. Sayangnya, keluarga Rustam pindah, ke Kalimantan. Semenjak itu,hubungan mereka terputus.

            Rustam,tanpa berkedip memperhatikan Kastiyem di hadapannya. Ia sudah lama mencari Kastiyem. “Kecantikanmu,awet.Aku iri sama suamimu,dia lelaki beruntung!” Puji Rustam,membuat wajah Kastiyem merah merona. Hatinya berbunga-bunga. Bertahun-tahun dia merindukan pujian dari Kusno,suaminya.Sayangnya Kusno tak pernah memperdulikannya.

            “Kamu,masih saja seperti dulu,Rustam” sahut Kastiyem.Rustam mengerling nakal. Kastiyem jadi serba salah. 

            “Di mana suamimu?” 

            Kastiyem tak merespon. Dia menyeruput Es degannya pelan-pelan.” Ngomong-ngomong, ngapain kamu sendirian ke pasar?” Kastiyem mengalihkan pembicaraan.

            “Aku ada urusan dengan temanku” Jawab,Rustam bohong.

Mereka,terlihat menikmati pertemuan itu,sampai tak sadar. Di seberang jalan, ada perempuan lain,diam-diam memperhatikan gerak-geraik mereka sejak tadi. Wajahnya kelihatan marah.”Perempuan sialan” Rutuknya berkali-kali.

Aku pamit dulu, sebelum anakku panic mencariku”

            “Aku antar” Pinta Rustam. Dia ingin lebih lama bersama Kastiyem,tapi Kastiyem menggeleng. Dia tak mau membuat kehebohan di rumahnya.

            Lala, heran, melihat gelagat Ibunya yang berubah drastis. Sepulangnya dari Pasar,wajahnya berbinar, seperti habis ke salon, dia juga tak membawa barang belanjaan.

            “Mana belanjaannya Bu”

            “Ibu,tadi bertemu kawan lama,bukannya belanja,malah keasyikan ngobrol” pipi Kastiyem bersemu merah,saat bercerita. Lala senewen melihatnya.Ibu,mestinya tahu waktu” Lalu Ia ke kamarnya,tanpa bicara. Dari dalam dia mendengar suara Ibunya bernyanyi kecil. Lala

***

            Di rumah, Pak Kades Efendi, ,beberapa orang sedang berkumpul. Ada laporan dari  warga,yang melakukan ronda malam. Kalau mereka sering mendengar rintihan orang minta tolong dari dalam rumah Kastiyem. Pak RT bersama beberapa orangpun pernah mendatangi rumah Kastiyem. Sayangnya mereka tak menemukan hal-hal mencurigakan di sana.Dan suara itu,masih tetap mengganggu mereka. Warga curiga Kastiyem menyembunyikan sesuatu.Apalagi semenjak kedatangan adik Kusno yang mencari keberadaan Kakaknya,yang menghilang semenjak empat tahun lalu dan sampai sekarang belum ada kabarnya. 

            Tapi,Pak. Waktu saya numpang toilet di sana. Punggung saya berat sekali, seperti di gandoli sesuatu,bueeerat banget,Sampai nggak kuat jalan” Kata Cak Martin dengan mimic lucu.

            “Lah,Paling,kamu kecapean habis nyangkul di sawah,Tin” Ledek Mbah Paerun. Orang-orang pada tersenyum.      

            Saestu,Mbah,suasana dalam rumahnya angker, hiiii..Mbah…jangan-jangan suara itu hantunya Pak Kusno. Lanjut Martin,bergidik ngeri.

            Gimana,kalau kita ajak orang-orang menggeledah rumah mereka saja,Pak Kades” Timpal Eko,lelaki gempal yang sakit hati pada Lala,karena cintanya di tolak mentah-mentah.

            Huss!! Ngawur kamu! Jangan main hakim sendiri” Eko,langsung mengkeret mendengar suara,Pak Kades.

            Saat ini,posisi kita diam, tapi bukan berarti tidak melakukan apa-apa.Kecurigaan kalian,membutuhkan bukti yang banyak. Bukan hanya dari tuduhan orang atau sekedar mendengar suara minta tolong. Saya minta, tolong pasang mata dan telinga kalian,kalau ada yang aneh,kalian bisa hubungi saya,kapanpun.Dan,ingat,jangan pernah main hakim sendiri.” Semua orang setuju dengan pendapat Pak Kades. Merekapun,pamit pulang karena hari sudah larut malam.

            Raffat dan Tante Kartika yang ternyata belum tidur, datang menemani Pak Kades yang sedang duduk termenung. 

            “Rumit,ya Pak?” Tante Kartika memulai pembicaraan. Ia tadi mencuri dengar pembicaraan bapak-bapak dari dalam kamarnya.

            Pak Kades, mengangguk. Tanpa di minta,Tante Kartika menceritakan pengalaman Raffat dan Alexi di rumah Kastiyem. Dan arwah gentayangan yang mengikuti Raffat. “Alexi,mana, Ma” rupanya Pak Kades,tertarik dengan cerita istrinya.

            “Fat,kamu sebaiknya tidak bergaul akrab dengan keluarga Kastiyem, tante takut terjadi sesuatu dengan kamu” Raffat tersenyum, dia tahu kekhawatiran Tantenya. “Jangan,khawatir. Raffat bisa jaga diri. Lagian, Raffat jadi penasaran ingin tahu siapa sih arwah yang mengikuti Raffat” Dia tak takut lagi dengan hantu.

            “Serem ih,ngomongin hantu, mana malam Jum’at lagi, Ayo,Pa, kita masuk saja” Pak Kades mengikuti istrinya ke dalam. Tinggal Raffat sendirian…..

Pletak….sesuatu mengenai dirinya.

“Aku hari ini capek, besok saja kalau mau main” katanya sambil menutup pintu
           
           

Comments

Tulisan Beken