Pain Part 8




Bagian 8
            Tulisan Raffat soal kelezatan Kare Ayam Kastiyem yang di muat di Warta Kota ,tak mampu membawa perubahan yang signifikan. Sebab, setelah tulisan Raffat muncul, esoknya ada tulisan yang memberitakan soal adanya campuran daging tikus dalam Kare Ayam Kastiyem. Pengunjung yang datang masih bisa di hitung dengan jari.

Tiap hari makanan mereka masih tersisa banyak. Yang akhirnya terpaksa terbuang,karena jikalau di berikan pada tetanggapun mereka dengan tegas menolak. “Lala,apa lagi yang harus kita lakukan” Kastiyem sedikit banyak terpengaruh dengan turunnya omzet mereka. Otaknya pusing mencari jalan keluar. Belum lagi, dia harus membayar hutang Kusno,pada H. Ali yang nyaris saban hari menelponnya. 


Sabarlah,Bu, Aku akan mencari jalan keluar” Jawab Lala setengah hati. Dia nyata – nyata dongkol dengan Bapaknya. Yang masih saja membawa kemalangan  bagi keluarga mereka.

“Perlu kamu tahu, Kusno memiliki hutang 50 juta padaku,di tambah bunga selama empat tahun, sehingga menjadi 500 juta.” Kata H. Ali, yang sengaja datang menemui Kastiyem dengan membawa bukti bukti akurat surat perjanjian hutang-piutang. Jantung Kastiyem,serasa copot. 

Kenapa,kami yang harus bayar. Yang hutang Bapak, dan uangnya kami tak pernah tahu seperti apa wujudnya” Lala tak dapat menahan emosinya.

“Hahahhahahaha,kalian adalah anak dan istrinya,jadi otomatis bertanggung jawab. Aku tak peduli apakah kalian tahu atau tidak. Pokoknya,dalam sebulan ini,uang 500 juta itu harus ada”. Gertak H. Ali. Sambil mengusap-usap jenggotnya yang panjang. Dua kaki tangannya yang berbadan besar berdiri dengan pongah di sampingnya.
***
Pagi buta,sebelum Lala dan Lila bangun, Kastiyem sudah wangi. Dia akan pergi ke suatu tempat. Dan dia langsung masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang ternyata di kemudikan oleh Rustam.Dan berhenti di sebuah hotel di pinggiran kota.

Tanpa malu-malu anak manusia itu melampiaskan segala hasrat yang terpendam. Melupakan semua ikatan yang mereka miliki. Kastiyem yang bertahun-tahun kesepian,tak keberatan menerima segala rayuan Rustam yang terdengar seperti candu di telinganya. “Kamu hebat, sayang” desah Rustam puas,membelai rambut Kastiyem yang bersandar di dadanya yang bidang. Kastiyem memberinya kecupan mesra sebagai jawaban. Di elusnya tangan lelaki itu.

“Bagaimana usahamu?” Tanya Rustam,menyulut rokok filternya. Kastiyem membuka sebotol minuman dingin. Dan di teguknya minuman itu sampai setengah. 

“Seperti yang kamu lihat” dia tak menjawab pasti.

“Beritanya cukup santer. Aku pernah mendengar orang membicarakannya di Warung” Kata Rustam hati-hati. Ia takut Kastiyem tersinggung. Kastiyem tersenyum samar.

Berita itu,jelas menyudutkanku, sama tikus saja aku jijik,lantas bagaimana mungkin,aku akan mencampurnya dalam masakanku” Suara Kastiyem, bergetar menahan amarah. “Sudahlah, kita tak usah membicarakannya hal itu lagi” sambung Kastiyem. Rustam mengiyakan,kemudian dia menelpon Restoran untuk memesan makanan.Karena waktu makan siang sudah dekat.

Setelah itu,mereka berjalan-jalan di sekitar Hotel, dan menjelang jam 3 sore mereka pulang.
***
Lala dan Lila duduk gelisah,di teras, menunggu Ibunya yang pergi tanpa memberitahu sebelumnya. Telepon genggamnya juga mati. Hal yang tak pernah di lakukan oleh Kastiyem. Mereka khawatir ada apa – apa dengan Ibunya. Lila yang mudah panic, matanya bengkak karena kebanyakan menangis,memikirkan Ibu mereka.

Raffat lewat di depan rumah mereka,membonceng Eko yang membawa hasil Kebun Kakeknya, yang terletak selemparan batu dari rumah Kastiyem. Raffat,berhenti dan memberi Lala 3 buah Pepaya California. Lala menerimanya dengan sukacita.

“Terimakasih” Ucapnya ramah. Raffat mengangguk, dan pamit pulang karena sebentar lagi Adzan Magrib. 

Mas Raffat, sepi sekali ya, Warung mereka sekarang” Kata Eko setelah jauh dari Rumah Kastiyem. “Iya” Jawab Raffat pendek. Ia menjadi kasihan pada keluarga itu,tetapi tak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka.

Saat di jalan desa yang sepi, mereka berpapasan dengan mobil sedan hitam,sekilas mata Raffat melihat dua orang  yang duduk di dalamnya. Dari kaca spion motornya, Raffat bisa melihat, mobil itu berhenti persis di depan mulut Gang menuju rumah Kastiyem. Seorang lelaki keluar. Kemudian,pandangannya terhalang oleh kendaraan yang lewat.

“Siapakah,lelaki yang bersama Ibu Kastiyem” Raffat mengingat-ingat nomor mobil itu. Siapa tahu nanti berguna,pikirnya.

***
“Kak, Ibu sudah pulang” teriak Lila menghambur ke pelukan Kastiyem. Lala yang berada di kamarnya segera datang menemui Ibunya. “Ibu dari mana saja” tanyanya dengan muka merah menyala. Ia kesal.

“Maafin Ibu,Nak, Ibu tadi terburu-buru”

“Oh…..begitu,ya sekarang,pergi tanpa pamit. Enak bener, sedangkan kami seperti orang gila menunggu,Ibu!!” Sindir Lala pedas. Lila yang tak suka keributan,memilih membuatkan minuman untuk Ibunya.

“Ibu,ada pekerjaan penting,La” Kastiyem meneguk, teh hangat buatan Lila.

Pekerjaan apa,Bu? apakah bersenang-senang dengan kawan lama,itu maksud Ibu?” Kemaren, Lala, tak sengaja membaca sms yang dikirim Rustam pada Ibunya.

“Tolong,jangan bertindak,bodoh,Bu” Pinta Lala melas, Ia tahu,Ibunya galau memikirkan masalah pembayaran hutang pada H.Ali.

“Ibu, mau bersenang-senang sebentar,La. Tolong ngerti Ibu! Ibu capek dengan masalah yang terus datang pada kita” Tangis Kastiyem pecah, pertahanannya jebol setelah bertahun-tahun dia bangun.








           

Comments

Tulisan Beken