Pain Part 9




Bagian 9
 
            Rustam berjalan tergesa,menuju rumah bercat hijau dan berpagar setinggi 2 meter. Disana, seorang wanita sudah menunggu Rustam,lebih dari 1 jam. Dan mulai uring-uringan. 

            Kamu dari mana saja, sih” Bentak wanita yang umurnya sekitar 30 tahunan. Rustam menanggapinya dengan senyuman. “Sorry,cantik, di jalan tadi,macet”. Dia mencibir. “Alasan,klise,jangan-jangan kamu ketemuan dengan pacarmu yang lain” Rustam tergelak, “Busyet,penciumannya tajam bener” Ia membathin. “Hanya,kamu wanita yang ku cintai ,sayang” Bisik Rustam di telinganya lembut. Membuat perempuan itu sejenak,lupa diri. Dia memang perayu ulung.


            Bapak, hari ini, tidak datang kerumah, sebagai gantinya, aku meminta ijin,supaya kamu bisa mengantarkanku jalan-jalan ke Mall”

            “Sopir,lain kan ada” Rustam membukakan pintu untuk majikannya

            “Ah..malas aku sama mereka. Ngomongnya aak .. uuk” Perempuan itu memilih duduk di depan, di samping Rustam. Daripada duduk di belakang. Di situ Ia lebih leluasa,merasakan wangi parfum maskulin Rustam. Yang membuat darahnya berhenti berdesir.
***
“Ry…..apa yang harus ku lakukan” Tulis Lila pada buku diarynya. Disanalah dia bisa bercerita panjang lebar, tentang perasaannya. Sikap protektif Ibu dan Kakaknya membuat teman-teman Lila menjauh satu persatu. Mereka tak suka Ibu dan Kakak Lila terlalu turut campur dengan urusan mereka.

            Lantas, telinganya mendengar deruman mobil yang berhenti di depan rumahnya. Lila mengintip dari balik korden. Ternyata Haji. Ali. Dua begundalnya teriak-teriak di depan pagar. ”Kastiyem..buka pintunya!!” Ibu datang tergopoh-gopoh membuka pintu.

            Haji. Ali,kemudian duduk di kursi.Kedua kakinya di selonjorkan diatas meja. Ibu geregetan melihatnya. “Turunkan,kakimu! nggak sopan sekali…” Kata Ibu mengingatkan. Haji. Ali menyeringai, dia menatap Ibu dengan pandangan mengejek “Ini rumahku,terserah aku dong!” Ibu berusaha sabar, menghadapi. Namun tidak bagi Lila. Dia yang biasanya kalem, tak terima dengan perkataan Haji.Ali. “Eitsss….sejak kapan,rumah ini menjadi rumahmu?” dengan bertolak pinggang dia berdiri di depan lelaki gaek itu.

            “Siapa,dia Kastiyem” Bukannya menjawab pertanyaan Lila, Dia malah melihat Lila dari atas ke bawah dengan mata  jelalatan. Matanya seakan ingin menelan Lila yang cantik.

            “Dia, Lila,putriku” Mata Haji Ali terbelalak, kepalanya manggut-manggut seraya membelai janggutnya. Matanya tak berhenti menatap Lila. Perut Lila mendadak kaku.

            “Kastiyem, aku ingin bicara serius denganmu.” Perasaan Kastiyem tak enak. Dia meminta Lila masuk.

            “Aku ada tawaran bagus untukmu. Kamu tak perlu bayar hutang Kusno, asalkan dengan satu syarat.” Nafas Kastiyem tak beraturan. Dia sudah tahu, apa yang di maksud Haji Ali. Heh, ibu mana yang setuju,anaknya yang cantik dijadikan alat penukar sebagai pembayar hutang Bapaknya yang tak bertanggung jawab itu. Kastiyem meremas-remas jemarinya.

            “Tak usah,kau katakan. Aku sudah tahu maksudmu!”
 
            Bagus! Kalau kamu setuju …” Haji Kusno,tertawa senang.

            “Cuih, sejak kapan aku bilang setuju?!!” Darah Kastiyem mendidih.

            “Sudahlah,jangan sok kamu! Waktumu tak banyak, dan aku tak yakin, kamu bisa membayar lunas hutang suamimu!” Andai Kusno ada, Kastiyem akan merobek mulut lelaki itu yang sudah membuat keluarganya jadi sengsara.

            Di dalam, Lila terdiam, tatapannya hampa. Dia sudah mendengar semuanya. Sekarang, tinggal menunggu keputusan kakaknya,Lala.

Lala, tak begitu terkejut dengan keinginan Haji.Ali. Sedari awal, dia sudah memperkirakan. Sebenarnya, dia juga punya ide yang sama, makanya dia setuju saja Lila di jadikan sebagai istri ke 7,oleh Haji Ali.

            “Jangan gegabah,La. Lila itu adikmu! Apa kamu tidak kasihan padanya”. Kastiyem gusar dengan keputusan Lala.Dia tak pernah membayangkan punya menantu seorang aki-aki,istrinya banyak pula.

            “Lala, sudah memikirkannya matang-matang,Bu. Dari mana kita dapat mengumpulkan uang 500 juta itu. Warung kita sepi, job Lala juga lama tak menerima client, terus…memberikan rumah ini, sama saja bunuh diri.”

            “Tapi…La dia itu sudah tua, apa kamu tega melihat adikmu sengsara” Ibu terlihat histeris,tak kuasa menatap Lila yang tampak  tegar.

            “Ini,jalan terbaik Bu. Lila akan aman disana.Kita juga aman” Kastiyem tertohok. Semuanya diam,dengan jalan pikirannya masing-masing. 

            Miaw…..Si empus mendekat, dia melihat satu persatu wajah tuannya. Tak diperhatikan, diapun menyingkir ke halaman,mengejar kodok.

            Sambil menangis, Lila bersimpuh di kaki Kastiyem. Hati Kastiyem sakit, tak rela putrinya bertindak begitu.” Ibu,Lila rela menjadi istri Haji.Ali”. Katanya sesenggukan. Kastiyem menggeleng,”Tidak,nak, Ibu tetap tidak rela!”

            Jangan,konyol,Bu, Lila sudah menjadi anak patuh,mestinya Ibu senang,tak pusing lagi memikirkan bagaimana mencari uang itu!” kata Lala galak.

            Plak

            Tanpa sadar,tangan Kastiyem menampar pipi Lala keras. Dia meringis, menyentuh pipinya. Lala tak menyangka sama sekali Ibunya bisa berbuat seperti itu padanya. “Ibu,kecewa padamu,La.Kamu egois!” Lala tak terima.

            Pertengkaranpun terjadi..Lila menutup telinganya.

            “Diaaaaammmmmmmmmmmmmmmm” Lila berteriak histeris. Membungkam Lala dan Kastiyem.
           
           
           

           

Comments

Tulisan Beken