Ada Kodok Di Wajahmu Part 1





1.    Pertemuan
            “Busyet! Dimana dia bersembunyi” sungut salah seorang lelaki bertubuh tambun. Dengan perutnya yang buncit. Bibirnya yang hitam, mengeluarkan kata-kata kotor.
            “Kita cari lagi,bang. Mungkin dia belum jauh dari sini” ajak temannya yang berpostur kurus, bermata belok. Kemudian, dia turun dan memperhatikan dibawah jembatan, gelap. Tak mungkin, anak itu berani bersembunyi,disana. Pikirnya. Ia lalu berbalik, kembali ke lelaki tambun,yang menunggunya di atas.
            “Sudahlah! Kita pulang saja!” ajak lelaki tambun, menghentakkan kakinya ke tanah, gusar. 

            Tepat di bawah mereka. Nora berusaha keras menahan dingin dan bau air kali yang menyengat dengan ratusan sampah yang menghantam badannya. Jangan tanya warnanya. Huff, hitam legam, mirip oli, hingga kaos putihnya berubah warna.
Badannya, mulai menggigil kedinginan. Telinganya awas,memperhatikan suara diatasnya. Di tengoknya jam murahan yang melekat di pergelangan tangannya. Mati!
Jam berapa ini? Nora melihat sekeliling, setelah di rasa aman. Perlahan dia naik ke pinggiran kali. Matanya celingak celinguk mencari tempat dimana Ia berganti pakaian. Kemudian, dia menemukan semak-semak di dekatnya.
Tak sampai lima menit. Nora berganti baju. Bibir penuhnya, tersenyum tipis. Beruntung, sebelum kabur  tadi, dia membungkus tasnya dengan kresek plastis. Sehingga baju dan uang yang dicurinya tidak basah setelah memutuskan bersembunyi di sungai di bawah jembatan.
Yach, Nora tahu, tak mungking Bang Karta dan Bang Beni akan mencarinya di sungai. Sebab, mereka mengira Nora, jijik dengan hal yang berbau dan kotor.
Nora menghentikan mobil truck yang melintas. “Boleh numpang,nggak Pak” Sopir itu mengangguk, tanpa banyak bertanya dan membukakan pintu buat Nora.
Nora tersenyum manis, melihat ke arah sang sopir. Sayangnya, lelaki itu tak menghiraukan senyum Nora. Matanya tetap focus melihat jalan. Seakan tak peduli akan keberadaan Nora.
Malam semakin larut. Tubuh Nora lelah. Berkali-kali dia jatuh tertidur, meskipun sudah berusaha untuk tetap terjaga. “Tidur saja, jangan takut” kata lelaki disampingnya, tanpa menoleh. Nora tak menjawab. Dia memang takut. Sekilas Nora melihat teman wajah sang sopir. Umurnya, sekitar 30 tahunan.
“Kamu, mau pergi kemana? Nora mengangkat bahunya. Ia mengambil sebotol minuman yang diberikan Kang Rohim padanya. Dan meneguknya hampir setengah.
Ada senyum di bibir Kang Rohim. Melihat Nora meneguk air. “Rumahku, di Brebes. Kamu boleh ikut,kalau mau” Nora ragu. “Aku mau mencari pekerjaan,Kang, pekerjaan apa saja, yang penting halal” kata Nora, Ia tadi sempat mendengar percakapan Kang Rohim dengan temannya. Setelah itu mereka, saling diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***
Menjelang subuh, Kang Rohim menghentikan truknya di sebuah warung sederhana.  Pemiliknya, bernama Bu. Parni, perempuan yang sudah berumur dan gesit melayani pembeli.  Nora memesan segelas teh hangat.dan memakan dua bungkus roti isi kacang sekaligus untuk mengganjal perutnya.
“Kamu tak makan nasi?” Kang Rohim duduk di sebelahnya. Dia memakan nasi rawon dengan lahap. Nora menggeleng. Pikirannya bimbang. Haruskah dia kembali ke Jakarta atau ikut Kang Rohim ke Brebes.
Seorang lelaki masuk. Dan duduk di seberang meja mereka.
“Cantik juga, dia Him. Kamu dapat dimana” Kang Rohim tersenyum tipis, Nora tersedak. Karena terkejut, dengan pertanyaan orang itu. Mungkin dia teman Kang Rohim, sesama sopir yang sering mangkal di situ.
“Namanya siapa, cantik?” tangannya yang kasar menjawil dagu Nora. Mata Nora memandangnya tajam. “Bisa nggak sih, sopan dikit !! Jawabnya ketus. Lelaki itu, mendekat. “Aishhhh ….sombong sekali, berapa tarifmu semalam” Dia melemparkan dua lembar ratusan ribu di depan Nora.
“Dia adik temanku, kamu jangan usil. Pergilah cari yang lain, okeeee!!” Kang Rohim menyeret tangan Nora keluar, sebelum Nora meninju muka temannya itu.
“Huh” dengus Nora kesal. Mukanya bersungut, duduk disamping Kang Rohim. Lama dia termenung. Pikirannya semakin tak karuan. Ia menyesal meninggalkan neneknya sendirian di Jakarta. Bagaimana kalau Kang Karta dan Kang Beni berbuat nekat lantas menyakiti neneknya. Ia tak bakalan mampu memaafkan dirinya seumur hidup. Nenek, adalah orang yang paling di sayangi Nora.
“Aku turun, disini saja,Kang” pinta Nora. Kang Rohim,memarkir mobilnya di tepi jalan, memandang wajah imut Nora. Gadis itu telah mencuri perhatiannya. Wajahnya ayu dengan hidung mungil dan mata bulat indah, di tambah rambut Nora yang panjang, membetot indra penglihatan Kan Rohim. Nora di luar terlihat kuat, tapi sebenarnya ia lemah, ketika memandangi foto neneknya. Nalurinya ingin melindungi Nora.
“Tak bisakah, kau ikut denganku?” Baru kali ini Ia meminta pada seseorang. Berat rasanya melepas Nora, meskipun mereka baru berapa jam berkenalan. Nora menggeleng.
“Kalau memang Tuhan menakdirkan kita bertemu, apapun rintangannya. Kita pasti bakalan bertemu lagi” senyum Nora mengembang dari bibirnya. “Trimakasih, tumpangannya,Kang ….!! Ia melambaikan tangannya menyetop bis jurusan Jakarta.
“Nora, tunggu!! Kang Rohim mengejar Nora, dia menyelipkan sesuatu di dalam saku Nora.









           


Comments

Post a Comment

Tulisan Beken