Ada Kodok Di Wajahmu Part 2




Seraut Wajah Lucu

Nenek menggigil ketakutan, melihat kemarahan Karta. Ia terkejut, Karta dan anak buahnya, Beni, datang dengan marah-marah, mencari Nora. Ia tak tahu menahu, keberadaan Nora. “Nora, mencuri uangku, Nek” Karta berteriak nyaring, suaranya keras seperti petir. “Tak mungkin, Nora anak jujur, aku mendidiknya dengan baik” Nenek geram dengan tuduhan Karta pada cucu kesayangannya itu.

“Heh, jujur apaan??!! Aku tak bakalan kesini, kalau dia tak ada salah. Sudah untung diberi kerjaan, malah jadi maling! Dengus Karta, tak mampu menutupi rasa kesalnya. Bagaimana tidak, uang itu sejatinya, untuk biaya rumah sakit adiknya. Sekarang, malah di bawa kabur Nora! Dia juga yang bodoh, telah mempercayai Nora untuk mengambil uang ke tempat Haji Rosid. 

“Berapa banyak  uangnya?” Tanya nenek pelan.

“20 juta” 

Nenek terbelalak. Ia terkulai lemas, duduk di sofa yang sudah mulai pudar warnanya. Mungkinkah Nora, mendengar pertengkarannya dengan Sofia kemarin pagi? Sofia, Bibi Nora, terjerat hutang pada lintah darat. Gajinya sebagai SPG, tak mampu memenuhi gaya hidupnya yang glamour. Akibatnya hutangnya dimana-mana. Nenek sudah hilang akal, dengan orang yang datang menagih. Bukan hanya tivi dan kulkas yang mereka bawa, merekapun tega membawa magic com yang baru di beli oleh Nora.

            Di tengah rasa gelisahnya, Nora datang. “Assalamualaikum” wajahnya kelihatan lelah.Nenek menciumi wajahnya. Melihat Nora, Bang Beni langsung mencengkeram kerah lehernya. Ia gemas melihat Nora, yang dikiranya gadis lugu. Nora tak melawan, Ia memang bersalah, mengambil uang yang bukan haknya.

            “Tolong, ampuni dia, Nak Karta? Setengah terisak, nenek menghampiri Karta. “Maafkan, aku Bang” Beni melepaskan cengkramannya. Nora membuka tasnya dan memberikan tas plastic hitam pada Karta. “Uangnya, kurang 100 ribu, Bang. Kemarin kupakai untuk biaya transport” dia melepaskan cincin, di jari manisnya dan memberikannya pada Karta.

            “Untuk, apa ini? Karta kebingungan menerima cincin Nora.

            “Sebagai pengganti uang 100 ribu” Nora berkata pelan. Beni yang sedang menghitung uang, tak urung menoleh pada Karta. “Jadi,bagaimana sekarang,Bang” 

Karta tertawa terbahak-bahak. Ia tahu, Nora sebenarnya anak yang baik, mungkin dia sedang setress memikirkan neneknya, sehingga dia berbuat nekat.

“Kali ini, kamu kumaafkan.Dan ingat, jangan kamu ulangi lagi!” Nora mengangguk pelan. Ia malu menatap wajah Bang Karta yang selama ini baik padanya.

Brak

Seseorang membuka pintu dengan kasar. Semua orang menoleh pada Sofia dan teman lelakinya. Perempuan itu melemparkan tasnya di atas meja. Lalu duduk dengan pongah di samping nenek. Tanpa memperdulikan tamu, Ia meminta uang kepada Nora.

“Mana uangnya,Nora” Nenek tak dapat menahan amarahnya, melihat Sofia.

Plak

Dia menampar wajah Sofia. Semua menegang

“Keterlaluan kamu, Sofia!! Enak betul kamu meminta uang pada Nora.Kamu yang salah, kenapa justru Nora yang bertanggung jawab!” Sofia tak terima perlakuan Nenek. Dia berdiri, marah.

“Iya! Aku memang keterlaluan. Apa peduliku pada Nora. Sedangkan orangtuanya saja tak peduli padanya. Di dunia ini tak ada yang gratis bu, sepatutnya dia membayar apa yang sudah di terimanya selama ini! Sofia histeris, tangannya menunjuk ke muka Nora.Nenek bergeming, airmatanya mengalir deras.

“Jangan sedih, Nek” Nora menyusut airmata diwajah neneknya.

“Jangan panggil, dia nenek!! Pergi kamu sekarang dari rumah ini!!!! Bentak Sofia, dan melemparkan baju-baju Nora ke mukanya.

Karta dan Beni melongo. Mereka pamit pulang dengan hati berat. “Kita, tunggu di depan gang” Beni menuruti perintah Karta. Pikiran mereka terpaku pada kejadian tadi. Ia menyesal, telah berbuat kasar pada Nora.
***
Nora merenggangkan badannya. Pinggangnya penat, setelah seharian sibuk di kebun. Ia duduk di tepi, matanya melihat sekeliling. Senyumnya mengembang saat melihat tanamannya mulai tumbuh subur. Angin sore semilir menerpa wajahnya. Matanya menjadi berat.

Seseorang berdiri tak jauh dari tempat Nora. Lelaki itu mendekat. Tak berkedip, memandangi Nora yang tertidur di atas tumpukan jerami. 

Hap, seekor kodok anggun mendarat tepat di kening Nora.Ia ingin membangunkannya, namun tak tega, melihat Nora yang tertidur pulas, bagai Cinderela. Lelaki itu menunggu, dia mengambil ranting, berusaha mengusir kodok itu pelan-pelan. Bukannya pergi, kodok itu malah memandanginya. Hei…jangan ganggu aku.

Cukup lama dia bersila di situ. Kakinya mulai pegal.

Nora menggeliat, matanya mengerjap lucu.Ia kaget, ketika sadar, Ia tak sendiri. “Kamu siapa !!” tanyanya keki.

“Hahahhahaha, kalau ngantuk, tidur di dalam, bukannya di kebun. Bagaimana kalau ada ular?” lelaki itu terkekeh, melihat Nora yang cemberut.

Nora kesal. Dia lantas pergi meninggalkannya. Baru beberapa langkah, Ia berhenti. Sepertinya dia pernah melihat wajahnya, tapi…dimana? Kedua alisnya berkerut. 

“Nora …tunggu” Ia makin terkejut.

“Ckckckckckckkckc….belum tua sudah pikun, aku ini Kang Rohim” Mulut Nora menganga lebar, tak yakin pria ganteng di hadapannya adalah Kang Rohim, sopir yang memberi tumpangan untuknya.

“Ah….masak sih, sepertinya bukan, Kang Rohim  yang ku kenal itu, jelek dan hitem. Kamu jangan ngaku-ngaku deh” Nora mengejeknya.Walaupun hatinya ragu. Saat itu gelap, dia bahkan tak memperhatikan betul bagaimana fisik Kang Rohim.

Sekarang, gantian Kang Rohim, yang mendelik. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkannya ke tangan Nora.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken