Ada Kodok Di Wajahmu Part 3




Benih –Benih Cinta
            Nora mematung, memandang dompet coklat miliknya. Dia membukanya pelan-pelan. Ada foto dia dan nenek, nenek terlihat bahagia. Nora terisak samar.

            Malam itu Ia mengendap pulang, meskipun Bibi Sofia telah mengusirnya. Sebab, Nora tak tega meninggalkan neneknya sendirian dirumah. Siapa yang akan mengurusnya bila dia pergi.

            Nora mengetuk jendela kamar, neneknya, pelan.”Nek, ini Nora” wajah nenek bahagia mendapati Nora. Gadis itu lalu masuk, mereka berpelukan erat. Nenek mencintai Nora lebih dari segalanya. Bayi yang ditinggalkan seseorang, di depan pintu rumah nenek 18 tahun silam. Mata bayi itu mempesona, seperti kerlip bintang, indah sekali. Hati nenek langsung luruh menatapnya. Ia merawatnya dengan kasih sayang. Nora kecil, bagaikan malaikat penghibur jiwa nenek yang kesepian, setelah Sofia anak satu-satunya, pergi merantau ke Batam


            Nenek mendidik Nora dengan baik, membuat Nora menjadi pribadi yang tangguh, dan tahu berterimakasih. Pengalamannya merawat Sofia dulu, tak ingin diulanginya kembali. Nora tahu siapa dirinya dari nenek, Ia tak pernah menggugat Tuhan dan mencari tahu siapa orangtuanya. Sebab, Dia telah menganggap Nenek adalah orangtua satu satunya. Itu sudah cukup baginya.

            Nora tidur lelap dalam pelukan nenek, yang hangat, membaui aroma balsam dan kemiri dari tubuh dan rambut nenek. Sampai akhirnya, Bibi Sofia menemukannya tidur di kamar nenek, suatu malam. Ia begitu murka pada Nora. Memukulinya dan mengunting rambut panjang Nora, seperti anak lelaki. “Pergi kau anak setan, aku sudah muak melihatmu disini!! Lantas Bibi Sofia membawa nenek pergi, sejak saat itu ia kehilangan kontak. Nora merindukannya tiap malam. Kangen dengan neneknya. Segitu rindunya, Ia sampai memeluk guling, yang Ia baluri balsam, berharap guling itu berubah menjadi nenek yang amat di rindukannya.  

            “Nora, Bang Karta ada kerjaan untukmu, tapi pekerjaannya tidak disini” Nora menerima tawaran Bang Karta menjadi babysitter untuk adik perempuannya yang difabel. Harapan Nora, jauh dari Jakarta dia bisa melupakan memori akan neneknya.

***
            “Hellooooooooowwwwwwwwwwwwwwwwww, lupa yah, kalau ada tamu” Nora tak mengindahkan. Pandangannya kosong ke depan. Kang Rohim menggaruk kakinya. Ia menelan ludahnya, tenggorokannya kering sejak tadi. Tangannya mengambil sebuah tomat yang matang di dekatnya. Mata Nora melotot. “Enak saja, ambil tanpa permisi” merampas tomat yang akan di makan oleh Kang Rohim.

            Ia kembali mengambil tomat di tangan Nora. Lantas memasukkannya ke dalam mulutnya. Mengunyahnya cepat. Tomat itu lenyap dalam hitungan detik. “Aku haus, mestinya kamu tuh, sebagai tuan rumah, menawariku minuman, atau apa gitu” sungutnya kesal, menagih pada Nora.

            Nora mengambil selang, kemudian tanpa di duga, dia menyemprotkan air  ke badan Rohim . “Katanya haus, nih sekalian mandi biar, badannya seger” Nora terbahak-bahak, melihat Rohim  gelagepan, mendapat serangan mendadak dari Nora. Ia berteriak kesal. “Jiaaaannnnnnnn, asem tenan” Nora tak acuh dan berlari menuju Karmila yang datang diantar Bik Supi. 

            “Kangen yah, sama kakak” Dia mencium pipinya yang gembul. Karmila girang melihat Nora, Ia berusaha keras, menarik kaki dan tangannya yang bengkok di atas kursi rodanya. “Ah..uh..ah…uh” suaranya tak begitu jelas. Rohim memandang keakraban mereka, takjub!.           

“Halo, siapa namamu” Karmila tergelak melihat Rohim basah semua. Rohim menyapanya ramah,
            “Ah..uh..ah..uh” Wajahnya berbinar. Ia kelihatan senang dengan kehadiran Rohim. Nora dan Bik Supi bertatapan. Tumben, Karmila menyukai orang yang baru dilihatnya.

            “Tunggu sebentar, Aku punya sesuatu buatmu” Ia berlari kecil ke mobilnya yang parker tak jauh dari situ. Dan membawa boneka panda seukuran bantal untuk Karmila. Anak itu, girang mendapat boneka baru, menunjukkannya pada Nora dan Bik Supi. “Ayo, bilang terimakasih,sayang” kata Nora. “Ah…uh..ah..uh” Karmila menarik tangan Rohim, memintanya mendorong kursi rodanya ke dalam.

            Nora dan Bik Supi mengikutinya dari belakang.
***
            Bik Supi, menyiapkan makan malam istimewa untuk tamunya. Pecek lele, nugget lele dan lalapan. Semua hasil dari kebun Nora. Lele tinggal ambil, begitu juga sayur mayur tinggal petik. Rohim makan banyak. Ia nambah sampai tiga kali. Bik Supi tentu saja senang, melayaninya.”Lezat sekali masakan Bibi, kalah telak Chef Rudi. Coba bibik buka warung makan, di jamin laris” Bik Supi mesem, mendengar pujian Rohim.

“Halah, makannya di warung lesehan aja sombong” timpal Nora ketus. Ia menggigit nugget lele. Rohim menoleh padanya. Hatinya berdebar keras. Disampingnya, Karmila,meminta sesuatu Bik Supi memberinya nugget.

            Tanpa di duga, Karmila lengket dengan Rohim. Nora dan Bik Supi tak bisa berbuat banyak. Ia menjadi rewel, saat Rohim pamit pulang Nora sampai kewalahan menghadapinya.

            “Nak Rohim, sebaiknya menginap di sini saja, malam ini. Tidurnya bisa di ruang tamu”. Bik Supi gugup. 

            “Baiklah, Bi” Rohim nyaris berteriak senang. Kata-kata itu yang ia tunggu sejak tadi. Menginap. Ia belum puas mengobrol dengan Nora. Tawa Karmila pecah. Ia senang, mengetahui Rohim bersedia tinggal.

            Malam itu, mereka berempat bermain menemani Karmila yang seperti memiliki energi lebih. Ia tak mau tidur, meskipun Nora dan Bik Supi membujuknya berkali-kali. Setelah Rohim, turun tangan, dia baru nurut.

            Jam di ruang tamu, berdentang 11 kali. Nora bermimpi lengannya terbakar. Ia terbangun. Dan menyadari, ternyata lengannya memeluk tubuh Karmila yang panas. Tubuhnya kejang-kejang, serta matanya terbalik. Nora ketakutan. Ia bingung, dan membangunkan Rohim dikamarnya. Terdengar tangis Bik Supi di kamar Nora.

            “Kaarmiiiilaaaaa, tooolong” Nora terisak. Ia takut, terjadi sesuatu pada Karmila. Dengan sigap Rohim menggendong Karmila ke mobilnya. “Bik Supi, dirumah saja, biar saya dan Nora yang kerumah sakit” Bik Supi menuruti perintah Rohim. 

            Rumah Sakit lumayan jauh, sekitar satu jam perjalanan. Sepanjang perjalanan Nora mendekap tubuh mungil Karmila. Ia sudah tak kejang lagi, hanya saja tubuhnya sangat panas. “Lepaskan selimutnya Biar suhu tubuhnya turun” Nora mengangguk. IA melepas selimut tebal yang menutupi tubuh Karmila.

            “Terimakasih, Kang” ucap Nora memecah kebekuan diantara mereka. Rohim tersenyum. Nora baru menyadari, kenapa Karmila rewel. Mungkin anak itu tahu, ada sesuatu yang bakal terjadi. Andai Rohim tak menginap, Nora tak tahu akan berbuat apa.
           
           

           
           
           
           
           

           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken