Ada Kodok Di Wajahmu Part 4




Kerlip Bintang Kejora
 
            Karmila langsung di tangani oleh dokter Teguh. Panasnya belum juga turun, sehingga dokter memberinya obat rectal. Hati Nora, mulai tenang melihat Karmila tidur. Di belainya rambut Karmila, sayang. Dia memiliki cinta yang besar padanya. Anak ini tegar dan nrimo apa yang sudah di gariskan padanya. Hidup dengan fisik tak sempurna, tak membuatnya murung. Ia anak yang ceria, suka ketawa dan menyukai petualangan. 

            Dulu, sebelum ayah dan Ibu bang Karta meninggal. Mereka suka mengajak Karmila jalan-jalan. Mereka mendidik Karmila seperti anak normal. Mereka mensyukuri kehadiran Karmila, di usia mereka yang tak lagi muda. Sayangnya, kebahagian Karmila bersama kedua orangtuanya tak lama, mereka mengalami kecelakaan disaat akan menjenguk Bang Karta di Jakarta, sedangkan Karmila terluka parah,sehingga harus melewati serangkaian operasi untuk menyelamatkan hidupnya.


            Bang Karta, sangat menyayangi Karmila, adik satu-satunya. Dia berupaya menyenangkan hati Karmila sepeninggal kedua orangtua mereka. Bang Karta mengajaknya tinggal di Jakarta. Keinginan Karmila berbeda. Dia terbiasa hidup di desa yang tenang, melihat sawah, sapi serta burung, kupu –kupu dihalaman mereka yang luas. Sekarang harus hidup di apartement. Karmila menjadi murung.

Tiap malam dia menangis, badannya semain kurus, karena tidak mau makan. Bang Karta gundah. Atas saran Bik Supi, akhirnya dia menyetujui, membawa Karmila kembali ke desa. Dan meminta Nora menemani Karmila.

Rohim datang, membawakan mereka teh hangat.Nora meneguknya perlahan. ”Istirahatlah, biar aku yang menjaga Karmila” Nora menggeleng. Ia tak enak hati pada Rohim.

“Handphonemu dimana? Tanya Rohim. Nora mengambil tasnya, dan mengeluarkan semua isinya. Dia lemas, telephone genggamnya sedang dia charge, dan dia lupa membawanya. Bagaimana ini, Bang Karta bakalan memarahinya nanti. Nora gelisah. Ia tak mungkin pulang, dan meninggalkan Karmila bersama orang lain.

“Makanya, tenang sedikit, tak usah panic duluan saat ngadepin sesuatu” Rohim memberikan telephone genggam pada Nora. Nora terkejut.

“Kenapa nggak bilang dari tadi sih” Nora sewot. Rohim tergelak, melihatnya. Ia suka menggoda gadis itu. Ia senang melihat mata bulatnya.

“Oh ya, bagaimana kamu tahu aku tinggal disini sekarang” tanya Nora polos. Ia tak mengerti kenapa Rohim jauh-jauh mendatanginya.

Rohim berdehem, jemarinya merapikan rambut yang menghalangi pandangannya pada Nora.

“Hahahahahha, untuk apa juga, aku menyimpan dompet bulukmu itu. Lagian paling cuma kutu busuk penghuninya” Ia menyeruput kopi. 

Bibir Nora mencibir. Sombong banget.

“Kenapa tak kamu buang saja, atau fotonya bisa kamu jadikan pajangan di dapurmu, kali saja,tikus-tikus pada kejer melihatnya” sahutnya kesal. Lalu, Nora berdiri di depan jendela, memandang kerlip bintang kejora, sinarnya menyusup ke ruang hati. Rohim, tak melewatkan, pemandangan indah didepannya. Ia memandang Nora dengan perasaan cinta. 

Gadis itu sudah membuatnya kalang kabut. Ia terkena Virus ILOVE YOU. Pikirannya sibuk memikirkannya, siang dan malam, dan merenggut nafsu makannya. Rohim mencoba menepisnya, menghapus bayangan Nora di memorinya. Tapi….semakin dia coba, bayangan Nora semakin jelas terlihat. 

Sampai akhirnya, dia memutuskan mencari Nora ke Jakarta, membuat bapaknya marah.

***

Karmila harus di rawat selama beberapa hari di Rumah Sakit. Tadi, dia sudah di ambil darahnya untuk mengetahui apa sebab sakitnya. Rohim tak tega meninggalkan Nora sendirian disana. Bik Supi sibuk mengurus rumah ,kebun dan harus memberi makan ternak. Kasihan juga bila dia harus turut menjaga Karmila.

 Karta datang sore hari bersama Beni. Dia segera datang, setelah Nora memberinya kabar. Wajahnya kelihatan lelah. “Ah..uh…ah..uh” Karmila terjaga dari tidurnya. Ia gembira melihat abangnya datang. “Karmila, cepet sembuh. Abang biar tidak sedih” Karmila mengangguk, matanya ceria memandang abangnya. “Aaaahhhhhh” tangannya menunjuk buku cerita, di atas meja. Nora mengambilnya dan membacakannya dengan suara yang indah. Semua yang ada di situ, terdiam, mereka menikmati cerita yang dibacakan oleh Nora.

“Kamu akan menjadi Ibu yang hebat nanti, Nora” Puji Karta. Rohim cemburu. Dia menelisik, apa maksud Bang Karta?

Betul kan, Him? Karta menepuk pundak Rohim. Dirinya gelagapan menjawab pertanyaan yang tiba-tiba dari Bang Karta. 

Beni tak dapat menyembunyikan kantuknya. Berulangkali dia berusaha untuk tetap membuka matanya. Tangan Nora jahil, dia mengambil karet,gelang bekas bungkus nasi. Menariknya keras, dan…… pluk. Dia terkekeh, saat karet gelang mendarat di jidat Bang Beni. Cowok itu kaget, dan menggerutu ketika tahu Nora telah menjahilinya. Dia lalu, pura-pura menjitak kepala Nora. Gadis itu membalasnya dengan senyum nakal.

Hal itu membuat hati Rohim panas. Ia melengos, melihat keakraban antara Nora dan kedua teman barunya itu. Karta melihatnya.Ia mengajaknya ke kantin, bersama Beni yang kelaparan.

“Kamu, jangan khawatir, aku dan Beni sudah menganggap Nora sebagai adik sendiri. Kasihan dia” kalimat Bang Karta menenangkan hati Rohim. 

“Oh ya, Bang Karta apa lama liburnya?” Tanya Rohim hati-hati, dia takut menyinggung hati lelaki di depannya. Karta, tak menjawab, matanya menerawang menatap plafon. Soto yang dipesannya, mulai dingin.

“Hhhhhhhhhhh” dia membuang nafas.

“Entahlah, Him” Rohim menagkap jelas kegelisahan di mata Karta. 

“Bang..ijinkan aku membantumu. Aku akan disini, sampai Karmila sembuh” ucap Rohim yakin, Ia ingin menemani Nora, merawat Karmila yang sakit.

Karta tersenyum kecut. Matanya menyelidik dalam ke mata Rohim. Sesuatu yang sering dilakukannya saat ingin melihat kesungguhan seseorang. Kemudian Ia menyulut rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam. Dia bimbang.

Ia sebenarnya tak suka membebani seseorang. Apalagi pada Rohim, yang baru dikenalnya. Tapi..mungkin ini adalah jalan terbaik bagi dirinya, untuk menghindar dari pertanyaan para bude yang selalu mendesaknya untuk segera kawin. sehingga membuatnya malas untuk bertemu mereka. Dan memilih untuk terus sibuk bekerja di Jakarta.

Selama ini dia menyembunyikan sesuatu.

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken