Ada Kodok Di Wajahmu Part 5





You Don’t Know Anything

“Jangan khawatir, bang, aku yang akan merawat Karmila” Karmila mengangguk, seolah mengerti apa yang dibicarakan antara Nora dan kakaknya. Anak itu berbicara meskipun tak ada yang mengerti apa yang di omongankannya. 

            Karta ragu.

            “Sudahlah, abang tak usah mikir dua kali. Perkataanku ada kadaluarsanya lho” Nora berkelakar. Di lihatnya Karta manyun. Rupanya ia sedang mikir berat. Dilema baginya. Meninggalkan Karmila yang sedang sakit, di satu sisi bathinnya bakalan tersiksa. Bila dipaksakan, ujung-ujungnya dia yang kacau, dan berbuntut pada kerjaannya. Aishhhhh, pusingggggggggg. “Okeh, dengan catatan, kamu akan menelponku langsung, bila ada apa-apa dengan Karmila” dia menyunggingkan senyum kecil pada Nora.


            “Titip mereka berdua ya , Him” Rohim membalasnya dengan dua jempol. Nora protes. “Kok, titip pada dia, sih, bang”.

            “Hush, anak kecil kagak boleh protes” Beni cekikikan dan melempar kacang pada Nora yang sedang menyuapi Karmila.

            Esok paginya Karta dan Beni kembali ke Jakarta. Sebelumnya, Karta nyekar ke makam kedua orang tuanya. Di makam ibunya, ia tergugu. meskipun ada Beni, disampingnya. Ibu, doakan aku supaya aku menjadi lelaki straight, setelah puas, berbicara dengan ibunya. Mereka pulang.

            Beni mengelus pundak Karta lembut. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Karta, lelaki yang 10 tahun dekat dengannya. Mata mereka bertatapan, mesra. Tangan mereka berpegangan, seolah enggan untuk di lepaskan. Saat tidak ada seorangpun disekitar mereka, mereka leluasa mengekspresikan hasrat yang terpendam. Melepaskan semua topeng, yang kukuh mereka pasang, supaya tak ada yang tahu bila mereka “berbeda”.

            Seringkali, Karta muak dengan hidupnya. Beberapa kali dia berusaha bunuh diri, saat remaja, ketika mengetahui dirinya lain dari temannya. Dia tak ada hasrat sama sekali dengan mahluk yang namanya wanita. Mati-matian dia berusaha mendekati perempuan yang di kenalkan, baik oleh temannya maupun ibunya. Yang khawatir dengan kesendirian Karta. Tetapi, semuanya tak ada yang berhasil.

            Hatinya sengsara, nafasnya  tersengal memikirkan apa yang harus dia lakukan, supaya tak menyinggung hati wanita yang dikencaninya. Dia capek harus berpura-pura tiap hari. Akhirnya dia memutuskan untuk menghindar dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

            “Nak, Ibu akan selalu mendoakan kamu” Karta memeluk ibunya hangat. Dia lega bisa mengeluarkan beban bathin yang selama ini menghimpitnya. Meskipun, Ia tahu, Ibunya pasti kecewa, tapi dia bisa melakukan apa, selain minta sama GUSTI ALLAH YANG MAHA ADIL, hanya DIALAH yang bisa membolak balikkan hati manusia.

            Langkahnya mulai ringan menata masa depan, Ibu dan bapaknya tak pernah mengusiknya lagi soal perjodohan. Mungkin, Ibu, sudah memberitahu bapak. Karta tak tahu.

                                                                        ***
Nora menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca membaca lembar demi lembar diary lusuh di kamarnya. Secara tak sengaja ia menemukannya teronggok  di tumpukan buku paling bawah, saat Ia membersihkan kamar Karta. Ia mulai mengerti sekarang, kenapa Bang Karta sikapnya dingin bahkan kasar terhadap Susi, salah seorang perempuan yang mengejarnya. Walaupun dia Manager salah satu Bank ternama. Namun, berbeda saat menghadapi Beni, sikapnya amat lembut terhadapnya. Nora menjadi jatuh iba.

            Tak ada seorangpun yang mau hidup berbeda. Nora menyusut airmatanya dengan ujung kaosnya. Dia jatuh iba pada Karta. Semoga Tuhan, membuka hatimu,bang. Desahnya pelan. Menutup diary Karta dengan pemahaman baru.

            Hujan turun membawa berkah. Nora menikmatinya lewat kaca jendela. Ia sangat suka hujan. Kesehatan Karmila mulai membaik, apalagi setelah melihat abangnya. Rohim telaten membacakannya cerita, menggantikan Nora.

            “Quebek …quebek ….” Terdengar suara kodok nyaring bernyanyi di luar.

“Ah …uh…ah..uh” kepala Karmila bergoyang ke kiri dan ke kanan. Kedua tangannya berusaha membuat sebuah tepukan. Rohim yang tak mengerti memanggil Nora. Ia tanggap, kemudian, Nora menyanyi pelan, tak mau membuat gaduh Rumah Sakit. Rohim tak percaya, Nora menyanyi, Ia semakin kagumnya. Hatinya berbunga-bunga, menikmati suara Nora.

            “Ada kodok rekotok rekotok”
“di pinggir kali rekotok rekotok”
“mencari makan rekotok rekotok”
“setiap hari rekotok rekotok”
 Karmila mengikuti nyanyian Nora. Anak itu riang sekali. 

“Tak kusangka, kamu pandai menyanyi,kirain hanya bisa ngorok dan ngiler” kata Rohim. Nora cuek.

Rohim berusaha mendekati Nora, tetapi sepertinya Nora kesal dengan dirinya. Gadis itu diam, tak mengajaknya bicara. Rohim tersiksa. Sayangnya, Ia begitu angkuh untuk mengakui.

Dokter Teguh, datang memeriksa Karmila. Ia dan Nora menunggu. “ Mungkin besok siang, Karmila sudah boleh pulang.” Nora sumringah mendengarnya. Ia sudah kangen dengan Bik Supi dan masakannya, juga kebunnya!

Berbeda dengan Nora, Rohim kecewa. Dia egois, hanya memikirkan kesenangannya sendiri.”Perutku,lapar. Aku mau mencari makanan. Kamu mau apa, biar ku belikan” Nora menggeleng. Badannya tak enak dari tadi siang. Dia menoleh ke Karmila yang tertidur nyenyak memeluk boneka pemberian Rohim.

Sementara Rohim membeli makanan. Nora duduk di sofa bed sendirian menonton televisi. Acaranya membosankan, bolak balik dia mengganti channel Tivi. Hujan sudah reda sejak tadi. Kepalanya semakin berat. Badannya mulai menggigil. Nora mengambil selimut dari dalam tasnya, lalu menyelimuti tubuhnya.

Rohim datang 30 menit kemudian, Ia makan pelan-pelan, takut membangunkan Nora dan Karmila yang tidur.

“Nenek …. Nenek….Nora kangen sekali dengan Nenek” Rohim terkejut mendengar igauan Nora. Ia tercekat, melihat Nora menangis sesenggukan dalam tidurnya. Nora terlihat gelisah. Rohim memegang keningnya. Panas! Rohim keluar, melupakan rasa laparnya, untuk membeli termos dan meminta air panas di kantin. Ia mengompres kening Nora. Semalaman Ia menjaga Nora dan Karmila. Badannya letih. Setelah adzan subuh, barulah demam Nora turun. Ia lega. Dan tertidur di bawah kaki Nora.

“Ah…uh…ah..uh” Nora terbangun mendengar suara Karmila. Ia menggeliat dan menyadari ada saputangan lembab di keningnya. Ia berpikir. Dan memandang Rohim yang tidur sambil duduk di bawah kakinya. Ia menggeser kursi pelan lalu mengangkat kaki Rohim diatasnya. Supaya kakinya tak pegal. Rohim terjaga.

“Ups … maaf, aaaakuuu haaanya….” Nora kikuk, Ia terbata-bata. Malu memandang Rohim.
“Makasih” sahut Rohim. Nora mengangguk dan mengambil minuman untuk Karmila.
“Nora, lebih baik kamu periksa ke dokter. Badanmu semalam panas”
“Aku sudah baikan, trimakasih sudah menjagaku semalam” pipinya bersemu merah. Ia berjanji akan bersikap baik pada Rohim









           
                       
           
           
           
           
           

Comments

Tulisan Beken