Ada Kodok Di Wajahmu Part 6




Aku Cinta Kamu

            Rohim memandangi sebuah foto perempuan di ponselnya. Sampai tak melihat Nora berada di belakangnya. Matanya melotot, menyadari ia adalah foto dirinya yang tertidur di atas tumpukan jerami, Bukan hanya kodok yang menghiasi wajahnya ada air liur pula, mengalir di sudut kiri mulutnya! Sebuah pelecehan! Rohim mengambil foto tanpa persetujuannya. Apa kata dunia bila foto itu tersebar. Jagat raya bisa heboh.

            “Please, hapus foto itu” Nora berdiri di hadapan Rohim. Kamu membuatku malu. Ucapnya lagi.

            “Kenapa harus malu, ini karya agung dan otentik tanpa manipulasi yang kamu hasilkan. Asli foto ini bagus, dan aku sangat menyukainya” jawab Rohim polos.


            “Hah!!!!!!!!!!!!!!! Apaan karya agung, bukannya itu sebuah keisengan yang kamu buat untuk mempermalukanku. Bahwasannya aku tidurnya ngiler, tak tahu tempat pula! Sahut Nora, kesel.

            “Tidur itu salah satu nikmat yang Tuhan berikan. Kenapa harus malu”
            “Tapiiiiii…aku malu, kamu menyimpan foto jelekku”
            “Permintaanmu ku tolak! Sebab aku menyukaimu apa adanya”

            Deg

Ia harus memberi tahu Nora tentang perasaaannya. Sebelum ia senewen sendiri.

            “Aku cinta kamu Nora” kata Rohim pelan. Suasana rumah sepi, Bik Supi sedang keluar bersama Karmila, ke rumah tetangga sebelah. Nora tak menjawab, ditatapya wajah Rohim lekat.

            “Jangan bercanda! Kita baru kenal” matanya menerawang, menatap sisa awan di langit.

            “Dengan apa lagi, harus ku buktikan lagi, bahwa aku benar-benar mencintaimu, Nora! Apa tidak ada sedikitpun pertanyaan dalam pikiranmu, untuk apa aku jauh-jauh mencarimu, hanya untuk mengembalikan dompet milikmu! Rohim mulai kehilangan kesabarannya. 

            “Apakah kamu pernah mencintai seseorang?” tak ada jawaban dari Nora. Jemarinya memainkan rumput jarum  di depannya.

            “Nora ……. Aku bicara denganmu” Mata bulat Nora menusuk jantungnya.Rohim tertunduk, tak kuasa melawan tatapan Nora.

            “Ia….aku mencintai seseorang” jawabnya tegas.
            “Siapa itu! Beritahu aku …!! Suara Rohim meninggi, Ia berusaha mengendalikan emosinya. Nora mematung.

            “Jawablah, Nora. Kenapa kamu suka mempermainkan diriku”
            “Nanti..kamu akan tahu sendiri, siapa lelaki yang kucinta” Rohim frustasi. 

Hari mulai senja, Nora bergegas masuk untuk menyiapkan makan malam mereka berdua. Bik Supi mungkin pulangnya agak malam.  Saat, Nora sibuk menggoreng telur. Rohim datang menghampirinya. Dengan celana blue jeans dan kemeja biru serta rambut gondrongnya yang di kucir kebelakang. Ia terlihat keren. Untuk sesaat, Nora, terpana!

            “Aku, pamit pulang, tolong sampaikan salamku pada Karmila dan Bik Supi” kata-kata Nora tersangkut di tenggorokannya. Mendadak, Ia gelisah, tak tahu harus mengucapkan apa. Ia menggigit bibirnya. Perih!

            “Apakah, kamu tidak menunggu Karmila, pulang” hatinya menjerit. Berharap supaya lelaki itu mengurungkan niatnya pulang. Ia masih ingin bersama Rohim, tertawa, saling debat atau berburu kecebong, buat di pelihara Karmila. Mereka berdua sama-sama nyaman meskipun usia mereka terpaut 10 tahun.

            Lelaki itu menggeleng, mengusap bibirnya yang nyaris kering. Ia menarik nafas berat. Nora mengerti, enggan untuk bertanya.

            Rohim melangkahkan kakinya berat. Nora mengikutinya dari belakang. Senyap! Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. Kemudian lelaki itu masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi, menyisakan sisa debu yang menerpa wajah pias Nora. Ia yang masih terpaku di pinggir jalan. Hatinya hampa. memandang bayangannya yang mulai menghilang.

            Nora berjalan gontai. Bunga-bunga mawar yang sedang mekar ditaman terlihat berbeda dimatanya. Rindu membalut hatinya. Ia menepisnya. Tidak! Cinta ini terlalu dini untuk diucapkan, dia tak ingin di butakan oleh  cinta. Tiba tiba Ia muak dengan dirinya sendiri. Yang telah mengabaikan perhatian Rohim,

            Arghhhhhhhhhhhh….. Ia sudah jatuh cinta padanya.

 “Ah..uh..ah..uh” teriakan Karmila membuyarkan lamunan Nora. Gadis itu sedera menyongsongnya, membantunya turun dari mobil, lalu menggendongnya masuk kerumah. 

Karmila, merasakan sesuatu kejanggalan. Ia tak pernah melihat Nora murung, meskipun dilanda masalah. Dan kali ini berbeda. Tangan mungilnya, menyentuh pipi Nora. “Aku, tak apa-apa, anak cantik” Nora mendudukkannya di kursi kesayangannya, dekat jendela. Di sana Ia bisa melihat ke  jalan dengan leluasa.

Bruk,

Ntah, bagaimana caranya,kursi terguling, bersama dengan Karmila. Dengan cepat, Ia menyeret tubuhnya ke kamar tempat Rohim menginap. Dengan berat tubuhnya, anak itu mendorong pintu, pintu itu terbuka. Matanya mengitari tiap sudut, mencari Rohim. Karmila dan Bik Supi datang menghampirinya. Ada gurat kesedihan di wajah Nora. “ Kang Rohim, sudah pergi. Dia titip salam padamu” bujuknya, membelai kepala Karmila. Anak itu, murung, matanya kecewa. 

***
“Makanlah, Nora” pinta Bik Supi. Ia khawatir, Nora sakit. Seminggu setelah kepergian Rohim, gadis itu menjadi pendiam. Rumah menjadi sepi. 

Hari-harinya banyak dihabiskan bersama Karmila, berbicara dengan kecebong yang sudah berubah menjadi katak kecil, di aquriaum. Hal itu menghibur dirinya. Meskipun katak-katak itu tak pernah menjawab celotehannya. Hanya tatapan lucu mereka yang mengingatkannya pada Rohim.  Ia dan Karmila, berencana melepaskan mereka hari ini di kebun, di samping kamar mereka.

“Ayo, pergilah katak. Segeralah besar! Hati..hati ya ….!” Tangannya melambai pada katak yang berlari dengan sukacita. Ada yang  masih ragu, tetapi banyak juga yang langsung melompat, dan lenyap di balik rerumputan. Karmila tertawa terkekeh melihat mereka.

“Ah..uh…ah..uh” Suara Karmila riang. Ia melompat girang diatas kursi rodanya, menerbangkan anak rambut di wajahnya. Nora gemas, Ia mencium pipi anak itu, sayang. “Ada apa, cantik?” tanyanya penasaran. 

“Halo, Karmila!” Jantung Nora terhenti, Ia seperti mendengar suara Rohim. Ah, mungkin mimpi, gumannya pelan. Dan Ia salah. Rohim, benar – benar hadir di hadapannya. Ia sedang menggendong Karmila, mengayunkan anak itu ke atas. Mereka tertawa terbahak-bahak. Karmila menyukainya. Rohim melontarkannya lagi ketas, tangan Karmila membentang. Seakan Ia burung pipit yang sedang terbang. Rohim jadi kelelahan. Keringatnya meleleh di keningnya.

Bik Supi datang, membawakan mereka es sirup sirsak, buatan Nora. Rohim meminumnya tandas. “ Nak Rohim, tolong bujuk Nora, makan” Rohim mengangguk. Ia menoleh ke Nora, sekilas. Gadis itu, lebih kurus sekarang. Bik Supi lalu membawa Karmila ke dalam, membiarkan Rohim dan Nora berdua.

“Sshhhhhhhh .. di tinggal seminggu saja, sudah kurus” bisik Rohim, hidungnya menyentuh rambut Nora, mencium wangi lavender. “Aku, kangen kamu, Nora!”







           


           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken