Ada Kodok Di Wajahmu Part 7




Lagu Buat Nora
 
Kuingin manjakan dirimu
Kuingin membelai rambutmu
Satu sentuhan yang paling mesra
Mengantar tidurmu. Mimpi tentang kita

            Membaca surat dari sang kekasih, hati Nora berbunga-bunga. Ia tersenyum menatap cermin, membelai pipinya. Ada jerawat batu disana. Tapi hey …….. kenapa sepertinya, Ia sangat mengenal kata-kata didalam surat itu. Ups! Ya! Dia nggak salah.


            “Kang, kutunggu di depan” Ia menelpon Rohim. Rumah yang Ia sewa berjarak 20 meter, dari tempat Nora tinggal. Karena Ia tak mau berpacaran jarak jauh dengan Nora. 

            Rohim, membuat keputusan besar. Pindah, hanya untuk mengejar wanita yang Ia cintai. Dengan harapan hubungan mereka langgeng. Padahal, Ia merupakan anak lelaki satu-satunya, Haji Kirun, juragan bawang di Brebes. Sehingga membuat Ibunda Rohim jatuh sakit, memikirkan anak kesayangannya itu.

            “Kerja disini saja, bantu Bapakmu. Apalagi Ibu nggak bisa jauh dari kamu” bujuk Ibunda Rohim. Ia melamun. Hatinya bimbang. Ibu adalah wanita yang dikaguminya, dan Nora, adalah gadis yang amat di cintainya. Ia mengerti kesedihan ibunya namun Ia tak bisa membayangkan hidup berjauhan dengan Nora.Dunianya akan suram

            “Maafkan, Rohim, Bu. Rohim ingin mandiri” Ia memalingkan mukanya. Ibunda Rohim, pasrah. Ia tahu watak anaknya keras, mirip seperti bapaknya. Bila ada kemauan, tak ada satu orangpun yang bisa membelokkan keinginannya. Rohim melirik bapaknya. Lelaki tua itu, mengusap –usap janggutnya,pelan. Ia berdehem. “Baiklah, Bapak setuju dengan keputusanmu, dengan catatan, bila setahun kamu tidak berhasil.Kamu harus pulang dan bekerja membantu usaha bapak!” Rohim menggangguk, setuju.

            Nora berdiri di teras. Ia menyandarkan kepalanya di tiang, memandang rembulan yang bersinar indah.Sinarnya menyelusup ke tiap celah kelopak bunga mawar merah yang sedang mekar di taman. Angin malam bertiup, menerbangkan wangi bunga mawar, menusuk kuat penciuman Nora. Ia menghirupnya dengan perasaan bahagia.

            “Ada apa,cinta” sapa Rohim mengejutkan Nora. Ia tak tahu berapa lama, lelaki itu berdiri dibelakangnya. Nora menyambutnya dengan tatapan mesra. Dia tersenyum, memamerkan gigi gingsulnya. 

“Nih”Nora memberikan surat yang diterimanya sore tadi.
“Kenapa, sepertinya ada yang aneh?” tanyanya cemas. Nora menggeleng..

“Aku menerimamu apa adanya, Kang. Jadi tak usahlah sok puitis, pake jiplak lagu segala, hanya untuk membuatku senang” Kata Nora, menyindir Rohim. Kata-kata yang tertuang dalam surat Rohim merupakan lirik lagu, milik Robin Panjaitan. Ia terkekeh memandang kekasihnya, penuh cinta.

“ Tahu nggak, tiap dengerin lagu itu, wajahmu selalu terbayang di pelupuk mata”
“Hahhahahaha, masak sih, Nora nggak percaya, bukannya kodok yang kebayang” Ia sebel,Rohim masih menyimpan foto saat ia tertidur.

“Sumpah, beneran!” sahutnya lantang. “Kalau tak percaya, tanya saja, bunga dan rembulan,atau kamu boleh dadaku dadaku”

“Alamak!!!!! Gombalnya nggak ketulungan. Ih…emangnya enak kalau seandainya bunga dan rembulan bisa bicara. Serem, tahu” Nora pura-pura cemberut. Sedangkan Rohim di sampingnya cekikikan, ngebayangin betapa repotnya dunia mendiamkan kecerewetan bunga dan bulan. 

“Cinta,besok kita makan di luar, yuk. Kamu boleh mengajak Karmila dan Bik Supi, aku sudah lama tak mengajak mereka keluar” gadis itu, memberikan dua jempolnya sebagai jawaban. Ia bersyukur memiliki kekasih pengertian, tidak egois,ngemong dan menerima dia apa adanya. Karena itulah Ia jatuh hati pada Rohim. 

Sebelum pergi, Rohim mengecup kening Nora, sekali lagi Ia memeluk tubuh rampingnya, dan enggan untuk melepaskan. Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun kerongkongannya tercekat. Tetaplah bersamaku,cinta. Hanya kamu,yang membuatku mampu mengarungi masalah hidup. Ucapnya dalam hati.

Mata Nora, terpejam. Malam yang indah.

 Nenek selalu mengingatkannya supaya berhati-hati menerima cinta laki-laki. Apalagi dia melihat bibi Sofia berkali-kali menderita karena cinta. Sehingga membuat Nora takut tiap teman lelakinya mendekati dirinya. Ia tak mau jatuh cinta! Ia tak mau sakit hati.kecewa, apalagi cemburu, hanya gara-gara cinta. Sayangnya Ia harus menjilat ludahnya sendiri. Rohim dengan gayanya sendiri, telah merobohkan benteng yang Nora buat.

Ia dengan sadar, menerima Rohim sebagai kekasih hatinya. Tanpa berharap muluk, hubungan mereka akan berlanjut kemana. Takutnya Ia kecewa. Meskipun Ia tak menampik, kadang Ia bermimpi menjadi istri Kang Rohim dan hidup bahagia bersamanya.

Nora tak mempersoalkan usia mereka yang terpaut cukup jauh. Sebab, selama ini mereka berdua sama-sama nyaman. Hanya saja. Dalam hatinya ada kekhawatiran, mungkinkah hubungan mereka akan terus langgeng? Mungkinkah keluarganya akan menerimanya seperti Kang Rohim menerima dirinya.

Bibit, Bobot dan Bebet sering membuat Nora putus asa. Tiba-tiba dia kangen memeluk neneknya dan membaui aroma balsam serta minyak kemiri di rambunya. Nenek seperti peri yang selalu membuat kedamaian di hati Nora.

 Anak siapakah dia sebenarnya? Pertanyaan itu menghantuinya.

Hhhhhhhhhhhhhhhhh, Nora mendesah panjang. Tangannya memilin rambutnya yang sengaja Ia urai.

Disampingnya, Karmila menggeliat. Nora tak berkedip memandang wajah polos momongannya. Anak ini selalu tersenyum, menyapa tatapan mata orang-orang yang melihat aneh kearahnya. Ia tak pernah marah di ledek. Kenapa Ia tak belajar dari ketegaran Karmila? Hatinya tersentak!

Ia harus menerima keadaan dirinya.





Comments

Post a Comment

Tulisan Beken