Ada Kodok Di Wajahmu Part 8



Telepon Tengah Malam
            “Nenek ….nenek” jerit Nora, membelah malam. Dia bermimpi bertemu dengan neneknya. Neneknya terlihat cantik. Aroma wangi menyelubungi tubuh nenek. Mereka berpelukan erat. “Nora, jaga dirimu baik-baik. Nenek akan mencintaimu selalu” nenek melepaskan pelukannya dan pergi. Nora terisak. Hatinya tiba-tiba tak enak.

            Tok..tok tok…

“Nora” suara Bik Supi, menghentikan tangisnya. Ia menyusut airmatanya. Dia terkejut ketika mendapati kekasihnya bersama Bik Supi berdiri depan pintunya. “Ada apa,ini” tanyanya galau. Perasaannya makin tak enak. Dihalaunya semua pikiran negative yang ada di pikirannya.


            “Cinta, kita harus ke Jakarta. Nenek menunggumu”
            “Benarkah, apa aku sudah boleh bertemu dengan nenek” ucapnya terbata-bata. Hatinya riang membayangkan bisa bertemu kembali dengan nenek yang amat di rindukannya. 

Bik Supi membantunya menyiapkan semua. Karmila terbangun,matanya mengerjap melihat Nora.” Sayang, kakak mau ke Jakarta selama beberapa hari. Karmila bersama Bik Supi dulu ya, dan ingat jangan lupa makan sama minum vitamin,Oke!! Dia mencium kening karmila. Mulutnya, mengoceh . “Ah …uh …ah ..uh” 

“Bik Supi, tolong jaga Karmila. Nora nggak lama di Jakarta” Mata wanita setengah baya itu mengembun. Karta, majikannya tadi menelponnya. Setelah gagal menghubungi Nora. “Tolong jangan beritahu,Nora, Bik”

***
Perjalanan ke Jakarta terasa lamban. Dia tak sabar ingin bertemu dengan neneknya tercinta. “Kang, kita mampir dulu ke toko buah, aku ingin membelikan anggur merah buat nenek.” Saat melewati toko buah. Nora ingat, neneknya suka sekali dengan anggur merah waktu di beri oleh-oleh Wak Dullah. Sehingga tiap gajian, Ia sengaja membeli anggur merah. Mereka memakannya bersama-sama.

“Sebaiknya, kita jangan mampir dulu, sebab,nenek ingin segera melihatmu” ucapnya getir.

“Oh” sahut Nora kecewa. Ia enggan berdebat. .Apa susahnya sih berhenti sebentar. Ia tak berkata-kata lagi. Suasana hening. Nora heran, Rohim juga diam. Seperti ada yang dia pikirkan. Dia tak ingin mengusik, dan memilih mendengarkan lagu milik Justin Bieber yang di putar Rohim.

Rohim menghentikan mobil Avanza hitam miliknya. Di depan Panti Jompo “Cinta, kita sudah sampai” lelaki itu membantu membuka sabuk pengaman Nora.

“Kita, dimana nih” tanyanya bingung. Ia tak menjawab, dan menggengam erat jemari Nora. 

“Yuk”  ajaknya. Membuat Nora semakin keheranan. Ia mengikuti Rohim, melewati lorong-lorong. Nora tak tahan.Dia berhenti dan melepaskan genggaman Rohim.

“Jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi, kita di sini menengok siapa?” tanyanya gusar. Ia merasa di permainkan oleh Rohim.

“Cinta, kamu akan tahu nanti”

“Kang, aku serius. Kamu bilang, nenek ingin segera melihatku, tapi kenapa, kamu bawa aku kesini? Atau…. Jangan…jangan …nenek tinggal di sini?” Rohim mengangguk pelan. Ia membuang muka, tak sanggup menatap mata Nora.

Nora menyeka airmatanya. Hatinya teramat sedih mengetahui neneknya tinggal di sebuah panti jompo. Ah…andai, dia tahu dari awal. Tanpa menoleh pada Rohim. Nora berlari menyusuri lorong panti jompo, ia mengandalkan instingnya, menemukan kamar yang di tempati nenek. Rohim mengikutinya, cemas.Tiba- tiba semilir angina dingin berhembus, membawa aroma nenek. Langkah mereka berdua terhenti. Beni dan Karta terduduk lesu di depan sebuah kamar.

“Bang” suara Nora tertahan. Mereka berdua menoleh. Beni dan Rohim menegang menatap Bang Karta. ”Tabahkan hatimu, Nora. Nenek sudah pergi, 15 menit yang lalu” 

Byar. Airmatanya ambrol seketika, melihat wajah kurus terbujur kaku di sebuah ranjang sempit. Ia memeluk tubuh neneknya yang dingin. “Nek, Nora disini. Lihat nek, Nora membawa sesuatu buat nenek. Ayo bangun Nek” Ia memperlihatkan sebuah kalung emas dengan liontin initial namanya dan neneknya. Berbulan-bulan, Ia menyisihkan uang gajian yang ia peroleh.Nora ingin melihat neneknya senang, setelah bibi Sofia menjual perhiasan nenek diam-diam. Sayangnya, Impian Nora luruh seperti daun tersapu angin. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Tangisnya terdengar menyayat hati.

“Cinta, ikhlaskanlah, nenek. Biarkan dia pergi dengan tenang” Rohim merengkuh pundak kekasihnya, membawanya ke dalam dekapannya, dan membiarkan Nora menangis.
“Aku tak punya siapa-siapa lagi, Kang” Matanya memandang Rohim tak berdaya.

“Shhhhh, Jangan takut, aku selalu bersamamu, Cinta! Tangannya menyusut airmata di pipi Nora. Bang Karta dan Beni melihat mereka terharu.
***
Nenek di makamkan hari itu juga. Sofia datang sebentar dan menghilang sebelum nenek di makamkan. Di TPU didekat tempat tinggal Bang Karta. Nora tak sempat bertemu dengannya.

Kesedihan masih menggelayuti Nora. Dan Rohim setia menemaninya.Ia berusaha menggodanya tiap waktu supaya Nora tersenyum.
“Tolong, biarkan aku sendiri, Kang” ucapnya lirih.


           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken