Ada Kodok di Wajahmu Part 9




Kejutan
 
            Seminggu setelah kematian nenek, Nora sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Hari-harinya lumayan sibuk, menemani Karmila belajar, merawat kebun sayur mayur. Dan sibuk bersama Bik Supi di dapur, membuat aneka nugget dari sayuran dan ikan lele.Yang mereka titipkan di warung-warung.

Wajahnya tak lagi murung dan meratapi kepergian sang nenek. “Aku menangis menggerungpun, nenek nggak bakalan hidup lagi, Kang” katanya, dengan suara tabah. Ia bersama Rohim duduk di teras, menikmati manisnya secangkir teh dan ubi rebus hasil panen tadi pagi. Karmila di sebelahnya, sedang asyik menggambar kupu-kupu di taman. Nora sesekali mengawasi, hatinya membuncah, melihat hasil karya Karmila yang menakjubkan. Ia tak menyangka Karmila punya bakat terpendam. Ia punya rencana. 

Rohim mengeluarkan dua bingkisan bersampul merah muda, dengan pita mawar merah diatasnya, cantik! Dia meletakkannya di atas meja.

            “Perasaan, tidak ada yang ulang tahun hari ini, Kang. Hmmmmm pasti ini buatku” kelakarnya,manja, mendekap kedua bungkusan itu erat. Rohim tergelak, melihat ada noda hitam di hidung Nora. Tanpa malu- malu Ia menghapusnya dengan tangannya.

            “Idih, tangannya kasar” rajuk Nora. Mulutnya manyun.
            “Tahu nggak, dengan tangan ini, aku bisa merubah tanah menjadi emas. Coba, aku lihat milikmu” dia tertawa. Nora melihatnya kesal.

“Ia..ia percaya deh” secepat kilat Nora menyembunyikan kedua tangannya di ballik saku celana. Tangannya juga kasar. Gimana nggak, saban hari berkutat dengan tanah dan rumput. Ia jadi kepikiran untuk membeli sarung tangan.

            “Ayo….mana” Nora menggeleng. Ia malu, Rohim melihat tangan kasarnya.
            “Ya…sudah, hadiahnya batal kuberikan” Rohim pura-pura mengancamnya.

            “Yeeee…siapa juga yang minta” jawab Nora sewot. Tangannya mengambil ubi dan memakannya dengan gigitan besar.

            “Okeh..okeh deh, nona cantik, jangan ngambek. Bisa tersiksa aku nanti.” Rohim memberikan bungkusan itu pada Nora dan Karmila. “Bukalah”. Rohim menunggu. Hatinya berdebar kencang melihat mata indah, Nora. Andai dia tahu, betapa cintanya sangat besar pada gadis itu.

            Nora memang special, meskipun umurnya terpaut cukup jauh dengannya. Tapi Ia bijaksana. Otaknya cerdas dan asyik di ajak diskusi, yang paling menyenangkan Ia tak sungkan untuk makan apa saja tanpa khawatir dengan berat badannya. Rohim senyum sendirian. Suara panggilan Karmila membuyarkan lamunannya. Anak itu menyodorkan buku gambarnya. Rohim terkesima, mulutnya menganga. Dia terhipnotis dengan gambar kupu-kupu yang dibuat Karmila.”Anak pintar!” pujinya mengelus rambut panjang Karmila yang di kucir dua.
           
***

Mata Nora berbinar, tak percaya dengan hadiah yang diberikan Rohim, padanya. Di dalamnya ada buku buku yang Ia sukai, dan sesuatu yang sebenarnya Ia idam-idamkan. Sejenak, Ia tampak ragu. Perasaannya berkecamuk antara mau menerima dan tidak.

            “Kang, maaf, aku tak bisa menerima ini” katanya,mengejutkan Rohim. Ia mengembalikan, laptop dan kotak beludru berisi perhiasan didalamnya. Nora takut ada udang di balik batu, seperti bibi Sofia dengan lelaki yang mengencaninya. Hih, tak usah ya. Ia bergidik ngeri. 

Sebenarnya, Rohim tahu, Nora bukan tipe perempuan matrealistis, yang senang di beri apa saja oleh lelaki.     Tapi, Ia ingin memberi kejutan padanya. “Eitsss, kuharap tak ada salah paham dengan pemberianku,ini, Sayang. Aku memberimu semua ini, nggak gratis lho” Ia menggeser kursinya mendekat Ke Nora.

            “Oh ya, terus ….”tanyanya,selidik. Ia anti dengan lelaki yang sengaja memperdaya perempuan dengan iming-iming harta.   
        
            “Aku butuh seseorang sepertimu, untuk membantuku. Yah, setidaknya ada orang yang bisa menerima order dan mencatat cash flow. Biar keuangan bisnis sayur organik yang sedang ia rintis jelas. Jadi dengan laptop ini, ku harap pekerjaanmu bisa maksimal” Ide itu muncul tiba-tiba di benak Rohim. Dengan begitu, Ia Berharap, Nora mau menerima pemberiannya tanpa perasaan tak enak. 

            “Terus ….”cecarnya lagi. Ia merapikan anak poninya, yang menutupi sebagian penglihatannya.

            “Hmmmm…..sedangkan perhiasannya. Itu hadiah buatmu, sebagai pengganti kalung nenek, yang hilang tempo hari. Simpanlah, Cinta. Bila kamu tak mau memakainya.” Tatapannya lembut menatap Nora. Nora menunduk, resah.

            Kalung yang sengaja di beli Nora untuk nenek, hilang sesaat, ketika dia sibuk mempersiapkan pemakaman nenek. Yang ia ingat, ia menyimpannya di dalam tasnya didalam lipatan kerudung nenek, untuk ia simpan, sebagai kenang-kenangan.

            “Baiklah, kalau Akang, memaksa. Dan, tolong, jangan beri aku barang-barang, mahal lagi. Sebab, aku tak ingin cintaku akan berubah menjadi modus, nantinya.” Ia mengedipkan matanya pada Rohim. Rohim setuju.

***
            Suasana sore yang hangat itu, tiba-tiba di kejutkan oleh kedatangan seorang perempuan dengan rambut blonde dengan pakaian trendi. Ia diantar oleh, seorang tukang ojek. Kecantikan dan gaya penampilannya, membuat mata orang-orang kampung, tak segan memandangnya berlama-lama.

            “Bibi Soofiiiiiaaaaa ……”suara Nora, bergetar. Tubuhnya seakan ringan, mengetahui, siapa perempuan cantik itu. Ia tak menyangka, bibinya dating mengunjunginya. Ada perasaan tak nyaman dihatinya.

Bang Karta, 3 hari yang lalu memberitahunya, bila Bbi Sofia datang ke tempat kerjanya, dan memaksanya untuk memberi tahu alamat rumahnya di desa, dimana Nora berada selama ini.
“Nora, bayarin sono, tukang ojeknya. Uang bibi habis, tadi buat perjalanan” Dia langsung duduk, di selonjorkannya kakinya di atas kursi dan memakan ubi yang terhidang diatas meja. Nora, mengambil napas dalam-dalam. Dan masuk untuk mengambil dompet. Hatinya ngilu. Uang di dompetnya tinggal seratus ribu. Rohim, mau membayarnya, namun di cegah oleh Nora. 

“Tante, tolong turunkan kakinya, nggak enak di lihat tetangga” Rohim mengingatkan. Ia mulai kesal, dengan gaya Sofia yang berlagak bos.

“Nora, ambilkan air” perintahnya.

Pletak

Sebuah pensil, mengenai pipi Bibi Sofia. Ia menoleh ke arah Karmila. Wajah anak itu memerah menahan marah. Tanda tak suka. “Ah..uh..ah..uh” teriaknya berulangkali. Ia menjadi tak tenang, dan melempar semua yang ada di depannya.

“Heh, ah..uh..ah uh…ngomong apa,kamu!!” katanya kasar.

Rohim menenangkan Karmila, dan membawanya masuk ke dalam. Ia memberi isyarat pada Bik Supi, supaya menemani Karmila.


           
           

Comments

Post a Comment

Tulisan Beken